Ketertarikan kami pada Chrono Cross pertama kali dari penyematan kata ‘Chrono’ dan juga logo Squaresoft di cover CD-nya. Logo Squaresoft begitu kuat di kala itu bagi penggemar JRPG dengan format turn-based. Selain itu, karakter yang tampil di covernya, Serge dan Kid, begitu keren. Kami pun memiliki ekspektasi cukup tinggi ketika melihat sampul depan CD Chrono Cross.
Ketika memutar lempengan CD di mesin PlayStation, kami sengaja tidak mempercepat intro game ini, lantaran lagunya sangat menarik. Lagunya kuat dengan kesan etnik, namun tetap megah. Di dalam, video intro pun muncul beberapa cuplikan FMV yang pasti muncul di sepanjang perjalanan kami memainkan Chrono Cross. Intro pun selesai kami melihat menu utama dengan latar laut. Kami merasa semakin penasaran, seperti apa yang ditawarkan oleh Chrono Cross. Dan, setelah kami memainkan beberapa jam, kami pun mengerti mengapa game ini begitu istimewa.
Tentunya, sebuah karya yang hebat ada sejarah menarik di baliknya. Dengan itu, bagaimana perjalanan pengembangan game Chrono Cross ini? Apa yang membuat game RPG ini berbeda dengan game RPG lain? Mari simak artikel berikut!
Sejarah Pengembangan Game Chrono Cross
Kolaborasi Squaresoft dengan Akira Toriyama yang melahirkan sebuah game bernama Chrono Trigger, menorehkan kesuksesan yang besar. Di sisi lain, penggemar game dengan karakter yang mirip dengan karakter Dragon Ball ini menunggu kehadiran sekuelnya.
Tepat setelah Xenogears rilis pada tahun 1998, Squaresoft mulai mengembangkan Chrono Cross. Pihak penggemar belum ada yang tahu bagaimana kelanjutan dari game Chrono Trigger ini. Sementara, dari pihak Squaresoft melakukan strategi berbeda dalam pengembangan game penerus Chrono Trigger ini. Tim kreatif Chrono Cross ingin membuat game yang berbeda dari Chrono Trigger, meski dunianya masih terkait dengan game pendahulunya tersebut.
Masato Kato, penulis skenario Chrono Trigger sekaligus otak di balik Chrono Cross, mengaku telah memikirkan proyek ini sejak 1996, tepat setelah Radical Dreamers dirilis, visual novel yang menjadi jembatan samar antara Trigger dan Cross.

Kato merasa Radical Dreamers tidak tuntas secara naratif, dan ia ingin melanjutkan kisah karakter Kid melalui pendekatan yang lebih matang.

Dalam proyek game ini, Masato Kato mengajak Hiromichi Tanaka sebagai produser dan membentuk tim baru dengan merekrut Nobuteru Yūki sebagai desainer karakter dan Yasuyuki Honne sebagai pengarah artistik.

Secara gameplay pun, game ini tidak meneruskan game pendahulunya tersebut. Tim ini benar-benar merombak habis dari segi desain karakter hingga combat mechanics.

Alhasil, tak ada lagi karakter dengan desain ala Akira Toriyama di penerus Chrono Trigger. Ditambah lagi combat mechanics-nya juga terbilang fresh untuk RPG di kala itu.

Kemudian dari sisi tim kreatif pengembang Chrono Cross tidak mau juga mengusung konsep eksplorasi waktu yang mirip dengan Chrono Trigger. Menurut Kato, tak ada guna ketika game setelahnya mirip dengan pendahulunya. Ditambah lagi, otak di balik game ini juga menegaskan bahwa game ini bukanlah Chrono Trigger 2.

Pengembangan game ini berlangsung cukup ambisius. Tim sempat merancang 64 karakter, namun karena keterbatasan waktu dan ruang, jumlah tersebut dipangkas menjadi 45. Untuk menghindari pengulangan desain, tim membangun dunia El Nido, kepulauan kecil yang menjadi tempat di mana Serge bertualang di dua dunia dengan teman-temannya. Untuk visual, game ini memilih arahan artistik yang sempat mereka lakukan dalam game Final Fantasy VIII di mana lokasi dirender secara 2D dan karakter 3D.

