Final Fantasy X Features Games Retrospective

Final Fantasy X: Kisah Tentang Hipokritas Institusi Agama

Share:

Selang setahun setelah perilisan PS2, penggemar RPG bersorak sorai lantaran Final Fantasy X, yang merupakan sebagai instalasi game RPG jagoan Squaresoft untuk konsol generasi keenam, rilis. Pemberitaan pra-rilisnya banyak menghadirkan beragam ekspektasi dan harapan bagi penggemar fanatik Final Fantasy. Pasalnya, setelah Final Fantasy IX tampil dengan visual chibi, seri pertama untuk PS2 ini kembali dengan karakter dengan desain realistis seperti konsep yang diusung di Final Fantasy VIII. 

Desain Tidus sebagai karakter utamanya begitu nyentrik. Dalam beberapa majalah, ia tampil ceria dan selalu tersenyum, sangat berbeda dengan Cloud dan juga Squall. Warna kuning yang menjadi warna pakaiannya juga menandakan ia adalah karakter yang lebih ekstrover dan ceria. Ditambah lagi, styling-nya yang nyeleneh juga cukup menarik perhatian.

Final Fantasy X Tidus & Yuna
Source: Steam Community

Bagi kami pun, Final Fantasy X juga salah satu seri yang paling berkesan. Secara gameplay cukup segar, didukung dengan visual yang revolusioner di eranya. Grafis yang ditampilkan begitu cantik dan mampu melampaui zamannya. Dari kesan yang kita kenal selama ini, bagaimana Final Fantasy X begitu berkesan? Bagaimana tim di belakangnya bisa membuat salah satu karya terbaik JRPG? 

Latar Belakang Pembuatan Final Fantasy X: Sebuah Lompatan Besar di Industri Game

Meski dirilis di tahun 2001, inisiasi pengembangan Final Fantasy X ini sudah dimulai pada tahun 1999, bertepatan dengan pasca perilisan Final Fantasy VIII dan sebelum Final Fantasy IX bisa dipasarkan. Melihat hasilnya yang begitu megah, game ini tentunya diproduksi dengan anggaran yang sangat besar. Dan, semua yang kita spekulasikan itu memang benar adanya. Faktanya, Final Fantasy X menelan biaya pengembangan lebih dari 4 miliar Yen atau $32 juta USD berdasarkan nilai tukar pada masa itu. Untuk mengerjakan game Final Fantasy pertama di PlayStation 2 ini ditangani oleh tenaga kerja yang melampaui 100 staf inti dengan waktu pengerjaan kurang lebih dua tahun. 

Yang menarik dari proses pengembangan ini, sosok yang biasanya menjadi figur penentu proyek Final Fantasy, akhirnya menggeserkan bangku kepemimpinannya dan mendelegasikan otoritas eksekutifnya. Di kala itu, Sakaguchi sedang berjibaku dengan satu proyek ambisius film layar lebar, Final Fantasy: The Spirits Within.

Final Fantasy X Final Fantasy The Spirits Within
Source: Slant Magazine

Maka dari itu, Yoshinori Kitase, sang director dan produser yang mengemban Final Fantasy X. Jangan salah, Kitase bukan orang baru di Squaresoft. Ia adalah sosok yang memiliki reputasi atas proyek besar sebagai arsitek narasi dari Final Fantasy VI, Final Fantasy VII, dan Final Fantasy VIII. 

Final Fantasy X Yoshinori Kitase
Source: Game Informer

Sebagai navigator, Kitase juga mendistribusikan beberapa tugas penting sesuai dengan spesialisasinya, di antaranya: Motomu Toriyama (penyutradaraan cutscene dan pengawasan cerita), Takayoshi Nakazato (topografi peta dan integrasi lingkungan), Toshiro Tsuchida (desainer combat system), dan Kazushige Nojima (perancang narasi cerita). 

