Close Menu
GameformiaGameformia
  • News
  • Games
    • Review
    • Sneak Peek
    • Editor’s Picks
    • Prosona
    • Icon
    • Mythologame
    • Origin
    • Retrospective
  • Features
    • Exclusive
    • Interview
  • Tips & Guides
    • Guides
    • Tips
  • Tech
    • Tech Tips
    • Product Reviews
    • Product Recommendations
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
GameformiaGameformia
Facebook X (Twitter) Instagram
Login
  • News
  • Games
    1. Review
    2. Sneak Peek
    3. Editor’s Picks
    4. Prosona
    5. Icon
    6. Mythologame
    7. Origin
    8. Retrospective
    9. View All

    [Review] 1998: The Toll Keeper Story – Sebuah Gambaran Fiktif Sejarah Kelam

    Desember 23, 2025

    [Review] Clair Obscur: Expedition 33 – Sentuhan Prancis di RPG turn-based

    November 17, 2025

    [Review] Troublemaker 2 Beyond Dream – Seru tapi Cringe

    Oktober 20, 2025

    [Review] Eiyuden Chronicle: Hundred Heroes – Mampu Penuhi Ekspektasi Fans Suikoden?

    Mei 22, 2025

    10 Kisah Cinta Paling Romantis dan Kadang Tragis di Game

    Januari 20, 2026

    Mencari tantangan baru? Berikut 10 Game Survival PC Terbaik!

    Januari 5, 2026

    Wibu Wajib Main! 10 Game Anime Android dengan Gameplay Seru

    Januari 2, 2026

    Ingin Melepas Penat Sejenak? Mainkan 10 Game Cozy Android Ini!

    Januari 1, 2026

    Mengapa Gabe Newell Jadi Figur Paling Berpengaruh di Game?

    Januari 14, 2026

    Shigeru Miyamoto: Maestro Visioner di Balik Kesuksesan Nintendo

    Mei 17, 2025

    Leon S. Kennedy: Dari Rookie ke Legenda Racoon City

    Januari 18, 2026

    Arthur Morgan – Dari Loyalis Berakhir Tragis

    Mei 21, 2025

    Super Mario Bros: Sang Tukang Ledeng Wajah Nintendo

    Mei 19, 2025

    Pac-Man: Si Makhluk Bulat Unik Pengubah Sejarah Industri Game

    April 17, 2025

    Jin Ifrit: Monster Api Berasal dari Kepercayaan Islam

    September 9, 2025

    Dewa Odin – Sang Dewa dari Segala Dewa Bangsa Nordik

    Mei 23, 2025

    Sejarah dan Evolusi Game RPG Dari Tabletop ke Monitor PC

    September 16, 2025

    The Sims: Simulasi Mengatur Hidup Orang Lain

    Mei 18, 2025

    Sejarah Game Balap Ternama Need for Speed

    Mei 9, 2025

    Road Rash: Antara Berpacu dengan Lawan atau Kejaran Polisi

    April 27, 2025

    Wild Arms: JRPG PlayStation dengan Elemen Wild West

    Januari 9, 2026

    Pepsiman: Kampanye Marketing yang Menjadi Cult Classic

    Januari 8, 2026

    Chrono Trigger: JRPG Digarap Oleh Tim Orang-Orang Hebat

    Mei 13, 2025

    Chrono Cross: JRPG dengan Tema Dunia Paralel Nan Eksotis

    Mei 12, 2025

    10 Kisah Cinta Paling Romantis dan Kadang Tragis di Game

    Januari 20, 2026

    Leon S. Kennedy: Dari Rookie ke Legenda Racoon City

    Januari 18, 2026

    Mengapa Gabe Newell Jadi Figur Paling Berpengaruh di Game?

    Januari 14, 2026

    Wild Arms: JRPG PlayStation dengan Elemen Wild West

    Januari 9, 2026
  • Features
    1. Exclusive
    2. Interview
    3. View All

    Ini Alasan Kenapa PC Gaming Lebih Unggul Dibandingkan Konsol

    September 21, 2025

    Ini Alasan Mengapa Console Gaming Lebih Unggul Dibanding PC Gaming

    September 20, 2025

    Cel-Shading: Teknik Memadukan 3D dengan 2D

    April 19, 2025

    Game Remake: Sebuah Kemalasan Kreatif atau Upaya Preservasi?

    April 3, 2025

    Ini Alasan Kenapa PC Gaming Lebih Unggul Dibandingkan Konsol

    September 21, 2025

    Ini Alasan Mengapa Console Gaming Lebih Unggul Dibanding PC Gaming

    September 20, 2025

    Cel-Shading: Teknik Memadukan 3D dengan 2D

    April 19, 2025

    Game Remake: Sebuah Kemalasan Kreatif atau Upaya Preservasi?

