Studio pengembang GPTRACK50 akhirnya resmi mengumumkan Stupid Never Dies, proyek perdana mereka yang telah lama dinantikan. Game action RPG single-player ini diperkenalkan ke publik dalam ajang The Game Awards 2025 dan dijadwalkan meluncur tahun depan untuk PC melalui Steam serta PlayStation 5. Di balik proyek ini, ada nama Hiroyuki Kobayashi, sosok yang sebelumnya dikenal sebagai produser di balik seri Devil May Cry dan Dragon’s Dogma.
Menariknya, Stupid Never Dies justru mengambil arah yang cukup berbeda dari karya-karya Kobayashi sebelumnya. Sang kreator bahkan menyebut game ini sebagai proyek yang “tidak terasa seperti gaya Kobayashi,” sebuah pernyataan yang menggambarkan bagaimana tim pengembang mencoba keluar dari pakem yang sudah melekat pada nama besarnya.
Meski mengusung visual bergaya pop-punk dan komik, Stupid Never Dies tetap dibangun menggunakan Unreal Engine 5. Namun, alih-alih mengejar visual fotorealistik, tim pengembang memilih jalur yang lebih ekspresif dan bergaya. Kobayashi menegaskan bahwa pendekatan tersebut diambil secara sadar, dengan tujuan memaksimalkan kekuatan Unreal Engine tanpa harus terjebak pada standar visual realistis yang umum digunakan studio besar.

Pendekatan unik juga terlihat dari proses pengembangannya. Berbeda dengan banyak studio yang memulai produksi dari konsep visual, GPTRACK50 justru mengawali pengembangan dengan fokus pada gameplay. Bahkan, pada tahap awal, tim belum memiliki ilustrator sama sekali. Sistem permainan dan siklus gameplay menjadi fondasi utama sebelum aspek visual digarap lebih jauh. Menurut Kobayashi, pendekatan ini terbukti efektif karena memungkinkan tim untuk benar-benar memoles sisi keseruan permainan sejak awal. Ia menilai bahwa visual memang penting, tetapi tidak otomatis membuat game menjadi menyenangkan jika gameplay-nya belum solid.
Meski begitu, keterbatasan sumber daya manusia serta lambatnya pengembangan aspek visual sempat menjadi tantangan tersendiri. Faktor inilah yang membuat proses produksi Stupid Never Dies memakan waktu cukup panjang, hingga akhirnya baru siap diumumkan hampir tiga tahun kemudian.
Dari sisi konsep, Stupid Never Dies digambarkan sebagai game action RPG dengan tema “BLAZING FAST GROWTH.” Kobayashi menjelaskan bahwa game ini tidak sepenuhnya berfokus pada aksi intens ala game soulslike, melainkan menghadirkan keseimbangan antara pertarungan, pengembangan karakter, dan sistem RPG. Pemain tidak hanya dituntut refleks cepat, tetapi juga diajak untuk mengembangkan karakter dan strategi seiring progres permainan.
Untuk urusan aksi, Stupid Never Dies disebut akan menawarkan pengalaman action yang familier namun tetap segar. Mengacu pada deskripsi di laman Steam, pemain bisa mengharapkan pertarungan cepat yang penuh inovasi, termasuk mekanik mencuri kemampuan musuh serta fitur kustomisasi tubuh undead dengan berbagai peningkatan unik. Konsep yang disebut sebagai “Funky Zombie Action” ini masih terus dikembangkan, dan GPTRACK50 menjanjikan akan membagikan lebih banyak detail seiring mendekatnya jadwal rilis.


