Potensi yang dimiliki konsol 128-bit membuat Capcom semakin yakin bahwa Auto Modellista adalah proyek yang memungkinkan untuk diwujudkan. Meski tidak tampil dengan visual fotorealistik ala Gran Turismo, yang jelas menuntut kemampuan hardware jauh lebih besar, Auto Modellista justru hadir sebagai perwujudan ide segar, sebuah antitesis terhadap arus utama game racing pada masanya.
Ketika sebagian besar game balap berlomba mengejar realisme visual, karya Capcom ini memilih jalur berbeda lewat penggunaan cel-shaded graphics. Di era kebangkitan konsol 128-bit, gaya visual yang memadukan model 3D dengan garis tegas bergaya kartun ini mulai banyak diadopsi oleh berbagai judul. Lantas, bagaimana ide di balik game racing yang tidak lazim ini pertama kali muncul di benak tim Capcom? Mari kita telusuri lebih jauh.
Latar Belakang Pembuatan: Berani Beda di Tengah Dominasi Realisme
Hegemoni Photorealistic Graphics di Kancah Game Balap
Konsol generasi keenam adalah generasi konsol yang menghadirkan sebuah lonjakan teknologi yang sangat signifikan. Konsol 64-bit dari Nintendo belum bisa menghadirkan teknologi yang melampaui konsol di eranya yang hadir dengan teknologi 32-bit: PlayStation dan Sega Saturn. Kehadiran DreamCast, PlayStation 2, GameCube, dan Xbox menjadi sebuah penanda zaman milenium baru sekaligus pembuka gerbang baru teknologi video game.

Konsol-konsol 128-bit ini menghadirkan lompatan kualitas visual yang signifikan, mulai dari fidelitas grafis yang meningkat tajam, objek yang dibangun dari poligon lebih kompleks serta palet warna yang jauh lebih kaya. Pada fase ini, para oengembang mulai mewujudkan visi desain game yang sebelumnya terhambat oleh keterbatasan teknis generasi terdahulu.
Dari konteks inilah judul-judul seperti Gran Turismo 3, Ridge Racer V, dan Driving Emotion Type-S lahir, terutama pada awal hingga dua tahun pertama kehadiran PlayStation 2. Bahkan Squaresoft—yang kini dikenal sebagai Square Enix—ikut mencoba peruntungannya di ranah game balap lewat Driving Emotion Type-S.

Pengembang yang selama ini dikenal akan seri Street Fighter, Megaman, dan beberapa game action dan fighting lainnya, ingin turut serta dalam kancah game balap. Namun, ketika game balap yang ada di PS2 berlomba-lomba mengejar grafis yang lebih realistis, Capcom ingin mengambil arah yang berbeda, yakni dengan grafis cel-shaded. Penerapan grafis cel-shaded di kala itu masih tergolong baru, dan di sinilah Capcom melihat celah peluang ide. Mereka bertujuan untuk tidak mengalahkan Gran Turismo 3, tetapi ingin menunjukkan ide mereka tak kalah menarik.
Terinspirasi Kultur Mobil Modifikasi
Selain bangkitnya konsol generasi baru dengan teknologi yang lebih mutakhir, kultur mobil modifikasi juga meledak di kala itu. Film The Fast and the Furious, anime Initial D dan Wangan Midnight di Jepang, menjadi salah satu pendorong popularitas kebudayaan tersebut.

Berkat produk budaya pop tersebut, banyak orang mulai menolehkan kepalanya ke mobil-mobil yang secara ekstensif dapat dimodifikasi, seperti Nissan Skyline GT, Toyota Supra, dan Mazda RX-7. Mobil-mobil di atas mampu secara perlahan menyingkirkan mobil eksotis buatan Eropa.

Dari sinilah Capcom Production Studio 1 menangkap semangat zaman tersebut ke dalam bentuk video game, yakni sebuah game berjudul Auto Modellista. Proyek ini dipimpin oleh figur-figur kunci seperti Hideaki Itsuno, yang dikenal sebagai director seri Devil May Cry, Yoshihiro Sudou sebagai produser, Tatsuya Nakae, dan Shinichiro Obata.

Nama Auto Modellista sendiri diambil dari bahasa Italia yang berarti “Perancang Mobil”. Nama tersebut sudah dapat secara gamblang didefinisikan sebagai orang yang gemar merancang mobil. Karena budaya modifikasi sedang populer, tentu saja nama tersebut kongruen dengan esensi yang diusung oleh game balap garapan Capcom ini. Menariknya, tim pengembang tersebut tak hanya memikirkan urusan gameplay dan juga graphics. Mereka mencoba mendekati beberapa brand mobil besar untuk mendapatkan lisensi. Alhasil, lisensi mobil seperti Nissan, Honda, Mazda, Mitsubishi, Subaru, Toyota, Suzuki, dan Daihatsu mereka dapatkan.
Penerapan Teknologi Cel-Shading
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, yang membuat Auto Modellista begitu distingtif dari game balap lain adalah teknologi grafis yang bernama Artistoon (gabungan kata dari Artist dan Cartoon). Teknologi ini dirancang secara spesifik untuk mengakomodasi proses cel-shading (toon shading) secara real-time pada model 3D dengan tingkat kompleksitas tinggi.
Walaupun teknik cel-shading telah diterapkan oleh Smilebit dan BitWorks lewat Jet Set Radio pada tahun 2000 untuk Dreamcast, yang menjadikan tantangan bagi Capcom adalah penerapannya pada objek dengan proporsi realistis seperti kendaraan.

