Sepanjang tahun ini, harga RAM DDR5 dilaporkan naik hingga 123 persen, dan tren kenaikan tersebut diperkirakan belum akan berhenti. Sejumlah analis memprediksi, pada 2026 mendatang, harga DDR5 masih berpotensi melonjak sekitar 45 persen dari level saat ini.
Kondisi tersebut tak lepas dari melonjaknya permintaan DRAM akibat pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Dampaknya pun merembet ke berbagai sektor, terutama pasar PC, yang kini harus bersiap menghadapi biaya produksi jauh lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu.
Sebagai gambaran, harga RAM DDR5 saat ini berada di kisaran 10 dolar AS per gigabyte untuk kapasitas hingga 32GB. Untuk kapasitas yang lebih besar, banderolnya tentu jauh lebih mahal. Media asal Korea Selatan bahkan melaporkan bahwa tren kenaikan ini akan terus berlanjut, membuat produsen perangkat keras mulai mengambil langkah antisipatif.

Salah satu dampaknya adalah kemungkinan kembalinya spesifikasi “minimalis” pada perangkat baru. Sejumlah produsen disebut tengah mempertimbangkan kembali penggunaan RAM 8GB untuk laptop keluaran terbaru. Tak menutup kemungkinan, ponsel dengan RAM 4GB juga akan kembali bermunculan pada 2026 demi menekan biaya produksi.
Tak hanya memengaruhi pasar PC dan laptop, mahalnya harga DRAM juga berpotensi menunda peluncuran sejumlah produk teknologi baru. Produsen disebut enggan merilis perangkat dalam kondisi biaya komponen yang belum stabil, mengingat margin keuntungan yang semakin tergerus.
Di sisi lain, efek domino juga mulai terasa pada sektor kartu grafis. AMD dan Nvidia dikabarkan tengah bersiap menaikkan harga GPU, menyusul berakhirnya kontrak lama yang masih menggunakan skema harga memori sebelumnya. Kontrak baru diprediksi akan mengikuti harga pasar terkini yang jauh lebih tinggi.
Industri konsol pun tak luput dari dampak. Perangkat seperti PlayStation 5, Xbox Series X|S, hingga konsol generasi terbaru berpotensi mengalami kenaikan harga sekitar 10–15 persen. Bahkan, sejumlah laporan menyebutkan bahwa perilisan konsol generasi berikutnya bisa mengalami penundaan akibat tekanan biaya produksi.


