Apa yang akan kamu ingat jika mendengar nama Need for Speed? Game balap jalanan yang memperbolehkan kita mengkustomisasi mobil sesuka kita? Game balap liar di mana kita tak hanya menghadapi rival, tetapi juga harus menghadapi polisi?
Tak ada salahnya jika kita mengacu pada Need for Speed Underground series dan Need for Speed Most Wanted. Tak bisa dipungkiri kedua seri di atas adalah dua di antara beberapa seri paling populer. