Langkah baru diambil Square Enix dengan menggandeng Google dalam pengembangan fitur berbasis AI untuk Dragon Quest X. Melalui kerja sama ini, pemain nantinya akan ditemani karakter AI chat bot yang dirancang untuk membantu sekaligus berinteraksi selama permainan berlangsung.
Dalam Dragon Quest X, Square Enix akan memanfaatkan teknologi Gemini milik Google untuk menggerakkan pendamping berbasis conversational AI bernama Chatty Slimey. Karakter ini dirancang sebagai pemandu interaktif yang membantu pemain, terutama pemain baru, menemukan arah dan memahami gameplay mechanics.
Kepala pengembangan Dragon Quest X, Takashi Anzai, menyebut kehadiran Slimey diharapkan dapat meningkatkan pengalaman awal bermain. Hal itu ia sampaikan dalam wawancara dengan media Jepang Sankei.
Pemain baru tidak akan merasa kesepian saat bertanya-tanya harus mulai bermain dari mana. Karakter ini akan menjadi pendamping pribadi mereka.
Menurut laporan Sankei, sistem AI tersebut tidak hanya mampu merespons percakapan pemain melalui fitur chat, tetapi juga dapat secara otomatis menghasilkan suara dan membaca konteks dari layar permainan. Slimey bahkan disebut dapat memulai percakapan secara mandiri, misalnya ketika pemain berhasil mengalahkan musuh kuat atau mendapatkan item langka.
Dragon Quest X sendiri merupakan MMO yang sejauh ini hanya tersedia di Jepang. Game tersebut pertama kali dirilis pada 2012 untuk PC dan PlayStation 4, sebelum kemudian hadir di Nintendo Switch.
Upaya menghadirkan AI chat bot di MMO bukanlah hal baru. Game wuxia Where Winds Meet sebelumnya juga telah mengadopsi teknologi serupa. Namun, implementasi tersebut sempat menuai sorotan setelah sebagian pemain dilaporkan memanipulasi sistem AI untuk menghasilkan respons tidak pantas. Tantangan yang mirip juga dialami Fortnite ketika menambahkan chat bot berbasis karakter Darth Vader, yang sempat viral karena mengucapkan kata-kata kasar kepada pemain.
Di sisi lain, Square Enix juga menunjukkan komitmen lebih luas terhadap pemanfaatan AI dalam pengembangan game. Dalam laporan keuangan November 2025, perusahaan menyatakan menargetkan sebagian besar proses quality assurance dan debugging akan ditangani oleh AI generatif dalam dua tahun ke depan.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, penerbit seri Final Fantasy ini juga menjalin kemitraan riset dengan Matsuo-Iwasawa Laboratory di University of Tokyo. Kolaborasi ini disebut bertujuan meningkatkan efisiensi proses pengembangan game melalui pemanfaatan teknologi AI.