Tahun 2000-an awal, teknologi daring sedang gencar-gencarnya difungsikan oleh berbagai lini. Internet semakin berkembang, dan game online juga sedang naik daun. Tim pengembang Final Fantasy X awalnya ingin mengintegrasikan fungsi online dan meninggalkan konsep random encounters yang selama ini dikenal oleh penggemar Final Fantasy. Tadinya, mereka ingin musuh-musuh yang dihadapi bisa kita lihat. Kita pun bisa menghindari pertarungan dengan monster secara langsung. Sayangnya, ambisi tersebut terhalang oleh tembok yang cukup tebal, yakni keterbatasan teknologi PS2. Meski teknologi PS2 di masa itu begitu canggih, tim tidak mau mengorbankan kualitas visual dan menurunkan performa. Alhasil, konsep visible encounters dan pemanfaatan ruang daring direalisasikan di Final Fantasy XI dan XII.

Perkembangan Teknologi dan Revolusi Visual

Sebagai gamers yang menyaksikan peralihan dari konsol 32-bit ke 128-bit, kami sangat takjub pertama kali melihat graphics yang dipresentasikan oleh Final Fantasy X. Sambutan intro yang memperlihatkan semua karakter Final Fantasy yang sedang berkemah di reruntuhan tampil dengan detail yang menakjubkan. Meski rambut karakter masih terlihat kaku ketika berada pada posisi in-game cutscene, kami tetap menganggap visualnya begitu megah. 

Kemampuan yang dimiliki oleh PlayStation 2 digunakan secara maksimal oleh Squaresoft di tahun-tahun awal konsol generasi keenam miliki Sony ini. Kini, porsi latar yang menggunakan teknik pre-rendered sudah sangat diperkecil persentasenya. Berkat tenaga yang dimiliki hardware PS2, dunia Final Fantasy X didominasi dengan visual real-time 3D secara penuh. Hal ini membuat pergerakan sudut kamera lebih dinamis dan menciptakan ilusi ruang yang lebih nyata.

Prosesor inti PS2 yang dinamakan Emotion Engine dan juga chip khusus bernama Graphics Synthesizer yang beroperasi pada ~147.46 MHz dan ditanamkannya memori eDRAM 4 MB mampu menyeimbangkan antara kualitas graphics dan juga performa yang dimiliki PS2. Tim Squaresoft bisa dengan leluasa merender tekstur dengan detail tinggi untuk pakaian, kulit, bayangan, serta efek partikel cahaya dan air. 

Source: Reddit

Animasi Wajah dan Sulih Suara

Setelah 1 dekade lebih, akhirnya Final Fantasy memiliki karakter yang tidak bisu lagi. Ya, Final Fantasy X adalah entri pertama PS2 sekaligus yang memiliki sulih suara karakternya. Tim penggarap game ini tidak ingin game ini biasa saja. Memang beberapa game RPG di PS2 sudah dilengkapi dengan voice acting. Namun, kebanyakan karakternya belum bisa begitu menghidupi suasana. Di seri inilah teknologi motion capture digunakan untuk menangkap pergerakan aktor sungguhan dan menerjemahkannya ke dalam model 3D. 

Jasa Emotion Engine kembali harus kita ingat kembali, lantaran tim Squaresoft bisa dengan maksimal memaksimalkan ekspresi para karakter. Wajah karakter kini tidak hanya sekadar naik turun. Bahkan bagi kami versi PS2 memiliki karakter yang lebih ekspresif dibandingkan versi HD Remastered-nya. 

Summon dengan Transisi yang Lebih Fluid 

Summon adalah salah satu aspek yang paling penting di Final Fantasy. Pemanfaatan teknologi hardware yang dimiliki PS2 ini juga dipikirkan dalam hal ini. Di Final Fantasy X, makhluk panggilan ini disebut sebagai Aeon. Fungsi Aeon di sini dielevasi agar menjadi sosok yang juga sepenuhnya playable. Jadi, di sini Aeon bisa menyerang layaknya karakter biasa. Dalam Final Fantasy X, peran summoner diemban oleh Yuna seorang. 

