Suikoden adalah salah satu bentuk nyata di mana teknologi yang maju, tidak selalu cocok atau tepat dengan ide yang ingin ditumpahkan oleh kreator. Pasalnya, sebagai konsol 32-bit dengan teknologi yang lebih maju dan dukungan penyimpanan data yang lebih besar, PlayStation sangat mendukung kreator-kreator pada masanya untuk membuat game dengan desain dunia dengan tingkat dimensi yang lebih tinggi. Model karakter dengan poligon juga sudah bisa digapai.
Namun, sebuah tim di dalam salah satu perusahaan game ternama di Jepang, Konami, lebih memilih mengejawantahkan ide mereka ke dalam format yang lebih lama, meski hal ini adalah hasil dari ketidakpuasan mereka akan hasil tes dengan format 3D. Di balik itu semua, sebagai game RPG mereka menawarkan sesuatu yang cukup radikal, yakni jumlah karakter yang masif.
Ditambah lagi, Suikoden memiliki alur cerita yang menarik yang terinspirasi dari novel klasik Tiongkok Shui Hu Zhuan atau Water Margin yang menceritakan tema pemberontakan, persahabatan, dan intrik politik. Hal ini menjadikan Suikoden distingtif di tengah game yang didominasi cerita yang cenderung linear.
Lalu, bagaimana latar belakang Suikoden? Mari simak di artikel berikut!
Latar Belakang Pembuatan Suikoden
Transisi teknologi antara konsol 16-bit dan 32-bit terasa signifikan. Pada konsol 32-bit, kini developer bisa ‘menyempurnakan’ model 3D yang belum bisa direalisasikan pada generasi sebelumnya. Selain itu, konsol revolusioner bernama Sony PlayStation menawarkan teknologi penyimpanan data lebih besar melalui CD-ROM.
Di samping itu, ada dua raksasa di Jepang yang secara absolut memegang kendali genre RPG di era 90-an, yakni Enix dan Squaresoft melalui seri Dragon Quest dan Final Fantasy. Menariknya, keberadaan PlayStation ini membuat pemain lama di industri game, salah satunya Konami mencoba peruntungan untuk bermain di genre tersebut. Namun, sebagai entitas yang lebih dikenal dari IP seperti Castlevania dan Contra, Konami harus merumuskan strategi yang tepat agar dapat merebut pangsa pasar dari kedua raksasa tersebut.
Dua talenta baru di industri ini, Yoshitaka Murayama sebagai penulis skenario dan sutradara utama, serta Junko Kawano sebagai desainer karakter dan pengarah artistik dipercayakan pada sebuah proyek yang nanti dinamakan Suikoden. Di saat itu, Murayama baru saja lulus dari Tokyo University pada musim panas tahun 1992 dan melamar ke Konami di mana perusahaan tersebut baru membuka kantor pusat di Tokyo. Di sinilah pertemuannya dengan Junko Kawano yang juga baru melamar ke perusahaan tersebut terjadi. Dari perkenalan keduanya adalah titik awal dari kolaborasi yang menghasilkan game Suikoden yang kita kenal sekarang.
Di awal fase karier Murayama dan Kawano, mereka ditugaskan untuk mengembangkan sebuah prototipe game. Tentu saja, tak hanya mereka berdua yang ditugaskan, melainkan juga sepuluh karyawan lainnya. Lalu, proyek prototipe tersebut dibatalkan dan Murayama beserta timnya ditugaskan kembali oleh eksekutif Konami dengan mandat untuk mengembangkan game pertama untuk PlayStation. Pada saat itu, Konami memberikan tiga opsi genre yang dapat mereka pilih, yakni baseball, balap mobil atau RPG.
Meski pada kala itu Murayama secara pribadi lebih memilih game shoot ‘em up, akhirnya tim tersebut memutuskan secara kolektif untuk mengerjakan proyek RPG. Keputusan ini didorong eksekutif perusahaan tersebut untuk mencari sebuah seri flagship untuk menjadi pemain di ranah RPG yang di saat itu masih didominasi oleh Squaresoft dan Enix.
