Ada masanya PlayStation mengalami kekosongan perwakilan RPG, dan Wild Arms adalah game yang membuka gerbang RPG untuk konsol pertama Sony tersebut. Pasalnya, di pertengahan 90-an RPG begitu banyak diminati, tetapi Sony belum punya perwakilannya. Yup, game garapan Media.Vision ini mencoba mengambil langkah pada gelombang pertama game RPG PlayStation agar mata para gamers yang selama ini fokus ke konsol 16-bit semakin menuju ke PlayStation.

Tak hanya itu, Wild Arms mampu mengimplementasi ide cerita dan semesta yang distingtif dari game RPG atau fantasi pada umumnya. Biasanya, game fantasi akan mengambil latar dengan gaya abad pertengahan. Sementara Wild Arms tidak seperti itu. Game ini ingin mengintegrasikan dunia fantasi dengan unsur-unsur atau nuansa Wild West.
Tak salah game ini menjadi salah satu cult classic, meski sayangnya game ini tertutup oleh ketenaran Final Fantasy VII yang secara perilisan tidak jauh rentang waktunya. Atmosfer nuansa koboi semakin kental karena soundtrack-nya. Lantas, mengapa game ini dianggap begitu penting dan istimewa bagi gamers pecinta RPG, kendati Final Fantasy VII sempat menghadang eksistensinya? Mari simak di artikel berikut!
Latar Belakang Pembuatan Wild Arms: Lahir Dari Keterbatasan
Popularitas RPG dan Kosongnya Genre Ini di Periode Awal PlayStation
Pertengahan 1990-an adalah masa ketika industri video game berada di ambang perubahan besar. Di satu sisi, ada kejayaan era 16-bit, di mana kartrid Super Famicom dan Mega Drive yang selama bertahun-tahun menjadi pusat hiburan interaktif rumahan para gamers. Di sisi lain, muncul sebuah teknologi baru bernama CD-ROM, media yang menawarkan penyimpanan lebih luas yang mampu memasukkan lebih banyak data dari format teknologi lama.
Antara 1994 hingga 1996, industri game sedang belajar melepaskan masa lalu dan menatap masa depan, dan di sini Sony Computer Entertainment berdiri sebagai pendatang baru yang berani menantang tatanan lama. Namun, teknologi saja tidak cukup. Di Jepang, medan pertempuran sesungguhnya terletak pada genre Role-Playing Game. RPG adalah genre yang membuat gamers setia pada sebuah konsol, dan rela membeli mesin baru hanya demi merasakan pengalaman dari game-game baru.
Selama bertahun-tahun, Nintendo menguasai wilayah RPG ini berkat hubungan erat dengan SquareSoft dan Enix. PlayStation pun memulai perjalanannya dengan satu kekurangan mencolok, yaitu belum ada RPG besar yang bisa dijadikan alasan mutlak untuk memilikinya. Final Fantasy VII masih berada di balik layar, dan Sony membutuhkan pihak yang mampu mengisi kekosongan itu.
Saat Wild Arms tiba di Jepang pada Desember 1996, ia datang dari arah yang tidak terduga. Media.Vision bukanlah studio RPG mapan, melainkan tim yang terbiasa dengan game side-scrolling action shooter 2D.

Namun dari tangan merekalah lahir sebuah RPG yang cukup bersahabat dengan penggemar genre ini, tetapi tetap konsep cerita yang unik. Wild Arms mencoba memilih berjalan pelan, mengajak pemain lama merasa lebih familier, sambil perlahan menunjukkan bahwa PlayStation punya caranya sendiri untuk game RPG mereka.
Berawal dari Keterbatasan
Saat Wild Arms mulai dikembangkan pada pertengahan 1990-an, tim di baliknya tidak berada dalam posisi ideal. Teknologi 3D masih belum matang, sementara ekspektasi gamers terhadap RPG terus meningkat.
Dalam kondisi inilah Takashi Fukushima dan Akifumi Kaneko berusaha mencari jalan tengah antara keterbatasan teknis dan narasi yang ambisius. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menajamkan visi artistik dan tematiknya, alih-alih aspek grafisnya.

Sebagai sosok kreatif utama, Akifumi Kaneko memilih untuk tidak mengikuti arus fantasi klasik ala Eropa abad pertengahan yang saat itu sudah sangat populer lewat seri seperti Dragon Quest. Ia justru memperkenalkan konsep yang ia sebut “Westernpunk”. Konsep ini merupakan perpaduan antara dunia Wild West Amerika (gurun luas, koboi kesepian, dan rel kereta api) dengan elemen fantasy science fiction dan teknologi bergaya steampunk.
Visual Paduan 2D dan 3D
Ketika industri game masih meraba-raba masa depan grafis 3D, Media.Vision berada di persimpangan. PlayStation memang menjanjikan grafis dengan poligon, tetapi hal tersebut datang dengan harga mahal, yakni keterbatasan teknis, visual yang kaku, dan risiko kehilangan kedalaman ekspresi karakter.

