Separuh Interactive, studio game dari Jakarta, sempat membuat heboh ketika trailer lama Agni: Village of Calamity memakai musik Jepang di mana menjadi keputusan yang akhirnya menimbulkan pro dan kontra di kalangan pemain. Namun, menurut sang marketing director, pemilihan musik itu bukan soal estetika semata, melainkan strategi matang untuk meraih perhatian internasional.
Menurut Bayu Arafat (Co-Founder & Marketing Director Separuh Interactive), musik Jepang dipilih karena latar acara pameran yang berbeda. Ia mengatakan:
“Kenapa action? Karena CERO itu lumayan ketat terhadap game-game yang cukup gore. Musik Jepang juga sengaja dipilih untuk menarik pengunjung dan publisher Jepang.”
Penjelasan ini mengindikasikan bahwa di event besar internasional seperti Tokyo Game Show 2025, tim merasa perlu menyesuaikan konten agar lolos regulasi rating di Jepang, terutama karena game dengan unsur kekerasan atau horor eksplisit bisa terkendala oleh kebijakan lembaga rating lokal.
Pada akhirnya, trailer versi TGS itu dipakai ulang di ID@Xbox Showcase Fall 2025 karena tim tidak sempat membuat trailer baru dalam waktu singkat. Meski sempat menuai kritik di dalam negeri, strategi itu ternyata membawa berkah: trailer tersebut menjadi salah satu yang paling banyak ditonton dalam acara tersebut, bahkan menarik perhatian sejumlah publisher luar negeri. Sebuah hasil yang menurut Bayu terasa seperti “berubah dari bubur jadi bubur ayam spesial.”
Kini, dengan trailer terbaru yang memakai lagu nina bobo, dan nuansa horor yang lebih kuat, Separuh Interactive membuktikan bahwa mereka bisa menyajikan game horor Indonesia dengan identitas lokal sembari tetap mempertajam strategi global mereka.
Rencananya, Agni: Village of Calamity akan dirilis pada 2026, terlebih dahulu untuk Steam dan Xbox, sebelum menyapa pengguna PS5.

