Pemerintah Jepang melalui Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) meluncurkan inisiatif baru untuk memperkuat daya saing global industri konten domestik, termasuk sektor pengembangan game. Program tersebut membuka peluang pendanaan bagi developer, termasuk pelaku indie, untuk menciptakan kekayaan intelektual (intellectual property / IP) baru sekaligus mendorong ekspansinya ke pasar internasional.
Program bernama IP360, yang di Jepang dikenal dengan julukan “sanrokumaru”, menyediakan hibah maksimal 10 juta yen atau sekitar USD $60.000. Skema ini menjadi salah satu langkah konkret pemerintah dalam mendorong konten lokal seperti anime dan game agar mampu bersaing secara global.
METI sendiri menargetkan peningkatan pendapatan tahunan dari distribusi konten Jepang di luar negeri hingga mencapai 20 triliun yen. Target tersebut bahkan telah ditetapkan sebagai kebijakan nasional resmi melalui keputusan kabinet pada 2025. Dalam kerangka itu, IP360 dirancang untuk mendukung proses penciptaan IP baru sekaligus memperluas jangkauan distribusinya ke pasar internasional.

Dari berbagai opsi pendanaan yang tersedia, program “New IP Creation Support (Startup Support)” menjadi yang paling menarik perhatian developer lokal. Pasalnya, berbeda dari banyak skema pendanaan pemerintah yang mensyaratkan badan hukum, program ini justru membuka akses bagi individu maupun tim yang belum berbentuk perusahaan. Kondisi ini membuat IP360 dinilai sebagai peluang strategis bagi developer indie untuk mengembangkan proyek mereka.
Skema hibah tersebut menawarkan subsidi hingga 50 persen dari total biaya yang memenuhi syarat. Dana dapat dimanfaatkan untuk berbagai tahap pengembangan, mulai dari pre-production, produksi, hingga post-production—termasuk lokalisasi dan aktivitas promosi. Selain itu, biaya seperti perekrutan ilustrator atau komposer, perjalanan ke konvensi internasional, serta kebutuhan komunikasi proyek juga masuk dalam kategori pendanaan.
Untuk mengikuti program ini, developer diwajibkan menyiapkan prototipe serta rencana bisnis yang menekankan distribusi global, misalnya melalui lokalisasi dan perilisan game di luar Jepang. Proyek berbasis IP lama seperti sekuel atau remake tidak termasuk dalam kriteria penerima hibah. Meski demikian, METI menegaskan bahwa pihaknya tidak akan melakukan intervensi terhadap keputusan kreatif maupun konten proyek yang diajukan.
Dalam beberapa tahun terakhir, skena game indie Jepang memang menunjukkan perkembangan pesat. Bahkan judul sederhana yang dikembangkan secara solo seperti The Exit 8 mampu menembus pasar global dan berkembang menjadi waralaba lintas media. Melihat tren tersebut, langkah pemerintah untuk mengoptimalkan potensi developer indie domestik dinilai sebagai strategi yang cukup masuk akal.

