MindsEye, game terbaru garapan Build a Rocket Boy yang dirilis pada 2025, menuai kritik keras sejak hari pertama peluncuran. Game ini dibayangi nama besar Leslie Benzies, salah satu otak di balik Grand Theft Auto V dan Red Dead Redemption, sehingga ekspektasi publik terhadap MindsEye melambung tinggi. Namun, realitas di lapangan berkata sebaliknya.
Game ini dibanjiri ulasan negatif di Steam dan dirundung komentar buruk lantaran dirilis dalam kondisi teknis yang buruk. Banyak bug, glitch, serta gameplay yang dianggap membosankan menjadi sorotan utama. Bahkan sejumlah streamer yang mempromosikannya secara resmi pun tidak mampu menahan tawa saat memainkan game ini.
Meski begitu, mantan pengembang Rockstar Games, Obbe Vermeij, menyatakan pendapat berbeda. Lewat akun media sosialnya, Vermeij menyebut bahwa ia justru menikmati MindsEye, meski mengakui berbagai kelemahan yang ada. “Saya memainkan game ini karena penasaran dan mengenal beberapa orang di Build a Rocket Boy. Ternyata saya cukup menikmatinya. Cutscene, karakter, cerita, akting, dan atmosfernya tergarap dengan baik,” tulisnya.
Vermeij, yang mengaku telah menamatkan game ini sepenuhnya, menilai bahwa MindsEye seharusnya tidak dilihat sebagai pesaing langsung GTA. Menurutnya, game ini menyajikan game yang lebih linear dengan kota sebagai latar semata, bukan sebagai game open-world yang hidup seperti yang ditawarkan Grand Theft Auto. “Saya rasa game ini memang tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi ‘pembunuh GTA’,” tegasnya.
Kekecewaan publik dinilai muncul karena narasi awal peluncuran yang terlalu membesar-besarkan keterlibatan Benzies, sehingga menciptakan ekspektasi tidak realistis. Apalagi, MindsEye baru membuka fitur open-world setelah cerita utama selesai, di mana hal yang jarang terjadi di game AAA sejenis.
Di sisi lain, Vermeij juga mengkritik aspek teknis game ini. Ia menyoroti misi yang tidak istimewa dan kode program yang terkadang bermasalah. Ia bahkan menyebut bahwa MindsEye mungkin akan diterima lebih baik jika dirilis dengan harga lebih rendah, seperti $40, dan disertai perbaikan bug. “Kalau saja mereka memperbaiki bug terburuk dan merilisnya lebih murah, hasilnya bisa sangat berbeda,” ujarnya.
Salah satu fitur utama MindsEye adalah sistem game creator, yang memungkinkan pemain membuat level sendiri. Namun fokus berlebihan pada fitur tersebut justru dinilai mengorbankan kualitas narasi utama. “Mereka lebih banyak fokus ke fitur kreator ketimbang game-nya sendiri. Mungkin itu kesalahan,” kata Vermeij.
Meskipun ia sendiri tidak mengalami bug fatal di perangkatnya, banyak pemain melaporkan crash, penurunan frame rate, dan glitch animasi wajah yang mengganggu pengalaman bermain. Saat ini, Build a Rocket Boy telah mulai merilis patch untuk memperbaiki sejumlah masalah tersebut.
Apakah MindsEye bisa bangkit seperti No Man’s Sky atau Cyberpunk 2077 yang sempat terpuruk namun berhasil memperbaiki diri?