    April 3, 2025
  • Tips & Guides
    • Guides
    • Tips
  • Tech
    1. Tech Tips
    2. Product Reviews
    3. Product Recommendations
    4. View All

    Sebelum Membeli Ketahui Jenis-Jenis Panel Monitor Berikut

    April 12, 2025

    Alasan Kenapa PC Tidak Mau Menyala dan Cara Mengatasinya

    April 11, 2025

    6 Alasan Hardisk Tidak Terbaca dan Cara Mengatasinya

    April 9, 2025

    Apa Itu Refresh Rate? Pentingnya untuk Visual Lebih Mulus

    April 1, 2025

    10 Laptop ASUS TUF Gaming Terbaik untuk Gamer dan Kreator

    November 16, 2025

    Laptop Gaming 10 Jutaan Harga Terjangkau 2025

    September 25, 2025

    10 Laptop MSI Gaming Terbaik Harga Terupdate 2025

    Mei 16, 2025

    10 Laptop Tipis yang Punya Performa Powerful untuk Gaming

    Mei 15, 2025

    10 Laptop ASUS TUF Gaming Terbaik untuk Gamer dan Kreator

    November 16, 2025

    Laptop Gaming 10 Jutaan Harga Terjangkau 2025

    September 25, 2025

    10 Laptop MSI Gaming Terbaik Harga Terupdate 2025

    Mei 16, 2025

    10 Laptop Tipis yang Punya Performa Powerful untuk Gaming

    Mei 15, 2025
GameformiaGameformia
Home » Hideo Kojima: Pandemi dan Kesepian yang Melahirkan Death Stranding 2
Pandemi Death Stranding 2
News

Hideo Kojima: Pandemi dan Kesepian yang Melahirkan Death Stranding 2

By Dani AchmadJuli 14, 2025Tidak ada komentar4 Mins Read
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak 2020 tak hanya mengubah cara manusia menjalani hidup, tetapi juga menginspirasi sejumlah karya. Salah satunya adalah Death Stranding 2: On the Beach, game terbaru dari Hideo Kojima, yang turut dibentuk oleh pengalaman pribadi sang kreator selama masa lockdown global.

Dalam kunjungannya ke Taipei dalam rangkaian Death Stranding World Strand Tour 2, Kojima mengungkap bahwa proses pengembangan sekuel Death Stranding sebenarnya sudah dimulai sebelum pandemi. Namun, perubahan drastis dalam kehidupan global mendorongnya untuk menyusun ulang narasi agar mencerminkan situasi nyata yang terjadi di dunia.

“Selama pandemi, saya merasa benar-benar kesepian. Kantor kosong, semua bekerja dari rumah, dan saya pun sempat jatuh sakit,” ujar Kojima dalam wawancara bersama Geek Culture. “Saya sering berjalan kaki sendirian di jalanan yang sepi. Rasanya seperti dunia telah berakhir.”

Kondisi jalan-jalan yang biasanya ramai menjadi kosong total, bangku-bangku umum ditutup, dan hampir tak ada manusia di luar rumah. Pemandangan itu, kata Kojima, menjadi cermin langsung dari dunia pasca-apokaliptik dalam Death Stranding. Perasaan keterasingan dan keterputusan menjadi bahan bakar utama dalam membentuk dunia dan karakter di sekuel ini.

Dalam game pertamanya, Death Stranding menceritakan Sam Porter Bridges, seorang kurir yang bertugas mengantarkan barang ke komunitas-komunitas terpencil pasca-bencana, dan secara perlahan menghubungkan kembali mereka melalui jaringan komunikasi nirkabel. Tanpa disadari, konsep ini ternyata memiliki kemiripan yang mengejutkan dengan realitas pandemi yang memaksa manusia terisolasi dan bergantung pada teknologi untuk tetap terhubung.

“Pemerintah bahkan sempat melarang warga keluar rumah. Rasanya seperti hidup dalam darurat militer,” ujar Kojima. Kondisi ini menjadi refleksi yang kuat atas tema utama Death Stranding 2, yakni mengenai keterhubungan manusia, kesepian, dan upaya untuk kembali membangun jembatan antarindividu di tengah keterputusan.

Tak hanya dari sisi narasi, kekuatan visual dalam Death Stranding 2 juga mendapatkan perhatian khusus melalui tangan dingin Yoji Shinkawa, pengarah artistik yang telah menjadi mitra kerja Kojima selama lebih dari tiga dekade sejak Policenauts (1994). Salah satu desain yang menonjol adalah Ghost Mechs berwarna merah, yang terinspirasi dari bentuk peti mati dan menampilkan kesan ritualistik serta destruktif.

