Bayang-bayang kejayaan masa lalu rupanya menjadi beban tersendiri bagi Bethesda. Mantan lead artist Bethesda, Nate Purkeypile, menilai studio tersebut kini berada dalam posisi serba salah saat mengembangkan dua game paling dinanti mereka: The Elder Scrolls 6 dan Fallout 5. Menurutnya, setinggi apa pun kualitas game yang dihasilkan, kritik keras dari sebagian penggemar nyaris tak terhindarkan.
Dalam wawancara dengan Esports Insider, Purkeypile secara terbuka menyebut bahwa ekspektasi yang sudah terlanjur melambung tinggi membuat tim pengembang berada dalam situasi “tidak bisa menang”. Bahkan, tekanan inilah yang menjadi salah satu alasan dirinya memilih hengkang dari Bethesda.
“Skyrim adalah salah satu dari 10 game terbaik sepanjang masa. Pertanyaannya, bagaimana caranya mengalahkan pencapaian itu?” ujar Purkeypile.
Hingga kini, The Elder Scrolls 6 masih menjadi salah satu game paling ditunggu di industri, hanya kalah pamor dari GTA 6. Sementara itu, Fallout 5 diperkirakan baru akan menyusul bertahun-tahun kemudian, bahkan ada spekulasi rilisnya bisa menembus pertengahan dekade 2030-an. Penantian panjang tersebut, alih-alih meredam ekspektasi, justru memperbesar tekanan.
Situasi Bethesda juga diperumit oleh rekam jejak game sebelumnya. Fallout 4 menuai respons yang terbilang dingin dari sebagian penggemar lama, sementara Starfield mendapat gelombang kritik besar dari komunitas pemain, disertai penilaian yang campur aduk dari para pengulas. Dalam konteks ini, game berikutnya seolah dituntut bukan sekadar bagus, melainkan harus terasa “luar biasa” bagi semua pihak—sebuah standar yang nyaris mustahil dipenuhi.
Purkeypile mengakui, ia tetap berharap Bethesda mampu menghadirkan karya berkualitas. Namun ia juga realistis melihat kondisi komunitas saat ini. “Bahkan jika kualitasnya setara dengan Skyrim, tetap akan ada banyak komentar penuh kebencian,” katanya. Ia bahkan menyebut kemungkinan munculnya kembali ancaman personal terhadap pengembang, sesuatu yang menurutnya sangat disayangkan.
Bagi Purkeypile, fenomena ini mencerminkan perubahan iklim diskusi di komunitas game. Antusiasme yang dulu identik dengan rasa ingin tahu dan apresiasi kini kerap bergeser menjadi tuntutan berlebihan, bahkan agresi verbal. Dalam situasi seperti itu, keberhasilan sebuah game tak lagi semata diukur dari kualitas desain atau visi kreatif, tetapi juga dari seberapa kuat pengembang menghadapi tekanan publik.
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa di balik hype besar dan angka penjualan fantastis, proses pengembangan game juga diwarnai risiko mental dan sosial yang kerap luput dari perhatian pemain.