Meski tidak dirilis di Eropa, Chrono Cross mendapatkan penerimaan luas, terutama di Amerika Utara setelah proses lokalisasi yang memakan waktu berbulan-bulan. Richard Honeywood memimpin tim penerjemah dengan menyisipkan permainan kata untuk menggantikan lelucon khas Jepang yang sulit diterjemahkan secara harfiah.
Setelah proyek ini rampung, tim pengembang Chrono Cross digabung ke dalam produksi Final Fantasy XI, dan sejumlah sistem teknis dari Cross kemudian digunakan sebagai fondasi mesin game MMO pertama Square tersebut.
Tema Cerita Dunia yang Terpecah
Melekatnya kata “Chrono” yang dimaknai sebagai waktu, cerita dari Chrono Cross mengambil kembali konsep waktu di dalamnya. Namun, alih-alih menitik beratkan pada perjalanan waktu, Chrono Cross berbeda dengan seri pendahulunya.

Game ini mengangkat konsep cerita dunia paralel dengan fraktur temporal, di mana karakter utama harus menemukan kenyataan di dunia yang lain dari dunia aslinya. Ya, tokoh utama bernama Serge terlempar di dunia bernama Another World, dunia yang mirip dengan dunia asalnya, tetapi dengan kenyataan yang jauh berbeda.
Di dunia lain ini, Serge sudah meninggal dan pacarnya yang bernama Leena tidak mengenalinya ketika ia bertemu dengan Leena. Sontak Serge bingung dan terkejut mengetahui kenyataan baru tersebut. Dunia baru yang ia temukan tampak lebih gelap. Orang-orang di Arni Village yang biasa menyapanya, kini tidak mengenalnya lagi, lantaran Serge adalah bocah yang mati tenggelam saat ia berusia tujuh tahun.
Perpecahan realitas antara Home World dengan Another World ternyata berkaitan dengan Schala—sosok yang terjebak di luar ruang dan waktu bersama makhluk kosmik bernama Lavos, sehingga perlahan berubah menjadi entitas bernama Time Devourer. Ya, karakter Schala ini adalah sosok yang kita kenali di Chrono Trigger. Karena iba mendengar Serge kecil menangis akibat hampir tenggelam, Schala memanipulasi waktu demi menyelamatkannya. Hal inilah yang menyebabkan adanya perpecahan dua dimensi yang berbeda.
Dalam perjalanannya mencari tahu identitasnya, Serge bertemu seorang pemburu artefak legendaris Frozen Flame bernama Kid. Tanpa diketahui banyak orang, gadis ini merupakan bayi kloning ciptaan Schala sendiri.

Di sini, Serge dan Kid akhirnya membentuk sebuah koalisi untuk bertualang sembari mengetahui apa yang terjadi di dalam hidup Serge. Petualangan mereka membawa Serge, Kid, dan kawan-kawan bertemu dengan manusia berwujud macan tutul bernama Lynx. Lynx tak hanya misterius, ia juga sosok yang kejam dan juga brutal.
Tak di sangka, Lynx sebenarnya adalah ayah kandung Serge yang tubuh dan pikirannya telah dikendalikan oleh FATE, superkomputer pengatur takdir dari fasilitas masa depan bernama Chronopolis.

Gameplay Mechanics
Meski dari luar Chrono Cross terlihat seperti game JRPG dengan format turn-based pada umumnya. Ada beberapa mechanics dan elemen yang membedakannya dengan RPG sepantarannya.

Game JRPG garapan Squaresoft ini mengusung sistem combat yang inovatif di eranya, di mana kita sebagai pemain perlu berstrategi untuk mengalahkan boss atau musuh yang lebih kuat.

Di game ini, kita takkan menemukan leveling up konvensional, meski grinding tetap menjadi aspek untuk meningkatkan stats karakter. Di samping itu, yang menjadi perhatian dari sistem game satu ini adalah Element Grid dan Field Effect. Keunikan dari sistem ini adalah kemampuan kita untuk lebih peka dan beradaptasi dalam pertarungan dengan musuh.
Sistem Element Grid: Strategi dalam Pertarungan
Magic atau spell menjadi salah satu unsur yang cukup umum di JRPG di kurun waktu pertengahan 90-an hingga awal 2000-an. Game seperti Final Fantasy, Legend of Dragoon, dan beberapa game yang lainnya menyertakan magic yang berbasiskan elemen di dalamnya. Chrono Cross membawanya ke tingkat lebih lanjut. Ya, The Legend of Dragoon memiliki konsep karakter yang disertai dengan elemen spesifik.