Alih-alih memaksakan diri sepenuhnya ke dalam format graphics 3D, tim pengembang memilih jalan yang lebih reflektif, yaitu sebuah engine grafis hibrida yang lahir dari kebutuhan sekaligus visi. Saat kita melangkah di mode eksplorasi, dunia Wild Arms disajikan lewat sprite 2D top-down. Tampilan ini masih mengingatkan para gamers pada graphics 16-bit konsol generasi sebelumnya.

Namun begitu ketika masuk ke arena pertarungan, semua berubah menjadi full 3D, dan karakter Super Deformed. Memang, model poligon ini kini terlihat polos dan usang, tetapi pada saat rilisnya, ia menawarkan tampilan yang belum lazim dalam combat turn-based. Peralihan dua dunia inilah yang esensial bagi seri pertama Wild Arms ini.
Plot Cerita Wild Arms: Perpaduan Fantasy dengan Unsur Wild West
Filgaia bukan dunia yang indah dan penuh warna. Gurun gersang membentang ke mana-mana, kota-kota berdiri dengan teknologi seadanya, dan senjata kuno yang tampak canggih lebih sering dianggap kutukan. Di balik semua itu, tersimpan sejarah panjang tentang perang seribu tahun lalu, ketika ras mesin bernama Metal Demons datang untuk merebut planet ini dan memaksa para Guardians berperang demi mempertahankannya. Ancaman memang berhasil disegel, tetapi Filgaia tak pernah benar-benar pulih.

Di tengah kondisi itulah tiga orang yang tidak saling kenal bertemu di Adlehyde. Rudy Roughknight adalah anak yatim pendiam yang diusir dari desanya karena mampu menggunakan ARM (senjata dari masa lalu yang dianggap membawa malapetaka). Jack Van Burace datang sebagai pemburu harta karun yang berusaha lari dari kegagalan yang terus menghantuinya. Sementara Cecilia Adlehyde, seorang putri bangsawan, perlahan menyadari bahwa kemampuannya berkomunikasi dengan Guardians bukanlah hanya anugerah, melainkan tanggung jawab besar.
Perjalanan mereka berubah arah ketika segel kuno mulai melemah dan para Quarter Knights kembali bergerak untuk membangkitkan Mother. Kota diserang, artefak dicuri, dan Filgaia kembali dihadapkan pada ancaman lama. Namun pukulan terberat datang bukan dari musuh, melainkan dari kebenaran tentang Rudy. Terungkap bahwa ia adalah Holmcross, manusia buatan yang diciptakan sebagai senjata perang di masa lalu.
Gameplay Mechanics yang Membuat Wild Arms Unik
Pada dasarnya, mechanics yang ditawarkan Wild Arms sangatlah familier dengan penggemar RPG pada masanya. Game ini mengusung turn-based mechanics yang cenderung generik di permukaan. Namun, ada satu hal yang menonjol pada game ini, yaitu Force Point (FP), yang diisi selama pertarungan berlangsung. Setiap karakter memiliki serangkaian kemampuan spesial yang hanya bisa digunakan ketika FP mencapai batas tertentu. Fitur ini menuntut kita agar bisa lebih strategis kapan memutuskan menggunakan kemampuan spesial, kapan harus bertahan dengan serangan biasa.
Selain itu, setiap karakter di Wild Arms memiliki empat level Force Ability yang terbuka bertahap mengikuti progres cerita: Rudy dengan Lock On yang merepresentasikan ketepatan seorang penembak dan kemampuan memanggil Guardian, Jack dengan Accelerator yang mencerminkan refleks cepat dan Sonic Vision sebagai klimaks serangan pedangnya, serta Cecilia yang lewat Mystic dan High Guardian.

Di luar battle, Wild Arms juga menyajikan elemen puzzle dalam dungeon-nya. Setiap karakter memiliki kemampuan khusus yang diperlukan untuk memecahkan teka-teki atau melewati rintangan. Misalnya, Rudy dapat menggunakan ARM-nya untuk menghancurkan rintangan, sedangkan Jack dapat memanggil tikusnya, Hanpan, untuk mengambil objek di tempat yang sulit dijangkau.
Mechanics unik lain yang diperkenalkan dalam Wild Arms adalah penggunaan Tools selama eksplorasi. Setiap karakter memiliki alat yang bisa digunakan untuk menyelesaikan teka-teki di berbagai tempat. Ini membuat kita harus berpikir kreatif dalam memanfaatkan kemampuan masing-masing karakter untuk membuka jalan dalam cerita. Misalnya, Rudy memiliki Bombs untuk menghancurkan dinding yang rapuh, sementara Cecilia memiliki sihir untuk memanipulasi elemen di sekitarnya.
Karakter-karakter Utama Wild Arms
Wild Arms memiliki tiga karakter utama yang semuanya memiliki latar belakang menarik dan berkembang seiring perjalanan cerita. Masing-masing karakter memiliki motivasi dan tujuan pribadi yang akhirnya saling bertemu dalam sebuah petualangan besar untuk menyelamatkan dunia Filgaia.

