Konami menegaskan ambisinya untuk menjadikan Silent Hill sebagai waralaba yang hadir secara rutin setiap tahun. Setelah sempat vakum dan kehilangan arah selama bertahun-tahun, seri horor legendaris tersebut kini disebut telah kembali ke jalur yang diinginkan.
Pernyataan itu disampaikan oleh produser seri Silent Hill, Motoi Okamoto, dalam wawancara bersama Famitsu, yang dirangkum sebagai bagian dari target para pengembang menuju 2026. Okamoto menyebut Konami menargetkan setidaknya satu game Silent Hill baru setiap tahun, mulai 2026 dan seterusnya.
Menurut Okamoto, kebangkitan Silent Hill dimulai dari perilisan Silent Hill 2 remake pada Oktober 2024, yang kemudian disusul oleh Silent Hill f pada September 2025. Dua judul tersebut dianggap menjadi fondasi penting untuk menghidupkan kembali seri ini setelah lama terpuruk.
“Kami ingin merilis sekitar satu judul per tahun, baik yang sudah diumumkan maupun yang belum,” ujar Okamoto. Ia mengakui target tersebut bukan perkara mudah, tetapi Konami ingin menjaga gaung Silent Hill tetap terasa dan relevan di mata penggemar.
Rencana tersebut bukan tanpa dasar. Sejak pengumuman besar Silent Hill pada 2022, Konami telah menyiapkan sejumlah proyek. Salah satunya adalah Silent Hill: Townfall, game yang dikembangkan oleh No Code bekerja sama dengan Annapurna Interactive. Meski nyaris tak terdengar kabarnya sejak pengumuman awal, sebuah daftar ritel yang sempat muncul (dan kemudian dihapus) mengindikasikan bahwa Townfall berpotensi dirilis pada Maret 2026.
Selain itu, Bloober Team juga tengah menggarap remake Silent Hill pertama yang dirilis pada 1999. Proyek ini disebut dikerjakan dengan pendekatan serupa remake Silent Hill 2. Meski informasi resminya masih minim, ada kemungkinan game tersebut akan mengisi jadwal rilis Silent Hill pada 2027.
Namun, strategi rilis tahunan bukan tanpa risiko. Pengalaman sejumlah waralaba besar, seperti Call of Duty, menunjukkan bahwa jadwal rilis yang terlalu padat kerap berujung pada kualitas yang naik-turun. Berbeda dengan Call of Duty yang memiliki basis pemain sangat besar, Silent Hill tidak sepenuhnya bergantung pada daya tarik musiman dan membutuhkan konsistensi kualitas untuk menjaga kepercayaan penggemar.
Risiko lain datang dari model pengembangan yang dipilih Konami. Alih-alih mengandalkan satu studio internal, Konami melisensikan Silent Hill ke berbagai pengembang dengan pendekatan dan visi berbeda. Strategi ini memang memberi ruang eksplorasi, tetapi juga membuka peluang ketidakkonsistenan kualitas.
Sejauh ini, pendekatan tersebut masih menuai hasil positif. Silent Hill 2 remake dan Silent Hill f mendapat sambutan hangat dari kritikus dan pemain. Namun, Konami juga sempat tersandung lewat Silent Hill: Ascension pada 2023, sebuah serial TV interaktif yang meski meraih penghargaan Emmy, justru menuai respons negatif dari komunitas.
Kini, dengan target rilis tahunan di depan mata, masa depan Silent Hill kembali menjadi perhatian. Apakah Konami mampu menjaga kualitas sekaligus ritme produksi, atau justru terjebak dalam ambisi berlebihan, masih menjadi pertanyaan yang menunggu jawaban dalam beberapa tahun ke depan.

