Perdebatan soal penggunaan artificial intelligence (AI) dalam pengembangan game kembali mencuat. Kali ini, sorotan datang dari pernyataan CEO The Astronauts, Adrian Chmielarz, yang ikut menanggapi polemik seputar keputusan Larian Studios menjajal teknologi AI generatif dalam proses awal pengembangan seri Divinity.
Isu ini mencuat setelah CEO Larian, Swen Vincke, mengungkap bahwa timnya sempat bereksperimen dengan AI generatif pada tahap awal produksi. Pernyataan tersebut memicu gelombang kritik, meski Vincke kemudian menegaskan bahwa game tersebut tidak akan dirilis dengan aset buatan AI. Menurutnya, teknologi itu hanya digunakan sebagai alat bantu eksplorasi ide, bukan untuk menggantikan peran manusia dalam proses kreatif.
Meski klarifikasi sudah disampaikan, perdebatan terlanjur melebar. Banyak pihak tetap menyoroti potensi dampak etis dan lingkungan dari penggunaan AI dalam industri game, terlepas dari apakah teknologi tersebut benar-benar digunakan dalam produk akhir atau tidak.
Menanggapi hal itu, Chmielarz menyebut bahwa Larian sebenarnya hanya “kurang beruntung” dalam cara informasi tersebut sampai ke publik. Ia menilai reaksi yang muncul lebih disebabkan oleh sensitivitas isu AI itu sendiri. “Menurut saya, Larian jelas bukan pihak yang jahat,” ujar Chmielarz dalam wawancaranya dengan TechRaptor. Ia menambahkan bahwa dari pernyataan-pernyataan yang disampaikan, terlihat jelas bahwa tim Larian sedang benar-benar memikirkan secara serius dampak dan arah penggunaan teknologi tersebut ke depan.
Berbeda dengan Larian, Chmielarz menegaskan bahwa timnya di The Astronauts tidak menggunakan AI generatif dalam pengembangan Witchfire. Ia mengaku hanya memanfaatkan AI sebatas untuk merapikan teks placeholder, mengingat bahasa Inggris bukan bahasa pertamanya. Di luar itu, seluruh proses kreatif tetap dilakukan secara manual oleh tim.
Menariknya, Chmielarz justru melihat sisi positif dari ramainya perdebatan soal AI di industri game. Menurutnya, kekhawatiran publik menunjukkan bahwa banyak orang masih sangat peduli pada asal-usul sebuah karya. “Mereka ingin merasakan hubungan dengan manusia lain melalui karya seni,” ujarnya.
Pernyataan tersebut seolah menegaskan bahwa di tengah kemajuan teknologi, sentuhan manusia tetap menjadi elemen penting yang tidak tergantikan dalam industri game.