Adaptasi Sastra Tiongkok: Shui Hu Zhuan atau Water Margin
Dengan franchise besarnya—Dragon Quest dan Final Fantasy—Squaresoft dan Enix kerap mengandalkan konsep fantasi yang ala barat. Di sini, Yoshitaka Murayama memutuskan untuk mengambil arah yang berbeda. Ia ingin membuat sebuah cerita kompleks dan penuh intrik politik yang mengambil inspirasi dari karya sastra Tiongkok, yakni Shui Hu Zhuan atau yang dikenal di luar daratan Tiongkok sebagai Water Margin.
Shui Hu Zhuan sendiri merupakan mahakarya sastra Tiongkok abad ke-14 yang lahir pada era Dinasti Ming dan kerap dikaitkan dengan nama Shi Nai’an. Kisahnya berpusat pada 108 pemberontak yang tersingkir dari tatanan sosial arus utama, lalu berkumpul di Gunung Liang untuk membangun kekuatan baru dan bersatu demi melawan faksi korup di lingkar kekuasaan Dinasti Song.
Tema tentang 108 “Bintang Takdir” yang berasal dari berbagai kelas sosial dan spektrum moral inilah yang kemudian menjadi fondasi utama seri Suikoden. Konsep mengumpulkan karakter-karakter unik untuk memperjuangkan keadilan jelas merupakan adaptasi langsung dari warisan sastra klasik tersebut. Namun secara historis dan hukum, perlu digaris bawahi bahwa Konami tidak memiliki hak cipta atas gagasan 108 Bintang Takdir itu sendiri. Konsep tersebut sudah menjadi domain publik karena berakar dari karya sastra Tiongkok berusia ratusan tahun.
Dalam narasi Suikoden, kita berperan dan mengikuti perjalanan Tir McDohl—nama kanonik yang kerap muncul di berbagai materi resmi, meski game ini tetap memberi kebebasan bagi pemain untuk menamai sang protagonis sesuai keinginan. Tir adalah putra dari Teo McDohl, jenderal legendaris yang setia mengabdi pada Kekaisaran Scarlet Moon dan dikenal sebagai salah satu komandan paling disegani di medan perang.
Namun, seiring berjalannya cerita, Tir mulai menyadari bobroknya intrik politik di tubuh kekaisaran, mulai dari pengkhianatan di lingkaran elit hingga penderitaan rakyat sipil. Ia harus mengambil keputusan untuk meninggalkan Scarlet Moon yang telah membesarkannya. Kemudian Tir memimpin Tentara Pembebasan (Liberation Army) dan memikul takdir besar untuk mengumpulkan 108 pejuang demi perdamaian di tanah yang dilanda perang saudara.
Konsep 108 Stars of Destiny
Karena mengambil inspirasi dari Water Margin, struktur karakter dalam game Suikoden memiliki fondasi filosofis yang mengakar. Menariknya, di dalam game ini, terdapat kosmologi Daoisme yang dimodifikasi yang kemudian diterjemahkan ke dalam sistem 108 Stars of Destiny. alam tradisi Daoisme, konstelasi Ursa Major memiliki asosiasi spiritual yang berkaitan dengan takdir dan keseimbangan kosmis
Ke-108 karakter tersebut kemudian dibagi ke dalam dua hierarki utama. Pertama adalah 36 Bintang Surga (36 Stars of Heaven / Heavenly Spirits). Kelompok ini merepresentasikan manifestasi jiwa-jiwa langit. Di sini, mereka biasanya memegang peran penting, yakni pemimpin pasukan, figur strategis, atau karakter dengan bobot cerita yang krusial terhadap jalannya plot cerita.
Di bawahnya ada 72 Bintang Bumi (72 Stars of Earth / Earthly Fiends). Secara mitologis, mereka melambangkan roh-roh bumi yang telah bertobat. Dalam implementasinya di dalam game, kelompok ini sering berperan sebagai tulang punggung markas seperti pengelola logistik, pedagang, pandai besi, koki, hingga penyedia layanan spesialis lainnya. Meski tidak selalu berada di garis depan pertempuran, keberadaan mereka juga cukup krusial
Arahan Artistik dan Desain Karakter oleh Junko Kawano
Untuk aspek desain karakter dan arahan artistik, Junko Kawano yang memegang kendali. Melihat jumlah playable character dan karakter pendukung utama yang sangat masif, ia harus mengemban sebuah beban, di mana 108 karakter tersebut harus ia desain semua. Terlebih lagi, Kawano harus memerhatikan dari segala aspek di setiap karakter, mulai dari kostum, ras, usia, profesi, hingga latar belakang sosialnya.
