Microsoft kembali melakukan perombakan besar di divisi Xbox. Setelah menunjuk Asha Sharma sebagai pemimpin baru Xbox usai pensiunnya Phil Spencer, perusahaan kini merekrut sejumlah eksekutif baru untuk memperkuat bisnis konsol mereka.
Salah satu nama yang paling mencuri perhatian adalah Matthew Ball. Ia ditunjuk sebagai Chief Strategy Officer Xbox setelah sebelumnya dikenal sebagai analis industri yang sempat menyebut industri game sedang kalah dalam perebutan perhatian publik melawan platform judi, kripto, pornografi, hingga aplikasi berbasis AI.
Menurut laporan The Game Business, Ball akan berfokus memperkuat lini konsol Xbox, terutama di tengah meningkatnya biaya komponen perangkat keras dan persaingan pasar yang makin ketat.
Sebelum bergabung dengan Xbox, Ball pernah menjabat sebagai kepala strategi di Amazon Studios. Ia juga dikenal sebagai penulis buku The Metaverse yang membahas konsep metaverse dan dampaknya terhadap industri teknologi.
Lewat laporan tahunannya bertajuk State of Video Gaming, Ball sebelumnya menyoroti bagaimana industri game kini harus bersaing memperebutkan waktu dan perhatian pengguna dengan platform seperti TikTok, kripto, aplikasi AI, hingga OnlyFans.
Selain Ball, Xbox juga merekrut Scott Van Vliet sebagai Chief Technology Officer baru. Vliet memiliki pengalaman panjang di bidang AI di Microsoft dan sempat bekerja di Amazon Game Studios serta perusahaan mainan Mattel.
Ia disebut akan membantu meningkatkan sistem pengembangan produk Xbox, termasuk kemungkinan terlibat dalam proyek konsol terbaru yang saat ini dikenal dengan nama Project Helix.
Dalam email internal kepada staf Xbox, Sharma menyebut perubahan struktur ini dilakukan untuk memperkuat fondasi perusahaan sekaligus memperjelas arah eksekusi bisnis ke depan.
Perubahan ini bertujuan memperkuat fondasi kami dengan menciptakan kejelasan yang lebih baik dan meningkatkan eksekusi.
Sharma juga menegaskan bahwa Xbox masih akan terus melakukan penyesuaian strategi dalam beberapa waktu ke depan.
Saat kita menuju Showcase dan seterusnya, kami akan terus melakukan perubahan yang diperlukan untuk memposisikan Xbox di masa depan.
Pernyataan tersebut merujuk pada Xbox Games Showcase 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 7 Juni mendatang.
Langkah restrukturisasi ini juga melanjutkan perubahan yang sebelumnya dilakukan Sharma sejak resmi memimpin Xbox awal tahun ini. Salah satu keputusan yang cukup mencolok adalah dihentikannya kampanye “Xbox Play Anywhere” sebagai bagian dari upaya untuk mereset bisnis konsol Xbox.
Meski Microsoft terus membawa talenta berlatar belakang AI ke divisi gaming mereka, langkah ini belum tentu menandakan Xbox akan sepenuhnya beralih ke teknologi AI. Sharma sendiri diketahui sempat menghentikan pengembangan konsep pendamping gaming berbasis AI bernama Copilot demi mempercepat proses internal perusahaan.
Di sisi lain, Microsoft juga masih menghadapi tekanan politik dari sejumlah gerakan yang menyerukan boikot terhadap bisnis gaming mereka. Tekanan itu berkaitan dengan hubungan perusahaan dengan Kementerian Pertahanan Israel dan dugaan penyimpanan data pribadi warga Palestina di server Microsoft.
Dengan berbagai perubahan besar yang terus dilakukan, mampukah Xbox kembali memperkuat posisinya di tengah persaingan industri game yang makin agresif?