Final Fantasy X Summon
Source: RPG Fan

Tak Ada Lagi Konsep World Map

Menengok kembali rekam jejaknya, arsitektur spasial Final Fantasy X menjadi sebuah eksperimen radikal yang memantik polarisasi. Mahakarya ini secara sadar menghilangkan keleluasaan pemain lewat desain yang cenderung linier. FFX dengan sengaja mematikan tradisi World Map yang memungkinkan kita untuk mengeksplorasi dunia di dalamnya.Meski cenderung linier, berkat alur yang kohesif, kita seakan-akan dibuat lupa akan fitur yang selalu ada di seri Final Fantasy ini. 

Gameplay yang Berbeda dengan Pendahulunya

Conditional Turn-Based/Count Time Battle (CTB): Meninggalkan Warisan Active Time Battle

Dari permukaan Final Fantasy X tampak seperti game JRPG turn-based pada umumnya, bahkan mengikuti pendahulunya. Namun, jika kita menyelami lagi combat system-nya, banyak hal yang berbeda yang ditawarkan oleh game JRPG dengan karakter utama Tidus ini. Alih-alih mewariskan format Active Time Battle (ATB), Final Fantasy X menerapkan sistem combat yang lebih statis bernama Conditional Turn-Based Battle. Dalam format battle system ini, tak ada lagi elemen ‘real-time’ yang menuntut kita untuk terburu-buru menyusun strategi di kala meteran ATB sedang mengisi. 

Final Fantasy X Battle System
Source: RPG Fan

Dalam battle Final Fantasy X, kita bisa dengan lebih cermat melakukan strategi untuk menumbangkan musuh yang jauh lebih kuat. Memang, secara konsep combat system ini mirip dengan mechanics di era 8-bit. Namun, sistem ini memiliki Act List yang merupakan indikator yang terpampang di kanan layar, di mana bertujuan untuk ‘meramalkan’ secara presisi urutan giliran. 

Satu hal lagi yang menarik dari sistem CTB ini adalah mengintegrasikan mechanics pergantian karakter secara real-time. Kita tak perlu menyelesaikan battle untuk mengganti karakter yang akan maju berhadapan dengan musuh. Bila dibayangkan, konsep mechanics ini mirip pertandingan basket yang dapat menukar karakter yang bisa kita atur sesuai dengan strategi yang kita inginkan.

Meninggalkan Sistem Leveling Up Tradisional

Tradisi lain yang ditinggalkan Final Fantasy X adalah sistem leveling up-nya. Di seri-seri sebelumnya, perolehan EXP akan secara linier bermuara pada Level Up otomatis. Final Fantasy X menggantinya dengan sistem yang bernama Sphere Grid. Alih-alih bertumbuh seiring dengan banyaknya membunuh monster, karakter yang kita mainkan kini perlu memanen Ability Points secara kumulatif setiap kali mengambil partisipasi aktif di dalam arena battle.

Final Fantasy X Sphere Grid System
Source: TheGamer

Fungsi AP ini memungkinan kita untuk mengarahkan lingkaran dari grid satu ke grid lainnya. Jika, lingkaran tersebut menyentuh di atas node yang menyediakan parameter Strength +4 atau Cure, kalian bisa menaikkan stats dan juga mendapatkan magic baru. 

Minigame: Blitzball!

Selain menjadi seorang Warrior, Tidus merupakan seorang atlet sebuah olahraga seperti Handball bernama Blitzball. Blitzball sendiri merupakan olahraga kompetitif yang terdiri dari dua tim yang bertanding di sebuah bola air. Bagi kami, minigame ini tergolong sulit dimainkan. Kita perlu mengatur strategi dan juga mengatur pemain yang akan masuk ke dalam pertandingan agar meningkatkan kemungkinan untuk menang. 