Dalam pendekatan cel-shading konvensional, pencahayaan direduksi menjadi pita-pita warna diskrit untuk meniru estetika ilustrasi dua dimensi yang datar. Persoalan muncul ketika teknik ini diterapkan pada mobil. Objek seperti mobil ini perlu pencahayaan dinamis untuk menegaskan volume dan karakter material. Alhasil, engine Artistoon menjawab tantangan ini lewat pendekatan hibrida.
Alih-alih mengubah bentuk mobil menjadi kartunis, proporsi dan geometrinya tetap realistis, lalu dibungkus shader kontras tinggi dengan garis hitam tebal seperti goresan tinta. Kemudian, yang membuatnya menarik lagi adalah visual efek ala komik atau manga.
Jadi, ketika mobil dipacu pada akselerasi tinggi pinggiran layar dipenuhi garis-garis radial yang membentuk ilusi bahwa mobil tersebut berada pada kecepatan tinggi. Menariknya, dibandingkan game-game seusianya, menurut kami Auto Modellista tak lekang dimakan zaman. Apalagi, jika di-upscale resolusi dan jagged lines di sekitar objek dihilangkan, grafis game ini akan makin cantik.
Gameplay Mechanics
Pada versi awal yang dirilis di Jepang dan Eropa, Auto Modellista hadir dengan kontrol yang relatif bisa diadaptasi dan mudah dipahami oleh pemain awam. Mobil terasa cukup melekat di aspal. Meskipun perbedaan penggerak roda masih terasa, semuanya dibungkus dalam gaya arcade yang ringan.
Drift memang bisa dilakukan, tetapi tidak semudah sekadar membanting setir. Kita perlu bermain dengan rem dan perpindahan bobot mobil. Kurang lebih, secara driving mechanics mirip pendekatan Ridge Racer, tetapi versi lebih ringan. Sayangnya, saat rilis, pendekatan ini justru menuai kritik. Banyak yang merasa mobil terlalu ringan, balapannya terlalu mudah, dan kecepatan cepat sekali turun saat mobil mulai miring. Dalam kondisi ini, gaya mengemudi grip menjadi pilihan paling aman dan efektif.
Merespons kritik bahwa game ini kurang menantang, Capcom melakukan langkah ekstrem di versi Amerika Utara dan rilis ulang U.S. Tuned. Physics-nya diubah total, dan hasilnya terasa langsung drastis. Traksi ban diturunkan jauh, sampai-sampai banyak gamers menyebut sensasinya seperti mengemudi di atas es.

Di versi ini, mobil sangat mudah oversteer. Sedikit saja, bagian belakang mobil langsung drifting. Bahkan muncul istilah crab walk, di mana mobil meluncur menyamping tapi tetap menghadap ke depan
Menariknya, penilaian itu berubah seiring waktu. Saat dilihat ulang hari ini, versi Jepang dan Eropa justru dianggap lebih enak dikendalikan. Handling-nya konsisten dan bisa diprediksi, sehingga membuat balapan terasa lebih nyaman.
Mode di Auto Modellista
Garage Life
Bisa dikatakan, mode ini adalah mode karir jika kita ingin mengacu ke game lainnya. Namun, menariknya mode ini berbeda dengan career mode dalam game balap mobil tradisional yang hanya berfokus pada piala saja. Di Garage Life, kita akan ditekankan sebagai seorang tuner. Jadi, seiring dengan progresi di game, kita bisa membuka suku cadang, mobil baru, dan item untuk dekorasi garasi.
Arcade Mode
Mode in menawarkan balapan yang lebih instan. Jadi, tidak ada upgrade dan progresi di sini. Selain itu, di mode ini terdapat mode split-screen untuk format multiplayer.
Network Play
Di era awal 2000-an sudah ada game yang bisa dimainkan secara online di konsol? Nah, Auto Modellista bisa dibilang adalah pionirnya. Dengan alat tambahan di PlayStation 2-mu, kamu bisa menghubungkan konsolmu dengan koneksi internet.
Kesimpulan
Auto Modellista adalah salah satu game balap klasik yang masih layak dimainkan untuk generasi sekarang. Mulai dari visualnya yang unik, hingga mechanics yang mudah dipahami. Selain itu, sebagai game yang memiliki visual yang berbeda, game ini hadir dengan deretan mobil berlisensi. Jika kamu ingin memainkan game ini, kami sarankan untuk memainkan versi Jepang atau Eropanya dibanding versi Amerikanya.
Selain Auto Modellista kami juga membahas game klasik lain yang tak kalah seru. Di samping itu, kami juga hadirkan banyak konten menarik yang bisa kamu ikuti di media sosial dan website kami. Jangan lupa follow, ya!


