Arthur Morgan Cover Features Games Icon

Arthur Morgan: Dari Loyalis Berakhir Tragis

Share:

Berbeda dengan prekuelnya, sekuel Red Dead Redemption memiliki konsep dua protagonis, Arthur Morgan dan John Marston. Ya, Rockstar tetap membawa John Marston ke sekuel game open world action adventure garapan mereka ini. Namun, alih-alih menceritakan kelanjutan Red Dead Redemption pertama, di sekuelnya ini menceritakan kilas balik dari John Marston bersama dengan geng yang pernah melibatkannya, Van der Linde. Di dalam geng ini ia mengenal sosok bernama Arthur Morgan yang ia kenal sebagai sosok mentor sekaligus kakak untuknya. 

Meski John Marston tetap menjadi protagonis utama, mata kita cenderung lebih berfokus pada karakter bernama Arthur Morgan ini. Alasannya, porsi Arthur di dalam ini lebih banyak. Ia akan kita temukan sepanjang chapter 1 hingga 6. Sementara John hanya pada bagian epilog. Karena Arthur adalah anggota tertua dan dapat diandalkan, pimpinan geng tersebut, Dutch Van der Linde, menjadikannya tangan kanannya. Sayangnya, kesetiaan tidak selalu dibayar manis. Alhasil, berawal dari loyalis, ia berakhir dengan tragis. Lantas, siapakah sebenarnya Arthur? Mari kita simak di sini!

Lahir Dari Keluarga Kriminal

Arthur Morgan lahir pada tahun 1863 dari pasangan Beatrice dan Lyle Morgan. Ada indikasi bahwa kedua orang tuanya ini melakukan emigrasi ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Amerika Serikat dari Wales. Hidup keluarga tersebut jauh dari kata sejahtera. Di usianya yang belia, sang ibu, Beatrice meninggal dunia karena sebab yang tidak diketahui. Ditinggal oleh ibu, Arthur diasuh oleh ayahnya, Lyle Morgan, yang sama sekali bukan menjadi panutan bagi anak muda yang sedang tumbuh. Ayahnya adalah seorang buronan hukum dan penjahat kelas teri. 

Pada tahun 1874, ketika Arthur baru menginjak usia 11 tahun, Lyle Morgan ditangkap oleh pihak berwajib atas tuduhan pencurian (larceny). Tidak lama setelah penangkapan tersebut, Lyle menemui ajalnya, dan tragedi ini disaksikan secara langsung oleh Arthur. Iya menganggap tidak ada yang baik dari ayahnya. 

Ditemukan Oleh Geng Visioner Bernama Van der Linde

Kematian ayahnya membawa Arthur menjadi gelandangan di jalanan. Cara apapun harus ia lakukan demi bertahan hidup. Hal ini yang membentuknya menjadi berandal liar selama kurang lebih tiga tahun. Lalu, di sekitar tahun 1877, ketika Arthur berusia 14 tahun, tiba-tiba sekelompok kriminal visioner yang diwakili oleh Dutch van der Linde dan Hosea Matthews menemukannya di jalanan. 

Dari sinilah Arthur menemukan sosok ayah yang belum pernah ia temukan selama ini. Meski Dutch juga seorang kriminal seperti ayahnya, Arthur menaruh hormat padanya. Dutch dan Hosea mendidik Arthur hingga menjadi pribadi yang terampil memainkan senapan, berkuda, bertarung dengan tangan kosong, berburu, dan menjadi sosok yang tangguh. 

Namun, tidak hanya dibesarkan dengan berbagai keterampilan, Dutch juga melakukan semacam indoktrinasi ideologis pada Arthur. Dutch berbeda dengan kriminal lain. Ia adalah seorang yang romantik. Ia menanamkan sebuah ide di mana hidup bebas dari hukum pemerintah yang menindas dan kapitalisme industri yang semakin berkembang di Amerika pada akhir abad ke-19. 

Menariknya, Arthur memiliki perbedaan pandangan dalam melihat Dutch dan Hosea. Ketika melihat Dutch, Arthur melihat sosok yang karismatik dan berideologi. Sementara ketika melihat Hosea, Arthur merasakan ketenangan dan kenyamanan. Hal tersebut karena kedua sosok tersebut memiliki sifat dan pandangan yang berbeda. Jika Dutch lebih visioner, Hosea lebih realistis. Di geng ini, Hosea semacam menjadi jangkar moral dan mencegah agar geng tersebut tidak jatuh ke dalam anarki total. Ia mengajarkan Arthur untuk memiliki empati dan nurani. 

Peranan Arthur Morgan di Dalam Geng Van der Linde

Sebagai anggota geng yang paling lama mengabdi setelah sang pendiri, Arthur Morgan menempati posisi krusial di dalam geng Van der Linde. Ia berperan sebagai lead enforcer sekaligus tangan kanan yang mendapat kepercayaan penuh dari Dutch van der Linde. Sejak masa kejayaan geng hingga insiden Blackwater pada 1899 yang menjadi titik balik kehancuran, duet operasional Arthur dan Dutch berjalan efektif.

Dalam praktiknya, Dutch menjadikan Arthur sebagai instrumen utama untuk mengeksekusi rencana dan menegakkan otoritas. Sementara itu, Hosea Matthews lebih diposisikan sebagai mitra diskusi dan penyeimbang secara politis.