Karena dikenal memiliki ketertarikan dengan tema-tema unik seperti kematian, reinkarnasi, hal-hal depresif, dan manipulasi waktu, setiap karakter di Suikoden dapat terlihat keunikannya. Ketertarikannya terhadap kisah tragis Faust karya Goethe dapat tampak jelas ketika menggarap Shadow of Memories. Meski terlihat dengan desain anime, terasa nuansa reflektif dan muram yang teresap ke dalam Suikoden. Setiap karakter di Suikoden memiliki emosi dan memancarkan luka dan latar belakang mereka.
Tak hanya dari segi desain karakternya saja, nyatanya, penerapan format sprite 2D ke dalam game juga diejawantahkan oleh tim Konami. Di masa ketika visual 3D mengalami kebangkitannya, visual 2D tampaknya akan ditinggalkan. Namun sebaliknya, pilihan ini ternyata mengangkat nama Suikoden ini sendiri. Suikoden masih tetap relevan hingga masa sekarang.
Gameplay Mechanics Tiga Lapis
Jika kamu penggemar Suikoden, ada salah satu aspek yang familiar buatmu. Ya, tiga mode gameplay yang berbeda ini adalah warisan Suikoden yang paling dikenal. Tiga sistem ini di antaranya: party battle enam karakter, duel, dan sistem battle makro skala besar. Bahkan penerus spiritualnya, Eiyuden Chronicle: Hundred Heroes tetap mengusung tiga format battle system ini.
1. Party Battle Enam Karakter
Berbeda dari standar RPG Jepang pada masanya, Suikoden tampil jauh lebih ambisius dalam urusan skala dan kedalaman sistem battle-nya. Jika seri awal Final Fantasy hanya mengizinkan tiga hingga empat karakter aktif dan Dragon Quest mengandalkan formasi empat karakter linear, Suikoden langsung menghadirkan enam karakter aktif sekaligus dalam satu pertarungan. Enam karakter ini ditempatkan dalam formasi 3×2 yang membagi posisi menjadi garis depan dan garis belakang, membuat manajemen barisan jadi krusial sejak awal. Di awal, kita perlu memasukkan seluruh command untuk anggota tim di awal ronde, lalu sistem menentukan urutan aksi berdasarkan atribut Speed (SPD) masing-masing karakter. Ritme pertarungan seperti ini membuatnya terasa lebih taktis karena kita perlu menentukan siapa bergerak lebih dulu.
Karakter jarak dekat dengan statistik Attack (ATK) dan Defense (DEF) tinggi idealnya ditempatkan di garis depan untuk menyerang dan membalas serangan dengan efektif. Sebaliknya, pemanah dan penyihir lebih aman di garis belakang. Atribut Skill (SKL) memengaruhi akurasi dan peluang serangan balasan, sementara Luck (LUK) menentukan kemungkinan critical hit dan keberhasilan untuk kabur. Semua variabel ini membuat komposisi tim tidak bisa disusun sembarangan.
Di sisi lain, sistem magic dalam Suikoden juga tidak mengikuti pakem RPG tradisional. Alih-alih menggunakan satu bar MP umum, game ini mengandalkan Rune yang dipasang pada slot tubuh karakter. Setiap Rune memiliki tingkat magic berbeda dengan sistem kuota berbasis level (tier), bukan kolam MP tunggal.
Semakin tinggi atribut Magic (MGC) karakter, semakin banyak level sihir yang bisa diakses dan semakin besar daya rusaknya. Karakter seperti Luc dan Crowley dikenal memiliki kapasitas magis tinggi, sehingga memungkinkan mereka mengeluarkan sihir level atas dengan efek yang signifikan. Bahkan, jika anggota tim tumbang saat HP menyentuh nol, mereka masih bisa dihidupkan kembali melalui Rune tertentu seperti Resurrection Rune.
