Praktik monetisasi agresif yang kini lekat dengan seri Call of Duty ternyata memiliki jejak panjang sejak lebih dari satu dekade lalu. Dokumen baru yang termasuk dalam Epstein Files mengungkap adanya pembahasan awal soal mikrotransaksi di internal Activision, dengan melibatkan nama kontroversial Jeffrey Epstein.
Korespondensi tersebut melibatkan Epstein, futurolog Pablos Holman, serta mantan CEO Activision Blizzard, Bobby Kotick. Dokumen ini berasal dari lebih dari tiga juta arsip Epstein Files yang dirilis ke publik pada Jumat lalu. Salah satu topik yang dibahas secara eksplisit adalah strategi “mengindoktrinasi anak-anak ke dalam sebuah ekonomi” melalui kosmetik di dalam game.
Dalam salah satu email, Kotick menyinggung soal pentingnya insentif yang memiliki nilai di dunia nyata. Ia menyebut bahwa hadiah dalam sistem tersebut tidak harus selalu berupa uang.
“Hadiah X itu ide bagus, tapi kuncinya ada pada imbalan dunia nyata. Belajar membaca: [dapatkan] menit telepon seluler, kredit iPhone, item virtual di dalam game,” tulis Kotick dalam email kepada Epstein.
Pernyataan ini kemudian dikomentari oleh Pablos Holman dengan nada sinis.
“Saya sangat mendukung indoktrinasi anak-anak ke dalam ekonomi. Kamu harus suka bagaimana contoh ‘kejadian dunia nyata’ versinya justru adalah ‘item virtual di dalam game’.”
Waktu pengiriman email ini juga menarik perhatian. Korespondensi tersebut tercatat dikirim pada 3 Mei 2013, hanya beberapa bulan setelah Call of Duty: Black Ops II meluncur. Judul ini dikenal sebagai game pertama dalam seri Call of Duty yang memperkenalkan mikrotransaksi.
Tak lama setelah peluncuran Black Ops II, Activision mulai bereksperimen dengan berbagai item berbayar, mulai dari paket personalisasi, slot tambahan, hingga calling card berbayar. Item mikrotransaksi pertamanya sendiri dirilis pada 12 April 2013.
Eksperimen tersebut kemudian berkembang jauh lebih masif lewat Call of Duty: Ghosts yang dirilis di akhir tahun yang sama. Game ini menghadirkan lebih banyak konten berbayar, seperti karakter spesial, paket voice over, skin, camo, bahkan senjata.
Meski sulit memastikan hubungan sebab-akibat secara langsung, garis antara diskusi internal tersebut dengan lonjakan mikrotransaksi di Call of Duty cukup mudah ditarik. Yang membuat banyak pihak merasa tidak nyaman bukan sekadar praktik monetisasinya, melainkan niat eksplisit untuk menyasar anak-anak sebagai target ekonomi sejak dini.
Nama Bobby Kotick Muncul Ratusan Kali
Keterkaitan Bobby Kotick dengan Epstein juga tidak berhenti pada satu atau dua korespondensi. Penelusuran nama belakang Kotick dalam arsip Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) menunjukkan lebih dari 300 kemunculan namanya di Epstein Files.
Dokumen tersebut mengindikasikan bahwa hubungan keduanya cukup dekat. Pada 2012, Epstein bahkan sempat mengundang Kotick ke pulau pribadinya.
“Sangat baik dari Anda untuk menawarkan. Saya rasa jadwalnya tidak memungkinkan. Senang bisa menghabiskan waktu bersama Anda dan tim ahli Anda,” tulis Kotick dalam balasannya.
Namun, nada komunikasi berubah dalam email lain pada 2013. Ketika Epstein menyebut rencananya bertemu Elon Musk di SpaceX dan membawa “para gadis” ke Bel Air setelahnya, Kotick merespons singkat.
“Beri tahu saya jam berapa.”
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Activision Blizzard maupun Bobby Kotick terkait isi korespondensi tersebut.