Namun, karena dilengkapi dengan sistem Field Effect strategi dalam menggunakan spell punya dampak yang besar di Chrono Cross. Sistem ini menuntut kita untuk lebih menelisik medan pertempuran lebih seksama untuk memaksimalkan spell yang dikeluarkan. Contoh: jika medan pertempuran dikuasai warna merah, kekuatan elemen api akan meningkat, sebaliknya elemen air akan melemah.
Game RPG satu ini menawarkan satu fitur yang disukai oleh penggemar Final Fantasy, yakni summon. Fungsi summon di sini, sama seperti Final Fantasy membantu karakter yang berada di medan pertempuran untuk membantu mengalahkan boss, entah mengeluarkan serangan dengan damage besar atau memulihkan HP karakter.

Sistem Rekrutmen dan Keragaman Karakter
Salah satu langkah radikal yang diambil oleh tim pengembang game RPG satu ini adalah jumlah karakter. Memang, jika dibandingkan Suikoden, jumlah karakternya tidak ada apa-apanya. Namun, sebuah game RPG 3D dengan karakter lebih dari 30 orang sangatlah fantastis di era tersebut. Setiap karakter membawa elemen-elemen yang ada.

Menariknya, karakter-karakter yang bisa kita mainkan ini, terkadang nampak bukan seperti playable character. Latar belakang, motivasi dan bentuknya pun beragam dan aneh-aneh. Seperti Poshul, anjing berwarna pink dan ungi, hingga boneka santet bernama Mojo. Pemilihan karakter juga memiliki pengaruh pada jalan yang kita pilih.
Star Level: Pendekatan Baru dalam Level Up
Berbeda dari RPG tradisional yang biasanya membutuhkan grinding untuk meningkatkan level karakter, Chrono Cross memperkenalkan sistem Star Level. Sistem ini memungkinkan peningkatan level hanya ketika pemain mengalahkan bos dan mendapatkan Star L, yang secara langsung meningkatkan atribut seluruh tim. Setiap kali pemain memperoleh Star Level, mereka juga mendapatkan akses ke slot elemen tambahan di grid karakter, sehingga bisa menempatkan lebih banyak elemen untuk pertarungan.

Mungkin tim pengembang game satu ini tahu keluhan banyak penggemar RPG di kala itu, di mana grinding adalah hal yang penting dalam mengalahkan musuh. Alhasil, dalam memenangkan pertarungan, grinding tidak begitu signifikan perannya. Jadi, alih-alih berfokus pada mengalahkan musuh berkali-kali untuk meningkatkan EXP dan level, Chrono Cross lebih menonjolkan segi strategi dalam mengalahkan musuh.
Tetap Tanpa Random Encounters

Random encounters menjadi unsur yang cukup umum ditemukan di game RPG era 90-an atau awal 2000-an. Chrono Cross mengambil langkah yang berbeda dengan mengikuti apa yang diwariskan oleh pendahulunya, Chrono Trigger. Tak ada random encounters di sini. Jadi, kamu bisa menghindari monster jika sedang tidak siap untuk menghadapi mereka.
Bisa Keluar dari Battle Seleluasa Mungkin
Kebaikan para perancang gameplay Chrono Cross tidak berhenti hanya pada di non-random encounter battle. Di game ini kita bisa dengan leluasa run away dari battle, bahkan ketika menghadapi boss, yang mana sangat sulit ditemukan di game RPG lainnya.
Visual dan Musik: Keindahan yang Menyatu dengan Cerita
Kami masih terpukau bagaimana tim Chrono Cross mampu menyajikan sebuah sajian game yang lengkap secara artistik. Arahan artistik dan visual Chrono Cross menjadi salah satu elemen yang paling dipuji pada era PlayStation pertama. Game ini dianggap berhasil mendorong kemampuan visual konsol tersebut hingga batas maksimalnya.
Berbeda dengan Chrono Trigger yang membawa pemain menjelajahi berbagai era waktu, Chrono Cross memilih fokus pada Kepulauan El Nido, wilayah tropis dengan nuansa hangat dan penuh warna cerah. Game ini menggunakan teknik karakter poligonal 3D yang bergerak di atas latar belakang 2D pra-render (pre-rendered backgrounds). Hasilnya, setiap area dalam game terlihat seperti lukisan detail yang cantik dengan warna-warna cerah.

