Ken Kutaragi AI industri game News

Ken Kutaragi Nilai Industri Game Belum Maksimal Manfaatkan Teknologi AI

Share:

Ken Kutaragi, sosok yang dikenal sebagai bapak PlayStation, menilai industri game belum memanfaatkan kemajuan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) secara maksimal. Menurutnya, teknologi tersebut berpotensi menghadirkan inovasi yang mengubah cara game dikembangkan dan dinikmati pemain.

Dalam wawancara dengan 4Gamer setelah menghadiri pembukaan CEREC pada 29 September, Kutaragi membandingkan perkembangan industri game saat ini dengan masa awal PlayStation. Ia menilai konsol Sony tersebut pernah menjadi pendorong kemajuan teknologi. Namun, setelah dirinya pensiun, PlayStation semakin menyerupai PC akibat masuknya banyak tenaga profesional dari industri komputer.

Kutaragi juga menyoroti NVIDIA dan AMD, perusahaan yang pernah bekerja sama dengan Sony dalam pengembangan PlayStation dan kini turut mengembangkan AI. Menurutnya, industri game perlu memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut untuk menciptakan pengalaman bermain yang lebih inovatif.

AI melibatkan teknologi yang jauh lebih canggih, tetapi industri game saat ini belum benar-benar memanfaatkannya.

Ia menilai perkembangan game selama ini masih berfokus pada penyempurnaan teknis, seperti peningkatan kualitas shader dan kemampuan karakter non-player character (NPC) dalam berbicara. Padahal, investasi waktu dan sumber daya yang besar seharusnya dapat mendorong inovasi yang lebih signifikan.

Dibandingkan dengan AI, rasanya seperti tidak ada kemajuan nyata yang terjadi.

AI Berpotensi Mengubah Industri Game

Kutaragi melihat AI sebagai teknologi yang dapat mengubah game menjadi bentuk hiburan baru yang memengaruhi cara manusia berpikir dan berimajinasi. Ia bahkan memperkirakan pasar game global yang saat ini bernilai lebih dari 30 triliun yen berpotensi tumbuh hingga sekitar 3.000 triliun yen.

Ia juga memperkirakan AI real-time dapat menghasilkan konten dengan kecepatan setara konsol game masa kini sekitar 2028–2029. Menurutnya, perkembangan tersebut akan mengubah cara konten dibuat dan dinikmati.

Komunikasi dan khayalan akan menjadi konten. Berimajinasi itu sendiri akan menjadi sebuah bentuk konten.

Dalam laporan terpisah oleh GameWatch, Kutaragi mengibaratkan AI saat ini seperti bayi yang baru lahir. Meski mampu memberikan respons secara instan, teknologi tersebut masih mengandalkan informasi yang telah dikumpulkan sebelumnya.

Karena itu, Kutaragi meyakini masa depan akan dibentuk melalui kolaborasi manusia dan AI. Menurutnya, penggunaan AI sekadar untuk mengembangkan sistem yang sudah ada tidaklah cukup. Manusia perlu menciptakan pendekatan baru dan mengeksplorasi potensi teknologi tersebut.

Ia menambahkan bahwa orang-orang yang mampu berkembang bersama AI dan menciptakan sesuatu yang baru akan semakin dibutuhkan. Bagi industri game, pemanfaatan AI secara lebih mendalam berpotensi membuka peluang inovasi yang melampaui peningkatan grafis maupun kecanggihan karakter.