Capcom akhirnya membuka lebih banyak detail soal Resident Evil Requiem, seri terbaru survival horror legendaris yang dijadwalkan rilis bulan depan. Dalam ajang Resident Evil Showcase, sutradara Koshi Nakanishi membeberkan pendekatan desain gameplay yang cukup menarik, yakni satu game, dua protagonis, dua pengalaman bermain yang sangat berbeda.
Pengumuman ini datang setelah antusiasme penggemar memuncak sejak trailer di The Game Awards mengonfirmasi kembalinya Leon S. Kennedy sebagai karakter yang bisa dimainkan. Namun, Capcom sadar betul bahwa Leon bukan lagi sosok polos seperti di Resident Evil 2. Pengalaman tempur dan citra action hero yang melekat padanya justru berpotensi merusak nuansa horor jika tidak diimbangi dengan pendekatan yang tepat.
Di sinilah Grace Ashcroft mengambil peran penting.
Menurut Nakanishi, kehadiran Grace dirancang sebagai penyeimbang. Berbeda dengan Leon, Grace digambarkan minim pengalaman, lebih rapuh, dan jauh lebih takut ketika berhadapan dengan zombie. Hasilnya, bagian gameplay Grace terasa lebih dekat dengan atmosfer Resident Evil 2 atau Resident Evil 7: lambat, tegang, dan penuh pertimbangan. Sementara itu, segmen Leon sengaja dibuat lebih agresif dan mengingatkan pada Resident Evil 4 Remake.
Perbedaan itu langsung terasa dari mekanik bertarung. Leon kembali dibekali kemampuan parry, kali ini bukan dengan pisau, melainkan sebuah kapak kecil. Fungsinya serupa—bahkan bisa diasah untuk menjaga daya tahannya, namun nuansanya terasa lebih brutal. Leon juga kini dapat mengambil senjata dari musuh yang tumbang. Dalam satu adegan, ia menangkis serangan gergaji mesin, menembak penggunanya, lalu justru memakai senjata itu sendiri.
Capcom juga menekankan pendekatan taktis dalam pertempuran. Menembak bagian tubuh tertentu bukan sekadar gaya, melainkan strategi. Menjatuhkan zombie dengan menghancurkan lututnya, misalnya, bisa membuka celah untuk serangan jarak dekat menggunakan kapak.
Sebaliknya, Grace dipaksa berpikir dua kali sebelum menarik pelatuk. Amunisi yang langka membuat konfrontasi langsung sering kali menjadi pilihan terakhir. Senjata utamanya adalah revolver kaliber besar bernama “Requiem”, yang sekaligus menjadi asal-usul judul game ini. Menariknya, Grace juga diperkenalkan dengan sistem crafting baru yang membutuhkan darah zombie sebagai bahan utama.
Konsep ini menciptakan dilema: bertarung sangat berisiko, tetapi hasilnya bisa krusial. Salah satu ramuan bahkan diperlihatkan mampu disuntikkan ke leher zombie dan memicu ledakan berdarah. Tidak elegan, tapi efektif, dan tentu saja menjijikkan.
Dari sisi presentasi, Capcom memberi kebebasan pemain untuk memilih sudut pandang first-person atau third-person untuk kedua karakter. Meski begitu, cuplikan gameplay menunjukkan Grace lebih sering tampil dari perspektif orang pertama, sementara Leon cenderung ditampilkan dari sudut pandang orang ketiga. Opsi tingkat kesulitan juga diperluas, termasuk mode Casual dengan aim assist berat dan mode Classic yang mengharuskan pemain mencari ink ribbon untuk menyimpan progres saat bermain sebagai Grace.
Di luar gameplay, paruh akhir showcase diisi dengan berbagai pengumuman tambahan. Mulai dari kolaborasi dengan Porsche dan pembuat jam tangan Hamilton, detail edisi deluxe, dukungan cloud gaming lewat GeForce NOW, hingga rencana konser global dan figur koleksi para protagonis.
Resident Evil Requiem dijadwalkan meluncur pada 27 Februari untuk PS5, Xbox Series X/S, Switch 2, dan PC.





