Seri Ys besutan Nihon Falcom menjadi salah satu waralaba action RPG terlama di industri game Jepang. Hampir empat dekade sejak debut perdananya, seri ini masih terus berlanjut dan relevan. Menurut Fuyuto Takeda, editor manga veteran yang lama berkecimpung di Weekly Shonen Jump, kunci utama daya tahan Ys terletak pada satu prinsip sederhana, yaitu karakter lebih penting daripada cerita.
Pandangan itu ia sampaikan dalam wawancara terbaru bersama Game*Spark, yang mengulas Ys X dari sudut pandang pengalamannya mengelola manga-manga panjang seperti Dragon Ball dan One Piece. Takeda, yang pernah menjadi editor ketiga Akira Toriyama untuk Dragon Ball, menilai konsistensi Ys sebagai pencapaian yang jarang terjadi, bahkan jika dibandingkan dengan dunia manga.
Takeda menyoroti bagaimana Ys X membuka ceritanya lewat eksekusi Kapten LaSalle—sebuah adegan yang menurutnya efektif sebagai opening hook. Adegan tersebut langsung memperkenalkan sisi brutal Karja, heroine utama, sekaligus memancing rasa penasaran pemain terhadap sosok kapten yang identitas dan kisahnya baru diungkap kemudian melalui side quest. Menurut Takeda, pendekatan ini menunjukkan keunggulan medium game, di mana cerita bisa berkembang seiring kedalaman eksplorasi pemain, sesuatu yang sulit diterapkan dalam manga.
Ia juga menilai tantangan membuka cerita dalam game jauh lebih kompleks dibanding manga. Game harus menjelaskan sistem permainan sekaligus membangun narasi, sementara manga bisa langsung fokus pada cerita. Karena itu, pembuka yang kuat menjadi nilai penting dalam Ys X.
Perbandingan antara protagonis game dan manga juga menjadi sorotan Takeda. Ia menjelaskan bahwa protagonis shonen klasik biasanya harus vokal, berapi-api, dan bermoral tegas demi menggerakkan cerita yang linear. Sebaliknya, Adol Christin—tokoh utama seri Ys—dibiarkan relatif pendiam. Menurut Takeda, ini bukan kekurangan, melainkan pilihan desain yang memungkinkan pemain memproyeksikan diri ke dalam karakter. Dialog Adol muncul sebagai respons atas pilihan pemain, sehingga tindakan pemain menjadi kehendak sang protagonis.
Dalam edisi Ys X: Proud Nordics yang dijadwalkan rilis global pada akhir Februari 2026, Falcom juga memperkenalkan karakter baru bernama Canute Gamley. Takeda menilai kehadiran karakter rival seperti Canute sebagai elemen krusial. Dalam pengalamannya, rival yang memiliki nilai berlawanan dengan protagonis berfungsi untuk menonjolkan sisi karakter utama dan mendorong perkembangan cerita secara alami.
Secara keseluruhan, Takeda melihat Ys X sebagai game yang memprioritaskan karakter di atas plot besar. Pendekatan ini, menurutnya, sejalan dengan filosofi editorial yang ia terapkan saat bekerja di Shonen Jump, di mana karakter menjadi fondasi utama, sementara cerita berfungsi sebagai wadah untuk menampilkan siapa mereka sebenarnya. Bagi Takeda, inilah salah satu alasan mengapa Ys mampu bertahan lama dan terus menarik pemain lintas generasi.