Selain itu, Perubahan paling mencolok lainnya terlihat dari desain karakternya. Jika Chrono Trigger identik dengan gaya khas Akira Toriyama, kreator seri Dragon Ball, Chrono Cross justru beralih ke sentuhan Nobuteru Yūki yang lebih matang dan sedikit lebih gelap. Karena game ini memiliki 45 karakter yang bisa direkrut, Yūki menghadirkan desain yang sangat beragam dan terkadang terasa nyeleneh untuk ukuran RPG saat itu. Selain karakter manusia biasa, pemain juga bisa menemukan sosok alien, manusia jamur, boneka voodoo, hingga lobak hidup yang membawa pedang.
Menariknya, meski tema utama game ini adalah dimensi paralel, perbedaan visual antara Home World dan Another World tidak dibuat terlalu ekstrem.

Tim pengembang sengaja menghindari perubahan geografi besar karena dalam cerita, perpecahan dimensi baru terjadi sekitar 10 hingga 14 tahun sebelum kisah dimulai. Sebagai gantinya, perbedaan kedua dimensi ditampilkan lewat detail yang lebih halus dan emosional, seperti kondisi kota yang berbeda, perubahan suasana warna, hingga musik latar yang menciptakan nuansa kontras antara satu dunia dengan dunia lainnya.

Sepanjang memainkan Chrono Cross, kami tidak pernah bosan mendengarkan lagu latar Chrono Cross dari intro hingga battle. Bahkan, ketika menulis artikel ini saja, soundtrack Chrono Cross bisa dijadikan teman.Komposisi musik nan eklektik dan megah ini dibuat oleh komposer bernama Yasuniori Mitsuda yang sebelumnya menggarap musik untuk Xenogears. Perpaduan antara musik dan visual dari game satu ini begitu indah. Mitsuda mampu membuat musiknya begitu magical, serta mampu menyampaikan nuansa misteri, kesedihan, dan keindahan. Menariknya lagi, beberapa lagu di game ini dimasukkan unsur ritmik yang terdengar seperti dangdut. Salah satu komposisi paling ikonis dari game ini adalah lagu pembukanya, “Chrono Cross ~Scars of Time~” (CHRONO CROSS ~時の傷痕~). Lagu tersebut dirancang untuk merepresentasikan keseluruhan narasi Chrono Cross.
Sebuah Kritik Atas Kolonialisme Pemukiman dan Krisis Lingkungan
Kami percaya bahwa, seperti lagu, sebuah game dapat menjadi sebuah medium untuk menyampaikan isu apa pun di dalamnya. Misal, Xenogears yang ingin mengangkat isu ketuhanan, Final Fantasy VII tentang bagaimana konglomerasi dapat menghancurkan lingkungan, dan Final Fantasy Tactics yang terpengaruh dari masalah ekonomi-politik Jepang.
Chrono Cross juga mengangkat isu yang sedang marak diperbincangkan (hingga sekarang). Sebuah jurnal artikel yang ditulis oleh dua peneliti dari University of Helsinki, Silva dan Silva (2023) meneliti tentang bagaimana narasi yang diangkat oleh Chrono Cross adalah tentang settler colonialism, isu lingkungan, dan konflik antar-spesies.
Salah satu hal yang paling nampak adanya isu kolonialisme pemukiman atau settler colonialism adalah adanya ‘pengusiran’ para demi-humans dari Marbule dan para kurcaci dari Hydra Marshes oleh para manusia. Sebelumnya, mari kita jelaskan apa itu kolonialisme pemukiman. Silva dan Silva (2023) menjelaskan ada dua hal yang mengkategorikan apa itu kolonialisme pemukan, yang pertama adalah dampak lingkungan memiliki peran dalam pemindahan orang lokal, dan yang kedua adalah adanya dampak serius pada dinamika sosio-kultural dari orang-orang lokal.
Gamers PC Kini Mendapatkan Jatah Memainkan Chrono Cross
Pada tahun 2022, Square Enix merilis Chrono Cross: The Radical Dreamers Edition, sebuah remaster dari game ini di platform modern. Radical Dreamers, cerita sampingan yang mengawali konsep Chrono Cross, juga disertakan, sehingga pemain baru bisa mengetahui dan memahami akar dari cerita Chrono Cross dan memahami konteks game ini. Bagi kamu yang belum mencoba game ini, kami sarankan untuk memainkan game ini!
Kami menyediakan ulasan, rekomendasi, dan informasi menarik lainnya untuk kamu yang ingin menambah wawasan dalam dunia game. Follow Gameformia di YouTube, Instagram, dan Facebook untuk selalu update dengan artikel, video eksklusif, dan wawasan seputar dunia game! Kunjungi website kami untuk artikel mendalam yang bisa memperkaya pengalaman gaming-mu.

