Pemilihan umum di Amerika Serikat pada Selasa lalu memang tidak memilih presiden, namun sejumlah kontestasi lokal tetap menjadi sorotan. Salah satunya terjadi di New York City, tempat Zohran Mamdani dinyatakan memenangkan pemilihan wali kota, kembali mengungguli mantan Gubernur Andrew Cuomo untuk kedua kalinya.
Kemenangan politisi yang kini memimpin kota terbesar di AS itu menarik perhatian publik bukan hanya karena rival yang ia taklukkan, tetapi juga karena sebuah kisah lama yang kembali mencuat, kisah yang melibatkan Mamdani kecil, daftar hadiah liburan, dan game SimCity 3000.
Jejak SimCity 3000 dalam Masa Kecil Mamdani
Pada awal tahun ini, ketika Pemilihan Pendahuluan Partai Demokrat di New York masih berlangsung, sebuah unggahan media sosial yang diulas Screen Rant kembali memperbincangkan artikel New York Magazine tahun 2002. Dalam laporan tersebut, sang jurnalis mewawancarai sekelompok anak yang tinggal di NYC, termasuk Mamdani yang kala itu berusia 11 tahun. Ketika ditanya soal keinginan mereka untuk liburan musim dingin, Mamdani menjawab: “Books, FIFA 2003, and SimCity 3000 computer games.”
Sekilas, daftar itu tak berbeda dengan permintaan anak-anak pada awal 2000-an, yakni buku dan video game. Namun detail mengenai SimCity 3000 menjadi menarik sekarang ketika Mamdani justru benar-benar memimpin kota metropolitan raksasa di dunia nyata.
Simulasi Kota dan Realitas Politik
Tentu saja, tidak ada hubungan langsung antara memainkan SimCity dan kemampuan memimpin kota sungguhan. SimCity 3000, yang dirilis pada 1999 (dengan edisi Unlimited pada 2000), memberi pemain kekuasaan absolut yang tidak mungkin dimiliki satu orang pun dalam kehidupan nyata. Jutaan orang di Amerika pernah memainkan game tersebut, namun hanya sedikit yang kemudian berkecimpung dalam tata kelola kota.
Kendati demikian, fakta bahwa Mamdani secara spesifik pernah menginginkan game itu tetap memantik diskusi: apakah game pembangunan kota pernah memengaruhi cara berpikir sebagian anak di generasinya?
Nilai Pendidikan di Balik Game Konstruksi Kota
Pertanyaan itu mungkin tak punya jawaban pasti. Bahkan, tidak ada konfirmasi apakah Mamdani benar-benar memainkan SimCity 3000 setelah mendapatkannya. Meski begitu, diskusi tersebut menyoroti aspek yang sering terlupakan dari game: nilai edukatifnya.
Game seperti SimCity atau Cities: Skylines menghadirkan serangkaian keputusan struktural, dari perencanaan tata ruang hingga pengelolaan anggaran, yang mengajak pemain memahami kompleksitas pengelolaan kota. Meski bukan formula untuk mencetak perencana kota atau pemimpin politik, game tersebut dapat memperkenalkan konsep dasar tentang tanggung jawab publik dan manajemen wilayah.
Dalam konteks Mamdani, kisah masa kecil itu setidaknya menjadi catatan kecil yang menarik di balik kemenangan politiknya: seorang anak yang dulu tertarik membangun kota virtual kini memegang mandat untuk mengelola kota yang sebenarnya.