Rudy Roughknight
Rudy adalah protagonis utama dalam game ini. Dia adalah seorang remaja yang memiliki kemampuan misterius untuk menggunakan ARM (sejenis senjata api kuno yang dianggap sebagai kekuatan terlarang di dunia Filgaia). Rudy tumbuh sebagai sosok pendiam dan penyendiri. Karakter Rudy sering kali dibandingkan dengan protagonis JRPG lain yang berperan sebagai “silent protagonist“.

Jack Van Burace
Jack adalah petualang yang didorong oleh masa lalunya yang kelam. Ia terus-menerus mencari “Power,” kekuatan yang diyakini bisa mengubah nasibnya. Jack memiliki partner setia, seekor tikus bernama Hanpan, yang membantunya selama perjalanan. Karakter Jack dikenal sebagai sosok yang penuh ambisi, tetapi seiring perkembangan cerita, ia dihadapkan pada pilihan moral yang kompleks dan menyadari bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi juga pengorbanan.

Cecilia Adlehyde
Cecilia adalah putri kerajaan dari Adlehyde yang memiliki kekuatan sihir. Meskipun ia adalah pewaris tahta, Cecilia merasa terasing dari kehidupan istana dan sering merasakan beban besar sebagai penyelamat dunia. Karakter Cecilia mengalami perkembangan yang signifikan sepanjang cerita.
Remake di PS2 dengan Full 3D Graphics
Pada tahun 2003, tujuh tahun setelah Wild Arms pertama dikenal para gamers, Sony dan Media.Vision kembali membuka lembaran lama. Kali ini dengan niat yang jauh lebih berani. Proyek itu bernama Wild Arms Alter Code: F untuk PlayStation 2, dan sejak diumumkan, satu hal langsung terasa jelas, yakni Alter Code: F diposisikan sebagai remake total dengan upaya membongkar fondasi Wild Arms pertama lalu menyusunnya kembali dengan teknologi dan cara berpikir desain yang sudah berubah drastis sejak era PlayStation generasi awal. Seolah-olah Media.Vision mengandaikan “Bagaimana jika Wild Arms lahir di zaman yang berbeda?”

Di balik keputusan tersebut, ada beberapa kepentingan yang saling beririsan. Momentum ulang tahun franchise menjadi alasan yang paling terlihat. Namun, di balik layar, ada motivasi yang jauh lebih personal. Akifumi Kaneko melihat Alter Code: F sebagai kesempatan untuk menebus masa lalu naskah Wild Arms versi 1996 yang terpaksa dipangkas, terdistorsi oleh keterbatasan disk, dan bermasalah dalam penerjemahan.

Ditambah lagi, kesuksesan Wild Arms 3 di PS2 memberi Media.Vision satu kepercayaan diri baru. Maka, cerita Wild Arms pertama pun dicangkokkan ke engine dan sistem Wild Arms 3.
Perubahan paling mencolok tentu hadir di sisi visual. Alter Code: F meninggalkan sepenuhnya estetika 2D dan sprite chibi, lalu merender Filgaia—kota, dungeon, hingga world map—dalam 3D penuh. Skala dunia pun terasa berubah. Karakter kini memiliki proporsi tubuh yang lebih realistis, kamera tak lagi terpaku dari atas, dan eksplorasi terasa lebih “physical”.
Namun, banyak yang mencatat bagaimana visual 3D awal PS2 kerap terasa lebih kosong, dengan palet warna yang lebih kusam dibandingkan sprite 2D yang cerah dan ekspresif di versi PS1.
Meski pamornya sempat tertimpa oleh popularitas Final Fantasy VII, Wild Arms tetap memiliki penggemar setianya. Jika kalian belum pernah mencoba game RPG satu ini, kalian bisa mencoba versi orisinal atau versi remake.
Selain itu, kami juga membahas game retro lain untuk kamu yang haus informasi terkait sejarah suatu game atau industri game. Maka, terus simak konten insightful dari Gameformia dengan follow media sosial dan baca setiap artikel di website kami.


