Gelaran perdana New Game+ Showcase yang berlangsung baru-baru ini memang tak luput dari kritik. Alih-alih tampil seperti ajang pamer game besar-besaran, acara tersebut dinilai lebih menyerupai sesi podcast panjang para kreator konten. Meski begitu, sejumlah informasi menarik tetap muncul ke permukaan, termasuk klaim ambisius soal skala dunia dari salah satu game open-world RPG yang dijadwalkan meluncur pada 2026.
Game yang dimaksud adalah Crimson Desert, proyek action-adventure terbaru dari Pearl Abyss, studio asal Korea Selatan yang dikenal lewat MMORPG Black Desert Online. Dalam sesi wawancara di acara tersebut, perwakilan PR Pearl Abyss, Will Powers, mengungkapkan bahwa ukuran dunia Crimson Desert jauh melampaui kesan awal yang terlihat di trailer dan pratinjau.
Menurut Powers, area yang dapat dijelajahi pemain di Crimson Desert, yakni benua fiktif bernama Pywel, yang memiliki luas dua kali lipat dari Skyrim dan bahkan disebut lebih besar dibanding peta Red Dead Redemption 2. Klaim ini muncul sebagai respons atas anggapan bahwa area luas yang selama ini ditampilkan hanyalah “sebagian kecil dari keseluruhan peta”.
Pernyataan tersebut sejatinya tidak terlalu mengejutkan jika melihat rekam jejak Pearl Abyss sebagai pengembang game berskala masif. Crimson Desert sendiri memang berangkat dari konsep MMORPG sebelum akhirnya bertransformasi menjadi game single-player berfokus pada aksi dan narasi. Namun, tetap saja, janji soal ukuran dunia yang begitu besar memantik diskusi lanjutan.
Dari materi promosi yang beredar sejauh ini, Crimson Desert memperlihatkan lanskap yang memanjakan mata, sistem pertarungan yang solid, serta satu fitur yang hampir selalu mencuri perhatian: pemain bisa menunggangi naga.
Meski terdengar menggoda, muncul pula kekhawatiran klasik yang kerap menyertai game open-world berskala raksasa: apakah dunia seluas itu benar-benar punya tujuan, atau sekadar ruang kosong yang luas untuk dilalui?

Powers mencoba meredam keraguan tersebut. Ia menegaskan bahwa ukuran semata bukan prioritas utama. “Skala tidak berarti apa-apa jika tidak ada yang bisa dilakukan,” ujarnya. Menurutnya, esensi game open-world terletak pada aktivitas, gangguan, dan interaksi yang membuat pemain betah berlama-lama. Karena itu, Pearl Abyss mengklaim berupaya membangun dunia yang bukan hanya besar, tetapi juga responsif dan interaktif.

Dalam sesi yang sama, streamer Luality beberapa kali menekan Powers dengan pertanyaan lebih spesifik. Mulai dari kemungkinan melawan naga secara langsung hingga opsi menjalin romansa dengan karakter NPC. Namun, jawaban yang paling sering ditekankan oleh Powers justru berkutat pada keberadaan “beragam sistem crafting yang mendalam”.
Di titik inilah, klaim soal ukuran peta di tahun 2026 mulai terasa kehilangan bobotnya. Industri game telah berulang kali membuktikan bahwa dunia superluas tidak selalu sejalan dengan pengalaman bermain yang bermakna. Ruang kosong boleh saja ada, tetapi jika fungsinya sebatas tempat mengumpulkan material crafting, nilai eksplorasinya menjadi dipertanyakan.
Karena itu, tidak sedikit pemain kini lebih menghargai game yang mampu memaknai ruang dan medan permainannya, seperti yang ditunjukkan Death Stranding 2. Di tengah tren saling adu luas peta, ukuran akhirnya bukan lagi tolok ukur utama. Yang lebih penting adalah apa yang benar-benar bisa dilakukan pemain di dalamnya, bukan seberapa jauh mereka bisa berjalan.