Final Fantasy X Blitzball
Source: Sabukaru

Karakter-karakter Final Fantasy X: Pusat dari Cerita Epik

Tidak bisa disangkal, world building dan tema cerita yang unik, kekuatan narasi Final Fantasy X terletak pada karakter-karakternya. Cerita game RPG ini berpusat pada Tidus, seorang atlet blitzball dari Zanarkand yang terjebak di dunia Spira setelah kota asalnya dihancurkan oleh makhluk bernama Sin. Di sinilah Tidus akan bertemu banyak orang yang ternyata hidup di realitas yang berbeda.

Tidus: Karakter utama dari Final Fantasy X, Tidus adalah sosok yang ceria namun memiliki konflik batin yang mendalam. Hubungan antara dirinya dengan ayahnya, Jecht, bukanlah hubungan anak dan orang tua yang ideal. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Tidus adalah atlet Blitzball dari kota futuristik bernama Zanarkand. Lalu, karena kotanya dihancurkan oleh makhluk bernama Sin, ia terjebak di dunia Spira.

Final Fantasy X Tidus
Source: Fandom

Yuna: Yuna adalah summoner yang memiliki tanggung jawab besar untuk mengalahkan Sin. Sepanjang permainan, dia digambarkan sebagai karakter yang kuat, penuh tekad, namun juga rentan di balik tanggung jawab yang diembannya. Yuna percaya bahwa satu-satunya cara untuk mengalahkan Sin adalah dengan mengorbankan dirinya.

Final Fantasy X Yuna
Source: Fandom

Auron: Seorang veteran dan mantan penjaga dari ayah Yuna, Auron adalah karakter yang bijaksana dan misterius. Di sisi lain, Auron adalah sosok mentor bagi Tidus dalam perjalanannya melawan Sin.

Final Fantasy X Auron
Source: Fandom

Lulu: Dark Mage yang sering terlihat tenang dan serius. Lulu adalah salah satu karakter dengan latar belakang yang lebih tragis, setelah kehilangan teman yang pernah dijaganya dalam pilgrimage sebelumnya. Meskipun dingin, Lulu memiliki kasih sayang yang dalam terhadap Yuna dan kelompoknya.

Final Fantasy X Lulu
Source: Fandom

Wakka: Pemain blitzball yang menjadi salah satu penjaga Yuna. Wakka memiliki pandangan yang sangat kuat terhadap agama Yevon, meskipun dalam perjalanan, ia mulai meragukan keyakinannya setelah melihat konflik dan kemunafikan yang terjadi di dalam kepercayaan tersebut.

Final Fantasy X Wakka
Source: Fandom

Kimahri: Seorang Ronso (makhluk antropomorfik dengan wajah seperti harimau) yang sedikit bicara namun sangat setia kepada Yuna. Kimahri mewakili sosok pelindung yang setia dan berani, meskipun ia sering merasa diremehkan oleh kaumnya sendiri karena ukurannya yang lebih kecil.

Final Fantasy X Kimahri
Source: Fandom

Rikku: Gadis Al Bhed yang ceria dan penuh semangat. Rikku memiliki pandangan yang lebih modern dan cenderung memberontak terhadap tradisi Yevon. Dia membawa dinamika baru dalam grup dengan keahliannya dalam teknologi dan alat-alat mekanik, dan sering menjadi suara optimis dalam perjalanan yang penuh tantangan ini.

Final Fantasy X Rikku
Source: Fandom

Membongkar Hipokritas Agama Bernama Yevon

Selaku penulis skenario, Kazushige Nojima mampu merancang narasi yang berani sekaligus indah. Ia ingin mengangkat tema hipokritas agama tanpa harus mengajari. Di sini, kita akan menemukan suatu agama yang menghegemoni planet spira bernama Yevon. Tak hanya ortodoksinya dominan, agama ini begitu opresif. 

