Copy Game Fisik Features Games Opinion

Mengapa Game Fisik Masih Punya Pengaruh yang Signifikan?

Share:

Beberapa waktu lalu, Aldo dari The Lazy Monday membuat video bagaimana game fisik hari ini sangat jauh berbeda dengan masa lampau. Perbedaan di sini tentu bukanlah hal yang positif. Ia menunjukkan betapa produsen game hari ini terasa jauh lebih ‘pelit’ dan tidak mau rugi untuk produk yang mereka hasilkan. Aldo membuka case game 007 First Light yang di dalamnya kosong, sama sekali tak ada lempengan cakram yang biasa kita ketahui selama ini. 

Ia hanya menemukan kode untuk mengakses game tersebut. Dengan sinis dan menyeringai, Aldo mengungkapkan kebingungan akan game ‘fisik’ yang dibelinya tersebut. Kami pun juga heran mengapa kita harus membeli game ‘fisik’ jika yang dibeli hanya bungkusnya saja?

Tak lama setelah video yang tersebar secara viral tersebut, Sony mengumumkan bahwa per Januari 2028, perusahaan tersebut akan menghentikan produksi lempengan disc untuk game-game konsol mereka. Hal ini tentu sontak membuat banyak kalangan kaget, termasuk kami. Apakah langkah PlayStation ini akan seperti apa yang dilakukan IO Interactive pada 007 First Light-nya?

Rockstar Games pun Akan Ikut di Barisan yang Sama

Grand Theft Auto VI atau GTA VI sudah dipastikan akan menjadi behemoth di tahun ini. Tidak sedikit developer nampak takut merilis game-nya di waktu berdekatan dengan game garapan Rockstar Games tersebut. Meski ada juga yang berani menantang kedigdayaan GTA VI—seperti Marvel’s Wolverine garapan Insomniac—eksistensi GTA VI di etalase game sangat ditunggu oleh banyak gamers. 

Beberapa waktu lalu, mencuat sebuah berita yang mengabarkan bahwa Rockstar Games tidak akan merilis versi kopi game fisik untuk perilisan perdana game raksasanya tersebut. Jagat internet pun ramai dibuatnya. Banyak gamers yang kecewa dengan keputusan Take Two Interactive sebagai perusahaan yang memayungi Rockstar. Sebagai korporasi besar, keputusan tersebut terdengar rasional. 

Keramaian tersebut ternyata dicoba diredam oleh Take Two Interactive dan Rockstar itu sendiri. Kopi game fisiknya akan menyusul dirilis beberapa bulan kemudian. Tentu saja pendapat tersebut terbagi dua kubu, ada yang menerima ada yang tetapi kekeuh berpendapat bahwa ini hanya strategi Take Two Interactive untuk memerah tabungan para gamers. 

Ditambah lagi kabar Sony yang ingin menghentikan roda produksi cakram untuk game-nya yang mengeskalasi rasa skeptis para gamers terhadap korporasi game besar. Ketakutan yang sangat wajar di mana membeli game hanya kotaknya saja bisa terjadi, melihat kejadian 007 First Light sebelumnya.

Kojima pun Ikut Khawatir Keputusan Sony

Keputusan Sony tidak hanya dikhawatirkan oleh para konsumen. Dari pihak produsen game seperti Hideo Kojima juga ikut bersuara perihal penghentian produksi game fisik ini. Mendengar strategi yang akan dilakukan Sony Interactive Entertainment ini membuat kreator Death Stranding dan Metal Gear series ini gatal untuk beropini terkait ini. Sewaktu mengunjungi acara Il Cinema in Piazza Film Festival di Italia, Kojima menyempatkan untuk mengeluarkan buah pikirannya terkait isu ini. Ia menilai media fisik masih sangat penting karena aspek kepemilikan konsumen. 

Menurutnya yang tumbuh dengan media fisik seperti cartridge hingga Blu-ray, penghentian produksi ini sangat menyedihkan untuknya. Meski ia merasa kecewa, ia tetap menyatakan sesuatu yang positif terkait game digital. Dibandingkan dengan sistem cloud, game digital masih jauh lebih baik. Para konsumen masih bisa menyimpan perjalanan game-nya ke dalam drive-nya. 

Kojima kembali melanjutkan bahwa layanan streaming seperti Amazon atau Netflix hanya memberikan layanan mereka untuk mereka yang masih berlangganan. Jadi, tak ada bentuk  nyata dari produk yang dibayar oleh konsumen ketika menggunakan layanan tersebut. Hal positif yang dimiliki produk digital nyatanya masih punya risiko besar, lantaran tak ada bentuk materiilnya. Distribusi konten digital memiliki risiko yang memengaruhi distribusi produk yang dikonsumsi para pembelinya jika adanya perubahan kebijakan perusahaan, pergantian kebijakan pemerintahan, dinamika politik, dan faktor lainnya. Akses yang selama ini dimiliki konsumen bisa terhenti akibat hal-hal tersebut. 

Mungkin bagi yang berlangganan layanan streaming tidak memiliki dampak begitu besar lantaran harganya relatif terjangkau. Bagaimana dengan model distribusi digital seperti Steam atau Epic Games Store yang harganya tergolong tinggi?

