Harga RAM DDR5 dilaporkan mengalami penurunan drastis di sejumlah wilayah, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan terutama China. Penurunan paling tajam terjadi di Shenzhen, pusat perdagangan komponen elektronik, yang dalam beberapa hari terakhir mencatat penurunan harga hingga 30 persen.
Fenomena ini bermula dari gelombang sell-off agresif di pasar memori China. Awalnya dianggap sebagai koreksi harga jangka pendek, kondisi tersebut justru berkembang menjadi aksi likuidasi besar-besaran. Para distributor dan pedagang grosir dilaporkan menjual stok mereka dengan harga berapa pun demi mendapatkan kembali likuiditas.
Pusat pergerakan ini berada di Huaqiangbei, kawasan yang dikenal sebagai jantung perdagangan komponen elektronik di China. Di wilayah ini, tekanan pasar terasa paling signifikan dan menjadi indikator awal perubahan harga yang lebih luas.
Salah satu contoh paling mencolok terlihat pada modul DDR5 berkapasitas 32GB. Produk yang sebelumnya dibanderol lebih dari 3.000 RMB (sekitar 375 euro) kini turun tajam ke kisaran 500 hingga 1.050 RMB. Bahkan, beberapa unit tercatat berada di harga 1.950 RMB (sekitar 245 euro). Penurunan ini dinilai terlalu besar untuk diabaikan, meski masih bersifat lokal dan belum sepenuhnya merepresentasikan pasar global.
Penurunan harga ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi global yang sedang tertekan. Permintaan jangka pendek yang melemah membuat para pelaku pasar berupaya mempercepat perputaran stok.

Kanal ritel pun ikut terdampak. Setelah berbulan-bulan harga tinggi, daya beli konsumen mulai menurun. Dalam situasi ini, pasar China merespons dengan cara khasnya: memangkas harga secara agresif tanpa mempertahankan harga yang sebelumnya “ditahan” secara artifisial. Minimnya pembeli membuat konsumen memilih menahan pengeluaran.
Meski begitu, kondisi ini bukan berarti DDR5 kehilangan nilai. Justru sebaliknya, penurunan harga terjadi karena akumulasi stok di jalur distribusi yang kini berlebih. Ketika pasokan melampaui permintaan, aksi jual besar-besaran menjadi tak terhindarkan.
Faktor lain yang memperparah situasi adalah karakteristik pasar Shenzhen yang sangat dinamis. Ekosistem ini dikenal dengan likuiditas tinggi, spekulasi cepat, dan perputaran barang yang konstan. Hal inilah yang membuat pergerakan harga di China terlihat ekstrem dan sulit ditiru di wilayah lain seperti Eropa, Korea, Jepang, maupun Amerika Serikat.
Di sisi lain, sejumlah pelaku industri menilai bahwa koreksi ini tidak mengubah tren jangka panjang. Memori tetap menjadi komponen krusial untuk pusat data dan pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), sehingga produksi kini lebih difokuskan ke sektor tersebut. Dampaknya, pasar konsumen menjadi relatif terpinggirkan.
Di luar China, tren penurunan harga memang mulai terlihat, tetapi skalanya jauh lebih kecil dan tidak mengikuti pola likuidasi. Hal ini menjadikan Shenzhen sebagai semacam indikator awal sekaligus “laboratorium ekstrem” yang memperbesar pergerakan pasar.
Sementara itu, penjualan di toko-toko Eropa dilaporkan telah turun hingga dua digit. Konsumen enggan membeli dengan harga tinggi, dan jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin pasar akan mengalami penurunan aktivitas dalam jangka panjang.
Kondisi yang terjadi saat ini dinilai bukan akhir dari siklus industri memori, melainkan bentuk penyesuaian internal di pasar China. Namun, fenomena ini juga membuka gambaran bahwa spekulasi masih menjadi faktor besar, baik di dalam maupun luar negeri.
Pertanyaannya kini, apakah gelombang penurunan harga ini akan tetap terbatas di China, atau justru merambat ke pasar global, termasuk Indonesia, dalam waktu dekat?

