Kesuksesan global Final Fantasy VII kini sulit dibantah. Game ini kerap disebut sebagai salah satu JRPG terbaik sepanjang masa—baik dari sisi cerita, karakter, maupun pengaruhnya terhadap industri. Namun sebelum meledak di pasar internasional, ada satu fakta menarik: jajaran pimpinan Square kala itu sempat menganggap pasar Barat tidak terlalu penting secara finansial.
Hal tersebut diungkapkan oleh Richard Honeywood, sosok legendaris di dunia lokalisasi dan mantan karyawan Square, dalam wawancara terbarunya bersama Time Extension. Menurut Honeywood, sebelum Final Fantasy VII dirilis secara global, tim lokalisasi Square harus bekerja ekstra keras hanya untuk meyakinkan manajemen agar game-game mereka diterjemahkan ke bahasa Inggris dan dirilis di luar Jepang.
“Saat itu, banyak tim pengembang di Square merasa versi luar negeri hanyalah uang receh—bukan uang sungguhan,” kata Honeywood.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar pengembang lebih memilih fokus menggarap versi Jepang karena diyakini akan menghasilkan penjualan jauh lebih besar. Sementara itu, pasar Amerika Utara dan Eropa dipandang sekadar tambahan, bukan prioritas utama.
“Kami sampai harus mendatangi mereka satu per satu seperti penginjil dan berkata, ‘Tolong izinkan kami melokalkan game ini,’” ujarnya.
Situasi ini membuat tim lokalisasi berada di posisi yang sulit. Meski begitu, Final Fantasy VII tetap dirilis di Amerika Serikat dan Eropa, hanya berselang beberapa bulan setelah peluncuran perdananya di Jepang. Ironisnya, meski lokalisasinya kerap dianggap bermasalah dan jauh dari sempurna, game tersebut justru mendapat sambutan luar biasa dari kritikus dan pemain.
Penjualannya pun melesat drastis. Final Fantasy VII menjadi hit besar di Amerika Utara dan Eropa, sekaligus membuktikan bahwa pasar Barat memiliki potensi finansial yang sangat besar—jauh dari sekadar “uang receh”.
“Game itu terjual sangat laris di Amerika Utara dan Eropa, menghasilkan begitu banyak uang,” ujar Honeywood.
Kesuksesan tersebut juga mendorong Square untuk memperkuat tim lokalisasi mereka di luar Jepang. Kantor Square di Amerika Serikat mulai merekrut penerjemah tambahan demi mengejar permintaan yang meningkat. Dua nama yang kemudian bergabung adalah Yoshinobu “Nobby” Matsuo dan Brian Bell.
“Setelah itu, situasinya langsung terbalik. Game-game yang awalnya tidak ingin dilokalkan justru datang meminta untuk dilokalkan.”


