News

Nvidia Akui DLSS 5 Hanya Beroperasi Layaknya Filter AI, Rawan Merusak Visual Asli Game?

Nvidia baru saja mengonfirmasi bahwa teknologi terbarunya, DLSS 5, ternyata beroperasi dengan cara yang jauh lebih sederhana dari ekspektasi banyak orang. Alih-alih menyerap data geometri 3D yang mendalam dari engine game, DLSS 5 nyatanya hanya mengandalkan bingkai (frame) 2D hasil render akhir ditambah dengan motion vectors (vektor gerak).

Absennya akses ke aset 3D bawaan game ini membuat DLSS 5 tak ubahnya seperti AI filter canggih. Vektor gerak tersebut hanya berfungsi untuk memberi tahu algoritma ke mana arah pemain dan objek di layar bergerak. Fakta ini sekaligus memvalidasi kritik yang menyebut hasil polesan DLSS 5 sering kali terasa “palsu” bak aplikasi filter kecantikan, serta berpotensi merusak nilai artistik asli dari sebuah game. Bukannya menyempurnakan grafis yang sudah ada, AI ini dituding sekadar menebak dan mengarang visual secara asal.

Rahasia dapur ini terungkap ke publik secara gamblang saat GeForce Evangelist Nvidia, Jacob Freeman, meladeni pertanyaan dari YouTuber teknologi Daniel Owen terkait cara kerja sistem tersebut.

Ya, DLSS 5 mengambil bingkai 2D ditambah vektor gerak sebagai input.

Owen yang masih penasaran kembali mencecar, menanyakan apakah sistem ini setidaknya mengenali tekstur dasar atau komponen 3D lainnya di dalam game. Freeman menampiknya dengan menjelaskan bahwa kecerdasan buatan mereka dilatih untuk menebak isi layar secara mandiri.

DLSS 5 dilatih untuk memahami semantik adegan yang kompleks seperti karakter, rambut, kain, dan kulit transparan semuanya murni dengan menganalisis satu bingkai saja.

Kenyataan ini pada akhirnya menjadi pedang bermata dua. Kabar baiknya, karena pendekatannya yang sebatas filter 2D, DLSS 5 secara teori sangat mungkin untuk disuntikkan ke berbagai game lawas secara retroaktif tanpa butuh integrasi yang rumit dari pihak studio.

Namun, kabar buruknya juga tak main-main. Tanpa panduan 3D yang jelas, potensi blunder visual menjadi sangat besar. Pemain mungkin akan lebih rentan menemui ketidakkonsistenan gambar, halusinasi visual AI yang liar, hingga hasil akhir yang melenceng jauh dari art style orisinal game tersebut. Belum lagi, untuk sekadar menjalankan filter ini dengan mulus, pengguna saat ini seakan “dipaksa” menyediakan tenaga komputasi super besar sekelas kartu grafis RTX 5090 sekunder.

Meski demikian, Nvidia tidak lepas tangan begitu saja. Mereka menyadari potensi masalah visual ini dan telah membekali para developer dengan tiga alat kontrol utama. Ketiga alat tersebut adalah Intensity untuk mengatur seberapa dominan efek AI yang ditampilkan, Color Grading untuk menyesuaikan saturasi dan kontras, serta Masking yang memungkinkan developer memblokir efek DLSS 5 di area gambar tertentu agar tidak rusak oleh AI.

Kini, tantangan terbesar Nvidia adalah seberapa jauh mereka bisa mengoptimalkan teknologi ini agar tidak lagi terlihat seperti gambar buatan AI yang dipaksakan. Publik tentu berharap, dalam enam bulan ke depan, DLSS 5 bisa berjalan ramah di GPU kelas menengah seperti RTX 5070 dan diimplementasikan secara natural agar terasa seperti revolusi upscaling yang sesungguhnya. Nah, setelah mengetahui fakta bahwa DLSS 5 ini pada dasarnya “hanya” manipulasi filter AI 2D, apakah kamu masih tertarik untuk upgrade kartu grafis demi mencicipi teknologi ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *