Kenaikan harga graphics processing unit (GPU) tampaknya bakal kembali menghantui para pengguna PC, khususnya gamer. Laporan terbaru menyebutkan bahwa AMD dan Nvidia berencana menaikkan harga GPU konsumen mereka secara signifikan mulai 2026. Jika informasi ini akurat, kenaikan harga tersebut bahkan bisa mulai terasa dalam waktu dekat.
Mengutip laporan dari media Korea, Newsis, lonjakan harga ini dipicu oleh meningkatnya biaya produksi komponen, terutama memori. Penyebab utamanya tak lepas dari masifnya pembangunan data center berbasis artificial intelligence (AI) di berbagai negara, yang mendorong permintaan perangkat keras melonjak tajam.
Menurut sumber industri yang dikutip Newsis, kenaikan harga GPU tidak akan terjadi satu kali saja. AMD disebut akan mulai menaikkan harga pada Januari, disusul Nvidia pada Februari. Setelah itu, harga diperkirakan terus meningkat secara bertahap sepanjang tahun.
Sejumlah produk kelas atas diprediksi bakal terdampak langsung, termasuk seri Nvidia GeForce RTX 50 dan AMD Radeon RX 9000 yang sejak awal memang sudah dibanderol tinggi. Bahkan, Nvidia RTX 5090 yang dirilis dengan harga sekitar US$1.999 disebut berpotensi melonjak hingga menyentuh angka US$5.000 dalam tahun yang sama.
Alasan di balik kenaikan harga ini dinilai cukup jelas. Selain meningkatnya biaya produksi, perusahaan teknologi raksasa seperti OpenAI juga menjadi “konsumen rakus” perangkat keras. CEO Nvidia, Jensen Huang, pernah menyebut bahwa generasi AI berikutnya membutuhkan daya komputasi hingga 100 kali lebih besar dibanding model sebelumnya. Sementara itu, CEO Microsoft bahkan mengungkapkan bahwa perusahaannya kekurangan pasokan listrik untuk menjalankan seluruh GPU yang sudah dimiliki.
Terlepas dari pro dan kontra soal hype AI generatif dan large language model (LLM), fakta di lapangan menunjukkan bahwa perusahaan teknologi terus memborong GPU dan memori dengan asumsi kebutuhan komputasi akan terus meningkat. Kondisi ini membuat permintaan terhadap GPU semakin tinggi, sementara pasokan terbatas—sebuah kombinasi klasik yang mendorong lonjakan harga.
Bagi konsumen umum, khususnya gamer dan perakit PC, situasi ini jelas bukan kabar baik. Jika tren ini berlanjut, harga komponen PC diperkirakan akan semakin mahal dalam beberapa bulan ke depan. Di sisi lain, industri game justru kian agresif mengadopsi AI. Square Enix, misalnya, berencana menggantikan hingga 70 persen proses quality assurance (QA) dengan AI pada 2027, sementara Ubisoft menyebut AI sebagai revolusi besar yang setara dengan peralihan industri ke teknologi 3D.


