Take-Two Interactive hingga kini masih menutup rapat informasi soal harga resmi Grand Theft Auto VI (GTA 6), meski perilisan game tersebut dijadwalkan meluncur pada November 2026. Di tengah spekulasi bahwa game ini bisa dijual hingga US$100, CEO Take-Two Strauss Zelnick memberi sinyal bahwa harga akhirnya kemungkinan tidak akan setinggi kekhawatiran banyak pemain.
Dalam wawancara terbarunya bersama IGN, Zelnick menekankan bahwa strategi perusahaan bukan sekadar memaksimalkan harga, melainkan memastikan konsumen merasa nilai yang mereka dapat sepadan, bahkan lebih besar, dibanding uang yang dikeluarkan.
Konsumen membayar berdasarkan nilai yang kami berikan, dan tugas kami adalah menetapkan harga yang jauh, jauh lebih rendah dibanding nilai tersebut.
Menurutnya, keputusan harga sangat bergantung pada bagaimana pemain memandang kualitas produk secara keseluruhan. Take-Two ingin memastikan bahwa pembeli merasa mendapatkan pengalaman luar biasa tanpa merasa dibebani harga yang tidak rasional.
Konsumen harus merasa produknya luar biasa, dan harga yang mereka keluarkan masuk akal.
Pernyataan tersebut muncul saat industri game global tengah bergerak menuju standar harga baru. Dalam dua tahun terakhir, sejumlah publisher mulai menguji pasar dengan harga US$80 untuk game AAA, termasuk Mario Kart World pada 2025.

Namun, kenaikan harga ini tidak selalu diterima positif. Xbox, misalnya, sempat berencana memasarkan sejumlah game first-party seperti The Outer Worlds 2 di harga serupa, sebelum akhirnya mundur akibat gelombang kritik dari pemain.
Kondisi ini membuat banyak pihak menaruh perhatian besar pada langkah Take-Two. Sebagai salah satu publisher terbesar di industri, keputusan harga GTA 6 berpotensi menjadi penentu apakah banderol US$80 atau bahkan US$100 akan menjadi standar baru.

Meski begitu, Take-Two sebelumnya sempat menunjukkan pendekatan berbeda. Pada 2025, perusahaan merilis Mafia: The Old Country dengan harga US$50, lebih rendah dari tren harga game premium saat ini.
Saat itu, Zelnick menilai bahwa produk besar dengan daya tarik tinggi tetap mampu menghasilkan keuntungan besar meski dijual lebih murah karena volume penjualannya dapat menutupi margin harga yang lebih rendah.
Strategi tersebut dinilai masuk akal jika diterapkan pada GTA 6, terutama mengingat kekuatan GTA Online sebagai mesin pendapatan jangka panjang. Layanan tersebut dilaporkan menghasilkan lebih dari US$1 juta per hari, menjadikannya salah satu aset finansial terbesar Take-Two selama bertahun-tahun.
Dengan harga awal yang lebih terjangkau, perusahaan justru bisa menarik lebih banyak pemain ke dalam ekosistem online, yang pada akhirnya berpotensi menghasilkan pendapatan lebih besar dibanding sekadar mengandalkan penjualan unit awal.
Di sisi lain, perdebatan soal harga game juga berkaitan erat dengan inflasi. Meski harga game relatif stagnan di kisaran US$60–US$70 selama satu dekade terakhir, biaya hidup dan kebutuhan hiburan lain terus meningkat.
Masalahnya, kenaikan harga kebutuhan hidup tidak selalu diiringi pertumbuhan pendapatan. Bagi banyak pemain, harga US$70 saja sudah menjadi pengeluaran besar, sehingga lonjakan ke US$80 atau US$100 bisa semakin mempersempit daya beli.
Sejumlah riset bahkan menunjukkan sebagian besar gamer di Amerika Serikat hanya membeli sekitar nol hingga empat game baru setiap tahun, memperlihatkan bahwa sensitivitas terhadap harga masih sangat tinggi.
Untuk saat ini, Take-Two memang belum memberikan angka pasti. Namun, pernyataan Zelnick setidaknya memberi gambaran bahwa perusahaan tampaknya sadar betul terhadap batas toleransi pasar.
Jika harga akhirnya diumumkan dalam beberapa bulan ke depan, apakah Take-Two akan benar-benar menjaga GTA 6 tetap dalam kategori “masuk akal,” atau justru mendorong batas baru industri game?