Namun, salah satu inovasi paling menarik pada Suikoden tetaplah sistem Unite Attack. Sistem ini adalah ketika dua atau lebih karakter memiliki hubungan khusus (baik keluarga, guru dan murid, maupun latar belakang yang saling terhubung) mereka dapat melancarkan serangan kombinasi yang menggantikan giliran individu mereka. Serangan ini biasanya menghasilkan damage besar tanpa mengonsumsi MP. Misalnya, ketika Tir McDohl dan Kai berada dalam satu tim, mereka dapat mengeksekusi Master Pupil Attack yang menyapu seluruh musuh di layar. Begitu pula kombinasi Gremio dan Pahn melalui Talisman Attack yang memberikan damage besar ke satu target.
2. Duel Battle
Agar menjadi semakin menarik dan koheren dengan cerita, Suikoden memiliki format battle duel satu lawan satu. Ya, dalam format ini mirip seperti game fighting tetapi dengan command list. Pada mode ini, ada tiga parameter interaksi:
- Attack (Serangan Normal)
Serangan agresif standar. Opsi ini unggul saat berhadapan dengan Defend karena tetap mampu menghasilkan chip damage meskipun lawan bertahan. Namun, Attack akan kalah telak jika bertemu Desperate Attack atau Special yang jauh lebih eksplosif. - Defend (Bertahan)
Mode bertahan berfungsi sebagai counter terhadap Desperate Attack. Jika timing tepat, karaktermu dapat melakukan evasion sempurna, membatalkan serangan lawan, sekaligus melancarkan serangan balik dengan damage signifikan. Meski begitu, Defend tidak efektif melawan Attack karena tetap menerima kerusakan meskipun dalam jumlah kecil. - Desperate Attack / Special
Serangan spesial yang mampu menghasilkan damage masif. Opsi ini mendominasi Attack dan bisa langsung membalikkan keadaan. Namun konsekuensinya besar: jika dibaca dengan Defend, pengguna Desperate Attack akan terpukul balik dan menerima kerusakan fatal. Dalam situasi langka ketika kedua pihak mengaktifkan Desperate Attack secara bersamaan, keduanya akan saling menusuk dan menerima damage besar secara serentak.
3. Major Army Battles
Mode battle terakhir yang disuguhkan dalam Suikoden adalah mode battle skala besar yang disebut Major Army Battles. Di sini, fungsi 108 karakter memiliki dampak yang besar. Kekuatan pasukan justru dihitung berdasarkan jumlah dan komposisi 108 Stars of Destiny yang sudah berhasil direkrut. Semakin banyak rekrutan penting yang bergabung dengan faksi pemain, semakin besar pula peluang menang dalam pertempuran massal.
Secara mechanics, sistem Major Battles mengusung pola klasik batu–gunting–kertas dengan tiga tipe unit utama:
- Charge (Infanteri/Kavaleri)
Unit garis depan yang unggul dalam serangan frontal. Charge efektif menghancurkan Bow karena mampu menembus pertahanan pemanah dalam jarak dekat. - Bow (Pemanah)
Unit jarak jauh yang dapat menghabisi Magic sebelum mereka sempat melancarkan mantra. Serangan panah menjadi penyeimbang di lini tengah. - Magic (Penyihir)
Unit spesialis sihir dengan daya hancur area yang kuat. Magic sangat efektif melawan Charge yang bergerak dalam formasi padat.
Filosofi Anti-Stres
Murayama menyadari bahwa banyak RPG alih-alih membuat orang yang memainkannya merasakan fun, malah menimbulkan stres. Stres ini disebabkan oleh random encounter yang terlalu sering, navigasi menu yang lambat, hingga proses kenaikan level yang begitu lama dengan grinding yang tak kunjung henti. Dengan demikian, dalam Suikoden, ia tak ingin pemainnya mengalami stres ketika memainkan game garapannya ini.