Di dalam kamp, suara Arthur punya bobot. Persetujuan, kemarahan, bahkan sikap diamnya bisa memengaruhi dinamika di dalam geng tersebut. Ia menjadi figur kakak bagi anggota yang lebih muda, pelindung bagi perempuan dan anak-anak, sekaligus algojo yang ditakuti geng rival. Bahkan signifikansinya di dalam geng dapat dilihat ketika Arthur tidak berada di kamp, di mana ritme geng tersebut terasa pincang. Akibatnya, distribusi logistik tersendat dan moral perlahan menurun. Singkatnya, Arthur merupakan sosok esensial bagi geng Van der Linde. Bahkan, Dutch takkan bisa mengeksekusi misinya dengan mulus dan baik tanpa keberadaannya.

Psikologi Arthur Morgan: Efek Lucifer dan PTSD

Arthur Morgan tumbuh bukan dari tempat yang nyaman. Masa kecilnya selalu diwarnai dengan pemandangan penuh kriminalitas. Bahkan setelah menemukan figur ayah baginya, kriminalitas terus melekat padanya. Berdasarkan dari situs Zimbardo, kondisi kejiwaan Arthur menunjukkan adanya patologi yang konsisten dengan gejala klinis Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Dari traumanya ini, ia menjadi sosok yang hiper-waspada, memiliki respons fight-or-fight berlebihan, murung dan matinya rasa emosional. Situs yang membahas tentang topik yang berhubungan dengan psikologi tersebut juga menambahkan adanya Depresi reaktif yang ditampakkan oleh sifatnya yang fatalistik.

Hal yang dialami oleh Arthur, dalam fenomena psikologi sosial dikenal sebagai Lucifer Effect. Fenomena ini merujuk pada bagaimana lingkungan dan struktur sistem bisa mendorong seseorang, yang pada dasarnya adalah individu biasa, untuk melakukan tindakan kejam. Konsep ini pernah dipopulerkan lewat Stanford Prison Experiment, sebuah eksperimen psikologi yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh peran dan otoritas dalam membentuk perilaku manusia.

Jurnal Pribadi Arthur Morgan: Kerapuhan di Dalam Sosok Tangguh

Meski Arthur tumbuh dari lingkungan keras dan penuh dengan baku tembak, ternyata tidak sepenuhnya membentuknya ia menjadi pribadi seperti preman pasar. Di dalam game kita bisa menemukan bahwa Arthur adalah sosok yang terliterasi dan sensitivitas seni yang baik. Sisi lain dari Arthur ini dapat ditemukan dalam Arthur’s Journal atau jurnal pribadi Arthur. Di dalam jurnalnya tersebut, ia menulis catatan jurnal perihal pengalaman misi utama yang ia jalankan, kegiatan sampingan, hingga ketertarikannya terhadap flora dan fauna di alam liar. 

Dalam sebuah artikel di Medium.com yang ditulis oleh Kristina Ebanez, dalam jurnal tersebut Arthur adalah sosok yang reflektif sekaligus memiliki kesadaran yang cukup tinggi. Ia menyebut bahwa dirinya adalah orang bodoh dan meragukan dogma, stabilitas, dan kepemimpinan Dutch yang selama ini ia hormati. Bahkan dalam artikel tersebut terpampang perbedaan antara cara Arthur dan John merangkai kata, di mana Arthur lebih puitis dalam mengekspresikan kata-katanya di jurnalnya. 

Loyalis yang Menjadi Pembangkang yang Sadar

Momentum puncak yang menjadi titik paling berkesan dari Red Dead Redemption adalah ketika Arthur secara sadar membangkang perintah Dutch van der Linde. Setelah sebuah perampokan berakhir kacau, John Marston ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Sisika dengan ancaman hukuman gantung. Dutch yang mulai kehilangan arah, dan kian terpengaruh hasutan Micah Bell, justru menunda upaya penyelamatan. Dalihnya klasik: “belum waktunya.” Permintaan putus asa Abigail Roberts pun diabaikan.

Di momen inilah doktrin blind loyalty yang selama ini dipegang Arthur runtuh. Ia menyadari, kesetiaan pada sosok yang telah kehilangan kompas moral bukan lagi kebajikan, melainkan kelemahan. Tanpa restu Dutch, Arthur bergerak sendiri. Ia menyusun rencana pembebasan John, dibantu dua sekutu yang benar-benar ia percaya: Sadie Adler dan Charles Smith. 

Menemukan Jalan di Akhir Hayat

Kehidupan keras yang dijalani Arthur ternyata tidak membuatnya menjadi sosok yang abadi. Arthur mengidap TBC yang membuatnya batuk berkepanjangan, tak jarang batuknya juga berdarah. Namun, ketika ia menjadi seorang individu yang menemukan arti sebuah hidup, dengan mengabaikan penyakit yang ia idap. Arthur ingin sahabat sekaligus adiknya, John Marston bisa kembali kepelukan anak dan istrinya, Abigail dan Jack. Dengan kondisi yang kritis ia menghadapi Micah yang menjadi borok bagi geng Van der Linde.

Kesimpulan

Bagi kami, kisah Arthur begitu berkesan dan melekat. Karakter ini memiliki character development yang sangat baik. Rockstar mampu membuat karakter ini hidup berkat kesadarannya. Maka dari itu, bagi kami Arthur Morgan adalah salah satu karakter yang ditulis dengan sangat baik. 

Selain Arthur Morgan, kami juga membahas karakter-karakter game lain, tentunya dengan mendalam. Jadi, kalau kamu ingin terus mengikuti konten kami, terus ikuti media sosial dan website Gameformia! Jangan lupa follow, ya!