Harga Hampir Sama Wujud Tidak Ada

Keberadaan layanan distribusi konten digital seperti Steam atau Epic Games Store mengubah lanskap industri game secara keseluruhan, entah positif atau negatif. Kami pun merasakan manfaat yang diberikan oleh platform-platform ini. Dulu, untuk mendapatkan game orisinal, kita perlu merogoh kocek dalam-dalam lantaran harganya yang begitu mahal bagi masyarakat Indonesia seperti kami. 

Selain itu, mendapatkan kopinya sangat sulit. Di era 2000-an akhir dan 2010-an awal, banyak toko yang menjual software mulai menaruh game orisinal di etalase mereka. Harganya? Tentu sulit bisa dijangkau hanya sekali gaji mengingat kami perlu membayar tagihan bulanan dan keperluan harian. Ya, meski mungkin persentase kenaikan game orisinal sekarang tidak berbeda jauh. Platform-platform ini dengan baik hati menghadirkan diskon besar-besaran yang terkadang harganya setara dengan makan siang kami. Dan, kami pun sebagai konsumen juga jauh lebih teredukasi dalam menghargai sebuah karya. 

Selain itu, dari segi produsen keberadaan platform distribusi memudahkan mereka dalam menjajakan karyanya. Bahkan mereka bisa menggapai audiens yang jauh lebih besar yang mereka bayangkan. Studio game asal Indonesia semakin berani menawarkan game-game garapan mereka ke kancah internasional berkat adanya platform ini. 

Kami pun sangat mengapresiasi keberadaan Steam, lantaran kemudahan dan kebaikan yang diberikan oleh platform garapan Gabe Newell ini. Namun, seiring dengan teredukasinya konsumen di Indonesia, hasrat menghargai suatu karya semakin tinggi. Kami sendiri jika memiliki anggaran lebih, kami akan membeli semua format game favorit kami, mulai dari digital hingga fisik sebagai bentuk penghargaan kerja keras atas karya hebat mereka. 

Bagaimana Jika Semua Pindah ke Digital?

Apakah semua produsen game akan merilis karyanya secara penuh hanya dalam format digital ke depannya? Bisa saja. Tetapi ada hal yang mungkin berisiko bagi industrinya sendiri jika semuanya serba digital. Kami sepakat dengan apa yang dikhawatirkan oleh Kojima terkait masalah kepemilikan. Steam sendiri tidak menyediakan installer untuk game-game yang mereka distribusikan. Kita hanya bisa memainkan game yang kita beli melalui platform tersebut jika kita mengakses akun kita. 

Cartridge Super Nintendo

Kami paham ini adalah sebuah bentuk proteksi untuk para developer dari pembajakan dan juga menghindari perangkat yang kita gunakan untuk menjalankan game kita dari virus. Maka dari itu, Steam menyediakan DRM bagi kreator yang mendaftarkan karya mereka ke platform tersebut. Sayangnya hal ini tidak bisa seratus persen benar-benar aman bagi para pembeli. Masa depan tidak pernah ada yang tahu. Hari ini saja, kita sudah dihadapkan beberapa isu geopolitik yang memiliki pengaruh pada keadaan ekonomi kita.

Berbeda dengan GOG yang menyediakan offline installer untuk konsumennya, sehingga bisa disimpan di media penyimpanan sebagai arsip. Pengarsipan ini bagi kami sangat perlu sebagai bukti sejarah dari sebuah zaman. Misal suatu hari dari pihak kreator ingin game ini dicoba oleh gamers yang lebih muda, mereka bisa melakukan remaster terutama dari aspek resolusi gambar. 

Memang Seharusnya Hybrid

Karena kita hidup di dunia materiil, kita tidak akan pernah bisa lepas dari dari segala materi. Bahkan game yang bentuknya digital saja tidak bisa dijalankan begitu saja. Semua butuh perangkat untuk mewujudkannya. Ketakutan akan peralihan total digital juga hal nyata. Para produsen seharusnya tak hanya menjadi wajah produknya, mereka juga bisa mewakili hati para konsumennya. Karena konsumen adalah stakeholder sebenarnya, seberapa kuat investor yang menyokong, tetap konsumen dan penggemar lah yang membantu menghidupkan bahkan membesarkan.

Konsumen hari ini sudah semakin teredukasi dan menghargai karya yang dibuat dengan segenap tenaga dan hati. Beberapa dari mereka bahkan dengan bangga menjadi bagian dari suatu entitas dalam hal ini produk budaya pop. Mereka rela menyisihkan uangnya untuk membeli sesuatu dari kesukaan mereka. 

Lantas, apakah strategi menjadikan semua produk ke format digital tidak berisiko? Apalagi jika kasus 007 First Light terjadi lagi. Bukankah itu sama saja mengecewakan para penggemar yang sudah merelakan mengeluarkan uang dengan segitu banyaknya untuk sebuah karya yang dibuat dengan susah payah? 

Tentu saja kita tak bisa menghindari digitalisasi karena semua sudah terjadi. Kami pun sangat menikmati fasilitas yang diberikan Steam di setiap musim. Bahkan, kami bisa menumpuk banyak game di pustaka digital Steam kami. Namun, adanya kopi game fisik tentu menjadi hal yang baik bukan. Ini bukan tentang romantisme masa lalu saja, tetapi sebuah upaya bagaimana membuat industri ini lebih berkelanjutan terutama penggemar game single player.