Implementasinya terlihat jelas pada sistem encounter dengan musuh. Algoritma enemy encounter di Suikoden dibuat lebih “peka” terhadap perilaku pemain. Jika pemain bergerak lurus dan konsisten ke satu arah—indikasi ingin melanjutkan cerita atau mencapai lokasi tertentu—maka peluang bertemu musuh akan menurun drastis. Lalu, narasi pun tidak terus-menerus terpotong oleh pertarungan receh. Sebaliknya, ketika pemain bolak-balik atau berputar di area yang terbaca sebagai sinyal sedang mencari EXP frekuensi musuh justru meningkat.
Pendekatan tersebut membuat alur bermain terasa lebih organik dan minim friksi. Transisi dari eksplorasi ke pertempuran berlangsung cepat, menu terasa responsif, dan pengelolaan inventaris tidak bertele-tele. Keputusan ini ternyata membuat Suikoden digemari oleh pemainnya.
Kutukan, dan Kekuatan 27 True Runes
Salah satu hal yang membuat Suikoden begitu berbeda dari JRPG lain adalah sistem sihirnya. Jika kebanyakan game memakai mana atau elemen yang bisa dipelajari siapa saja, Suikoden justru menautkan sihir langsung ke mitologi penciptaan dunia. Segalanya berakar pada 27 True Runes atau entitas kosmik yang menopang keseimbangan semesta.
Asal-Usul dan Sifat True Runes
Dalam semesta Suikoden, dunia awalnya adalah satu entitas tunggal yang kemudian terpecah menjadi dua keberadaan primordial: Pedang dan Perisai. Setelah saling menghancurkan dalam perang tujuh hari, pecahan senjata mereka melahirkan 27 True Runes.
Rune-rune ini merepresentasikan aspek fundamental dunia, dari elemen alam hingga konsep emosional. Jika seluruh rune kembali bersatu, semesta akan runtuh menuju Ashen Future, kondisi ketiadaan absolut.
Yang membuat True Runes mengerikan adalah sifatnya, di mana mereka punya kehendak sendiri. Mereka memilih inangnya dan kerap memanipulasi manusia dalam konflik abadi antara Keteraturan dan Kekacauan. Manusia yang dipilih akan berhenti menua, kebal penyakit, dan memiliki kekuatan magic yang luar biasa. Namun selalu ada harga yang dibayar, yakni kutukan, kehilangan, atau pengorbanan nyawa.
True Runes dalam Suikoden I
Dalam Suikoden, konflik Gate Rune Wars digerakkan oleh beberapa True Rune kunci.
1. Soul Eater
Rune ini memberi kuasa atas hidup dan mati, tetapi menuntut jiwa orang terdekat sang pembawa. Rune tersebut diwariskan kepada Tir McDohl dari Ted, dan sepanjang cerita “memakan” nyawa tokoh-tokoh penting di sekitarnya. Semakin kuat Tir secara gameplay, semakin besar kehilangan yang ia alami.
2. Gate Rune
Rune ini terbelah menjadi dua: Front Gate dan Back Gate. Bagian depan dipegang oleh Windy, yang memicu kekacauan politik dan memanggil pasukan monster dari dimensi ketiadaan. Bagian belakang dipegang oleh Leknaat, yang membantu menetralkan ancaman tersebut. Perpecahan ini jadi simbol konflik keluarga sekaligus dualitas kekuatan itu sendiri.
3. Sovereign Rune
Rune milik Kaisar Barbarossa Rugner ini melambangkan kekuasaan absolut. Ia membuat penggunanya kebal terhadap pengaruh rune lain dan memungkinkan transformasi menjadi naga emas raksasa.
Kesimpulan
Usia Suikoden sudah berusia 30 tahun, tetapi game ini masih tergolong awet muda. Pemilihan konsep grafis 2D ternyata sangat tepat. Meski menurut kami sekuelnya adalah versi penyempurnaan dari segi cerita, Suikoden pertama juga sebuah masterpiece dari mendiang Yoshitaka Murayama. Nah, tak lama Konami baru saja merilis versi remaster-nya. Jika kamu ingin memainkan game ini, kamu bisa mencoba versi remaster-nya yang lebih mendukung monitor beresolusi tinggi.
Selain Suikoden, kami juga membahas game retro lain yang tak kalah menariknya. Jadi, ikuti terus konten Gameformia di media sosial dan juga website!

