Ubisoft menyatakan telah berhasil membalikkan arus kritik yang sempat membayangi perilisan Assassin’s Creed Shadows. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh CEO Ubisoft, Yves Guillemot, dalam sesi diskusi di Paris Game Week, seperti dilaporkan oleh Game File.
Dalam acara tersebut, Guillemot awalnya membahas perkembangan teknologi dalam industri game, mulai dari dunia live service, NPC berbasis Artificial Intelligence, hingga potensi virtual reality. Namun sebelum sampai ke sana, ia menyinggung topik yang sempat menjadi batu sandungan bagi perusahaannya: kontroversi seputar Assassin’s Creed Shadows.
Menurut laporan Game File, Guillemot memutar sebuah video berdurasi tiga menit yang menggambarkan bagaimana Ubisoft menghadapi kritik keras yang muncul setelah pengumuman game tersebut. Video yang disebut “korporat tapi dramatis” itu menjelaskan strategi internal perusahaan dalam mengubah situasi yang semula penuh tekanan menjadi momentum positif menjelang perilisan.
Kritik dan Tuduhan “Woke”
Assassin’s Creed Shadows pertama kali diumumkan dengan dua karakter utama, salah satunya Yasuke, seorang samurai kulit hitam yang benar-benar eksis dalam sejarah Jepang. Alih-alih disambut positif, sebagian pengguna internet menuduh Ubisoft “terlalu woke” karena mengangkat sosok tersebut.
Gelombang kritik itu membuat Ubisoft menunda perilisan berkali-kali dengan alasan “menyesuaikan masukan pemain”. Game ini akhirnya resmi dirilis pada 20 Maret 2025.
Dalam presentasinya, Guillemot mengakui bahwa perusahaan sempat “terkejut dengan besarnya serangan” yang datang dari komunitas pemain. “Kami segera sadar bahwa ini bukan sekadar kritik, tapi pertentangan dengan para penggemar kami sendiri,” ujarnya. “Kami harus membuktikan bahwa Assassin’s Creed lebih dari sekadar pesan ideologis, melainkan ini tentang pengalaman bermain.”
Strategi Balik Arah
Video yang diputar Guillemot menjelaskan titik balik strategi komunikasi Ubisoft. “Pada September 2024, kami sudah terpojok,” bunyi narasinya. “Untuk keluar dari situasi itu, kami harus berhenti berfokus pada mereka yang membenci kami, dan mulai menyalakan semangat para pendukung kami.”
Ubisoft kemudian mengambil langkah yang tidak populer: menunda peluncuran Shadows untuk memberi waktu lebih bagi tim pengembang memoles dan mengoptimalkan game. Perusahaan juga membuka akses lebih luas kepada kreator konten, media, dan penggemar untuk melihat langsung proses pengembangan. “Kami beralih dari janji menjadi bukti,” kata narator dalam video tersebut. “Alih-alih takut bocor, kami tunjukkan game-nya apa adanya.”
Ribuan aset visual dan materi gameplay diproduksi dalam hitungan minggu. Pendekatan terbuka itu, menurut Ubisoft, berhasil membangun kembali kepercayaan komunitas. “Dengan para sekutu di sisi kami, kami menemukan kembali keberanian untuk berbicara lantang, bahkan menghadapi pembenci paling keras,” tulis narasi tersebut.
Momentum yang Berbalik
Ketika Assassin’s Creed Shadows akhirnya dirilis, momentum publik telah berubah. Ubisoft menyebut dukungan penggemar sebagai faktor kunci dalam mengubah citra game ini dari target kritik menjadi salah satu rilisan yang paling diperbincangkan.
Meski begitu, Game File mencatat bahwa video yang ditayangkan Guillemot tidak membahas secara langsung akar masalah dari reaksi negatif tersebut. Beberapa pengamat menilai langkah Ubisoft untuk menunda peluncuran juga dipengaruhi oleh kinerja Star Wars Outlaws yang sebelumnya dianggap mengecewakan, dan perusahaan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dua kali berturut-turut.
Reputasi yang Pulih
Dalam ulasan terbarunya, VGC menulis bahwa Assassin’s Creed Shadows tampil jauh melampaui ekspektasi publik. “Dengan gameplay solid, narasi yang kuat, dan dunia yang luas serta memukau, Shadows melakukan apa yang paling dibutuhkan Ubisoft: mengembalikan kepercayaan pada salah satu waralaba terbesar dan paling bermasalah dalam industri game modern.”
Langkah Ubisoft mungkin belum sepenuhnya menutup bab kontroversi, tetapi setidaknya menunjukkan bahwa perusahaan belajar dari krisis yang mereka hadapi, dan memanfaatkannya untuk membangun kembali hubungan dengan penggemar yang sempat goyah.

