Game simulasi pengembangan studio, Let’s Build a Dungeon, resmi dibuka untuk wishlist dan dijadwalkan meluncur di PC serta Xbox. Game ini dikembangkan oleh Springloaded, studio independen asal Singapura yang sebelumnya dikenal lewat Let’s Build a Zoo, dan hadir bekerja sama dengan Kowloon Nights sebagai mitra pendanaan.
Dalam keterangan resminya, tim pengembang menyebut bahwa Let’s Build a Dungeon memadukan dua pendekatan sekaligus: simulasi manajemen studio game dan RPG builder. Artinya, pemain tidak hanya mengurus proses produksi dari balik meja kantor, tetapi juga merancang dunia MMO fantasi yang akan dihuni pemain virtual.
Sebagai simulasi manajemen, game ini menempatkan pemain sebagai pimpinan studio. Tugasnya mulai dari menyeleksi ratusan lamaran kerja, merekrut artis, programmer, dan desainer, hingga mengatur jadwal pengembangan serta kampanye pemasaran. Dinamika industri game yang sering diwarnai dilema, seperti menunda rilis demi kualitas atau memaksakan crunch time demi tenggat, ikut diangkat sebagai bagian dari gameplay mechanics. Pemain juga dihadapkan pada negosiasi dengan investor, penerbit, hingga komunitas, yang akan memengaruhi arah dan nasib studio.

Di sisi lain, pemain membangun dunia MMORPG dari nol. Mereka bisa mendesain kota, dungeon, monster, sistem kelas pekerjaan, hingga alur quest sesuai kebutuhan pemain virtual di dalamnya. Aktivitas para karakter tersebut berlangsung secara real-time, lengkap dengan opsi menyesuaikan tingkat kesulitan, drop rate, atau statistik musuh untuk menjaga keseimbangan pengalaman bermain. Semakin lama pemain virtual bertahan di dunia yang dibuat, semakin besar pula kepuasan investor.

Tak berhenti di tahap desain, Let’s Build a Dungeon juga memungkinkan pemain masuk langsung ke dalam game untuk menguji hasil karyanya. Fitur playtest ini memberi kesempatan melihat dunia dari sudut pandang pemain, sekaligus membasmi bug sebelum rilis resmi. Variasi gaya quest yang bisa dikombinasikan disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong replayability.

Menurut data terbaru dari pengembang, jumlah wishlist game ini telah melampaui 110 ribu pengguna. Demo versi Steam saat ini sudah tersedia dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Mandarin Sederhana dan Tradisional, Korea, hingga Thailand dan Portugis Brasil. Tim pengembang juga tengah menyiapkan pembaruan demo yang akan dirilis dalam waktu dekat.
Springloaded sendiri berdiri pada 2012 dan dipimpin oleh veteran industri James Barnard. Studio ini dikenal lewat pendekatan simulasi yang memadukan nuansa nostalgia dengan ide-ide baru. Sebelum Let’s Build a Dungeon, mereka merilis Let’s Build a Zoo yang mendapat respons positif di PC dan konsol, serta Tiny Dice Dungeon di platform mobile.