“Desainnya ingin menunjukkan sesuatu yang unik, yang hanya bisa muncul dari dunia game,” kata Shinkawa. Kepala karakter tersebut bahkan terinspirasi dari desain ikonik H.R. Giger dalam film Alien, menciptakan visual yang terasa asing namun juga akrab bagi pemain.

Hubungan profesional Kojima dan Shinkawa pun menjadi fondasi penting bagi lahirnya karya-karya mereka. Shinkawa mengaku bahwa awalnya ia hampir bekerja di proyek game tembak-tembakan zombie di Konami karena ingin mendalami model 3D. Namun, tawaran Kojima untuk ikut dalam proyek Metal Gear Solid mengubah arah kariernya secara drastis.

“Kalau bukan karena dia, saya mungkin tidak akan ada di sini,” ujar Shinkawa.

Pada masa awal kerja sama, komunikasi keduanya pun sangat manual. “Dia membuat model Metal Gear Rex di rumah, dan karena belum ada email, saya meneleponnya setiap jam 5 sore untuk menanyakan progresnya,” kenang Kojima sambil tertawa.

Dalam Death Stranding 2, sejumlah elemen baru pun ditambahkan sebagai bagian dari perluasan dunia. Salah satunya adalah terminal berbentuk cincin yang dikenakan oleh Sam, yang berbeda dengan bentuk borgol di game pertama. Menurut Kojima, perubahan ini penting karena Sam sudah bukan lagi bagian dari organisasi Bridges. Kini, terminal tersebut digunakan oleh setiap anggota markas pusat dengan cara yang berbeda, termasuk jari yang digunakan untuk mengaktifkannya.

Shinkawa sendiri menekankan pentingnya perhatian terhadap hal-hal kecil dalam desain. Ia menyebut kendaraan seperti truk kecil dan sepeda roda tiga sebagai contoh desain yang hanya bisa hidup di dalam dunia game (tidak realistis, namun memberi pengalaman interaktif yang khas)

Kojima menyebut bahwa inti dari Death Stranding 2 adalah tentang menyambungkan kembali dunia yang sempat terputus. Tim pengembang menghadirkan berbagai pendekatan gameplay, dari pertempuran langsung hingga stealth.

Kini setelah game tersebut dirilis dan mendapat sambutan hangat, Kojima juga mulai merenungkan makna hidup dan siklus keberadaan manusia, terutama setelah mengalami masalah kesehatan yang membuatnya harus menjalani operasi.

“Segalanya berasal dari ketiadaan, lalu cahaya, lalu terus berputar. Jika dilihat dari sudut pandang luas, kehidupan itu selalu berevolusi,” ujar Kojima, yang kini berusia 61 tahun. “Sama seperti manusia. Anak dibesarkan oleh orang tua, lalu tumbuh menjadi dewasa dan membesarkan anaknya. Itu adalah siklus yang berulang.”

Dari kesendirian yang mencekam di jalanan kosong, lahirlah karya yang merayakan koneksi. Death Stranding 2 tak hanya sebuah game, tapi juga catatan reflektif tentang bagaimana manusia bertahan, terhubung kembali, dan melangkah maju, bahkan dari reruntuhan yang paling sunyi.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Dani Achmad

    Related Posts

    CD Projekt Red: Perspektif Orang Pertama Paling Tepat untuk Cyberpunk 2077

    Februari 3, 2026

    Dokumen Epstein Ungkap Diskusi Awal Mikrotransaksi Call of Duty

    Februari 3, 2026

    Resident Evil Requiem Disebut Lebih Ringan dari RE7, Ini Alasannya

    Februari 2, 2026

    Patch Perdana Highguard Rilis, Wildlight Tanggapi Keluhan Pemain

    Februari 1, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Editors Picks

    CD Projekt Red: Perspektif Orang Pertama Paling Tepat untuk Cyberpunk 2077

    Februari 3, 2026

    Dokumen Epstein Ungkap Diskusi Awal Mikrotransaksi Call of Duty

    Februari 3, 2026

    Resident Evil Requiem Disebut Lebih Ringan dari RE7, Ini Alasannya

    Februari 2, 2026

    Patch Perdana Highguard Rilis, Wildlight Tanggapi Keluhan Pemain

    Februari 1, 2026
    Top Reviews
    News

    Indie Game Awards Cabut Gelar GOTY Clair Obscur: Karena Aset AI Generatif?

    By Dani Achmad
    News

    Machine Games Disebut Garap Wolfenstein 3 dan Game Multiplayer ala Rainbow Six Siege

    By Dani Achmad
    News

    GTA 6 Disebut Akan Rilis Tanpa Disc Fisik Saat Peluncuran

    By Dani Achmad
    Advertisement
    Demo
    About
    Gameformia
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • News
    • Review
    • Games
    • Tech
    • Tips & Guides
    ©2026 - Gameformia | All rights reserved

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?