Final Fantasy X Yevon Salam
Source: Yevon

Doktrin yang disebarkan oleh komite Yevon membuat masyarakat percaya pada sebuah “Kebohongan Besar” (The Big Lie). Seluruh rakyat dipaksa percaya bahwa kemunculan makhluk penghancur bernama Sin adalah hukuman dari langit akibat gaya hidup serakah nenek moyang mereka yang terlalu bergantung pada teknologi mesin atau Machina. Yevon kemudian menjual harapan keselamatan dengan menjanjikan masa damai abadi (The Eternal Calm) asalkan masyarakat terus hidup dalam penyesalan dan penderitaan demi menebus dosa.

Namun, kenyataannya jauh berbeda. Para petinggi Yevon diam-diam tetap menggunakan teknologi Machina canggih di balik perlindungan kota Bevelle untuk mempertahankan kekuasaan mereka.

Final Fantasy X Fandom
Source: Fandom

Di saat yang sama, mereka justru menindas dan memburu kaum Al Bhed yang terbuka menggunakan teknologi, dengan alasan melanggar ajaran agama. Kemunafikan Yevon semakin terlihat karena sebagian besar pemimpin tertinggi mereka, para Maester, sebenarnya adalah Unsent—arwah orang mati yang menolak pergi ke alam setelah kematian. Meski bukan lagi manusia hidup, mereka tetap mengendalikan masyarakat dan menentukan aturan moral dari balik “singgasana kematian” mereka.

Sin sendiri sebenarnya adalah monster laut raksasa yang dibuat oleh pemimpin kota Zanarkand sekaligus seorang high summoner yang bernama Yu Yevon 1,000 tahun lalu saat perang melawan Bevelle. Namun, karena Yu Yevon kehilangan akalnya, ia berubah menjadi parasit di inti Sin yang akhirnya membuat monster itu menghancurkan peradaban Spira. Putri Yu Yevon, Yunalesca mengorbankan nyawa suaminya, Zaon, untuk mengalahkan Sin dengan menciptakan Final Aeon. Sayangnya, kemenangan yang disebut sebagai The Calm ini hanyalah sementara. Di satu sisi, roh Yu Yevon merasuki Final Aeon dan membentuk tubuh Sin yang baru. 

Final Fantasy X Zanarkand
Source: Fandom

Nama Sin bukan hadir begitu saja. Karena monster berbentuk paus raksasa itu dianggap sebagai hukuman, akhirnya monster tersebut dipanggil Sin oleh masyarakat Spira. Di dunia di bawah bayang-bayang dogma Yevon, para Summoner memiliki peran penting dalam membantu masyarakat yang berduka. Sang Summoner melakukan ritual bernama The Sending untuk mengantarkan arwah orang yang telah wafat agar bisa beristirahat dengan tenang. 

Di Spira, orang yang meninggal dengan rasa marah, sedih, atau penyesalan yang besar tidak akan benar-benar pergi. Energi roh mereka, yang disebut pyreflies, dapat berubah menjadi monster ganas bernama fiends yang mengancam kehidupan manusia. Karena itu, The Sending dilakukan untuk menyucikan roh-roh tersebut dan mengirim mereka ke alam arwah bernama The Farplane, sehingga mereka tidak berubah menjadi monster.

Namun, ajaran Yevon sebenarnya memanipulasi kenyataan dunia. Nama “Spira” sendiri berarti spiral, bentuk yang sebenarnya memiliki ujung. Akan tetapi, Yevon membuat masyarakat percaya bahwa penderitaan di dunia ini adalah siklus tanpa akhir yang harus diterima begitu saja. Kebohongan besar ini berasal dari Yu Yevon, sosok pendiri ajaran tersebut. Ribuan tahun lalu, ia berubah menjadi makhluk yang hidup abadi dengan terus memanfaatkan jiwa-jiwa korban dan kehancuran yang disebabkan oleh Sin untuk mempertahankan kekuatannya. 

