Game Dongker vs The Ratocrats News

Dongker vs The Ratocrats, Game Roguelite tentang Perlawanan Band Punk terhadap Pemerintah Korup

Share:

Studio asal Bandung, Inner Sight Games, mengumumkan Dongker vs The Ratocrats, game beat ’em up dengan mekanisme roguelite yang mengangkat perlawanan terhadap pemerintahan korup. Dalam game ini, band punk asal Indonesia, Dongker, yang terdiri atas Delpi, Arno, dan Dzikrie, akan mengendalikan robot raksasa untuk melawan aparat, menghancurkan gedung, dan melawan rezim yang menindas rakyat.

Mengambil latar di Ratpublic, sebuah negara fiktif yang dikuasai oleh para tikus politik, mesin kepolisian, dan monster birokrasi, Dongker vs The Ratocrats menghadirkan satir tentang kekuasaan dan institusi yang korup. Berbagai bentuk frustrasi terhadap penguasa diterjemahkan menjadi aksi penuh kehancuran dengan pemain mengendalikan mecha raksasa untuk melawan musuh-musuh yang merepresentasikan kekuasaan tersebut.

Pemain dapat memilih satu dari tiga personel Dongker untuk mengendalikan Dollar, maskot band yang diubah menjadi robot raksasa. Setiap karakter memiliki gaya bertarung berbeda. Sang gitaris mengandalkan serangan cakar cepat dan perisai energi, sementara vokalis menggunakan raungan bergelombang kejut serta serangan gigitan. Di sisi lain, drummer bertarung dengan pukulan berat dan serangan bertenaga bor.

Perbedaan kemampuan tersebut memberikan variasi dalam menghadapi musuh selama game berlangsung. Dengan perpaduan aksi penghancuran berskala besar, humor satir, dan musik orisinal Dongker, game ini menawarkan pengalaman yang menjadikan kemarahan terhadap kekuasaan korup sebagai bagian utama dari aksi.

Mengusung Satir Politik dalam Pertarungan Mecha

Dalam Dongker vs The Ratocrats, Ratpublic digambarkan sebagai negara yang dikuasai Ratocrats, rezim korup yang mempertahankan kekuasaan melalui janji kosong, kemajuan semu, dan institusi yang melindungi kepentingan penguasa.

Mechanics ala Roguelite

Pemain akan menghadapi beragam musuh, mulai dari pasukan pengendali kerusuhan, mesin pengawasan, hingga monster birokrasi. Selain itu, terdapat sejumlah kawasan pemerintahan dan bangunan ikonis yang menjadi bagian dari dunia game. Seluruh elemen tersebut dirancang untuk menyindir praktik kekuasaan, propaganda, serta kekerasan yang dilakukan oleh negara.

Sebagai game beat ’em up dengan mekanisme roguelite, pemain akan menjalani pertarungan dalam sejumlah sesi. Ketiga karakter yang tersedia memiliki rangkaian gerakan berbeda, sehingga pilihan pilot turut menentukan pendekatan pemain saat menghadapi musuh dan menghancurkan pertahanan rezim.

Skala kehancuran menjadi salah satu elemen yang ditonjolkan. Kota dan gedung digambarkan berukuran kecil jika dibandingkan dengan Dollar, sehingga lingkungan dalam game dapat dihancurkan sebagai bagian dari aksi pertarungan.

Adapun sejumlah fitur yang diperkenalkan dalam game ini meliputi tiga karakter yang dapat dimainkan, satu mecha raksasa bernama Dollar, musuh-musuh bertema satir politik, serta berbagai distrik dan kawasan pemerintahan di Ratpublic. Musik orisinal Dongker juga akan diadaptasi sebagai pengiring selama game berlangsung.

Lagu Melankolia Radikal Hadir dalam Game

Selain membawa tema perlawanan terhadap kekuasaan korup, Dongker vs The Ratocrats turut melibatkan musik dari Dongker. Band tersebut baru saja merilis album Melankolia Radikal, yang memuat nuansa kemarahan, kemurungan, dan kekecewaan terhadap kondisi politik.

Mengangkat tema satir politik

Lagu-lagu Dongker menggambarkan kesedihan yang muncul ketika masyarakat harus hidup di bawah kekuasaan yang korup dan terus mengecewakan rakyatnya. Nuansa tersebut kemudian dibawa ke dalam game melalui adaptasi lagu-lagu mereka menjadi trek instrumental yang mengiringi aksi pemain.

Kehadiran musik tersebut menjadi bagian dari identitas emosional Dongker vs The Ratocrats, sekaligus mempertemukan karakter musik punk Dongker dengan game yang mengusung kritik sosial dan politik.

Meski mengangkat tema pemerintahan korup, Inner Sight Games menegaskan bahwa seluruh karakter, peristiwa, dan lokasi dalam game ini merupakan fiksi. Game tersebut juga tidak berafiliasi dengan atau mendapat dukungan dari pemerintah, partai politik, lembaga, maupun pejabat publik mana pun.

Studio itu turut menjelaskan bahwa adegan kekerasan dan penghancuran di dalam game sepenuhnya bersifat fiktif dan tidak dimaksudkan untuk mendorong tindakan melanggar hukum di dunia nyata.