Perdebatan soal microtransaction kembali mencuat setelah Assassin’s Creed Shadows ikut menyertakan model monetisasi tersebut. Fenomena yang awalnya lazim di game free-to-play ini kini makin sering muncul di game single-player, dan Ubisoft menjadi salah satu penerap paling konsisten. Meski menuai kritik, mereka tetap bersikukuh bahwa microtransaction membawa manfaat bagi pengembangan game.
Dalam wawancara dengan Access The Animus, Simon Lemay-Comtois selaku direktur Assassin’s Creed Shadows mengatakan bahwa microtransaction digunakan sebagai sumber dukungan berkelanjutan bagi proyek mereka. Ia menegaskan bahwa konten berbayar itu memungkinkan tim untuk terus memperbarui game, meski tidak semua pemain setuju dengan pendekatan tersebut.
Pernyataan ini hadir di tengah ramainya sorotan terhadap harga microtransaction di Shadows. Beberapa item kosmetik dianggap terlalu mahal, sementara battle pass-nya dibanderol hingga USD 50 (angka yang hampir menyamai harga game versi penuh ketika sedang diskon). Kritik pun bermunculan, terutama dari pemain yang menilai praktik tersebut sebagai upaya “meraup uang” yang tidak semestinya ada di game single-player.
Namun, Ubisoft tampak tidak gentar. Dalam beberapa tahun terakhir, model monetisasi ini terbukti menghadirkan keuntungan besar bagi perusahaan. Bahkan sebelumnya mereka sempat menyatakan bahwa microtransaction dapat membuat pengalaman bermain “lebih menyenangkan”—klaim yang langsung dibantah keras oleh komunitas pemain.
Di sisi lain, performa konten tambahan Assassin’s Creed Shadows tidak berjalan mulus. DLC terbarunya gagal menarik minat, dan Ubisoft memilih untuk melewati perilisan DLC kedua. Kolaborasi mereka dengan Attack on Titan juga memperoleh respons negatif, menandakan bahwa strategi pembaruan konten yang diandalkan perusahaan belum sepenuhnya membuahkan hasil.
Sementara perdebatan terus berlangsung, Ubisoft masih bertahan pada pandangan bahwa microtransaction diperlukan untuk menjaga game mereka tetap hidup. Bagi banyak pemain, alasan itu belum cukup kuat untuk menghapus kesan bahwa model tersebut lebih menguntungkan penerbit daripada komunitasnya.