Al Bhed dengan Bahasanya

Represi politik dari kediktatoran Yevon terlihat lewat diskriminasi terhadap Al Bhed, kelompok minoritas yang dikenal sebagai peneliti dan pembuat mesin kuno. Jumlah mereka pun sangat sedikit, hanya sekitar sepersepuluh dari total populasi di dunia Spira. Untuk semakin memisahkan mereka dari masyarakat lain, dibuatlah bahasa khusus bernama “Al Bhed Language” sebagai penghalang komunikasi sosial dan budaya.

Final Fantasy X Al Bhed
Source: Fandom

Jika dianalisis dari sudut pandang linguistik modern, bahasa Al Bhed sebenarnya tidak bisa dianggap sebagai bahasa buatan penuh (constructed language atau conlang) seperti bahasa Elf ciptaan J. R. R. Tolkien dalam dunia Middle-earth. Berbeda dengan Sindarin atau Quenya yang punya struktur tata bahasa dan sejarah sendiri, bahasa Al Bhed pada dasarnya hanyalah sistem sandi sederhana.

Secara teknis, “bahasa” ini bekerja memakai metode pertukaran huruf atau alphabetic substitution cipher, yaitu setiap huruf diganti dengan huruf lain berdasarkan pola tertentu sesuai versi lokalisasi gamenya.

Desain Audio dan Komposisi Musik yang Indah

Perubahan menuju tampilan realistis lewat teknologi motion capture dan pengisi suara manusia membuat proses produksi audio di game ini ikut berubah besar. Nobuo Uematsu, komposer utama seri Final Fantasy yang biasanya mengerjakan seluruh musik sendirian, merasa proyek ini terlalu besar untuk ditangani sendiri. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Final Fantasy, ia membagi tugas komposisi dengan dua komposer internal Square, yaitu Masashi Hamauzu dan Junya Nakano.

Kehadiran pengisi suara juga mengubah cara emosi disampaikan dalam game. Pada era game tanpa dialog suara, musik buatan Nobuo Uematsu harus bekerja keras untuk menyampaikan suasana sedih, tegang, atau romantis hanya lewat melodi. 

Namun, setelah karakter bisa berbicara, tertawa, atau menangis secara langsung, musik tidak lagi harus mendominasi setiap adegan. Karena itu, beberapa momen penting justru dibuat lebih sunyi dan hanya diisi suara lingkungan, seperti angin pantai atau suara serangga, yang membuat suasana terasa lebih hidup berkat kemampuan audio ekstra dari PlayStation 2.

Dalam sisi musik, soundtrack Final Fantasy X juga berani bereksperimen dengan berbagai genre. Uematsu menciptakan lagu heavy metal dan rock agresif pertamanya untuk seri ini lewat “Otherworld”, yang dipakai dalam adegan pembuka kehancuran stadion Blitzball. Lagu tersebut mengejutkan banyak penggemar karena berbeda jauh dari musik orkestra khas Final Fantasy. 

Selain itu, Square juga memilih penyanyi indie Rikki untuk membawakan lagu romantis “Suteki da ne” (“Bukankah Ini Indah?”). Lagu ini menjadi lagu berbahasa Jepang pertama yang digunakan secara global dalam seri Final Fantasy, dengan nuansa musik folk tradisional, bukan pop mainstream.

Hal menarik lainnya ada pada lagu instrumental paling ikonis di game ini, “To Zanarkand”. Awalnya, Uematsu tidak membuat lagu piano melankolis tersebut untuk Final Fantasy X, melainkan untuk sebuah pertunjukan musik seruling. Namun, setelah staf produksi mendengarnya dan merasa sangat tersentuh, lagu itu akhirnya diadaptasi menjadi tema pembuka utama yang kemudian identik dengan game tersebut.

Begitulah pembahasan salah satu game JRPG terbaik sepanjang masa, Final Fantasy X dari awal pengembangan hingga hal-hal seru di dalamnya. Selain game satu ini, kami juga membahas game retro lainnya di rubrik Retrospective. Kalau kamu ingin tahu informasi terkait game dan industrinya, terus ikuti terus media sosial dan website Gameformia!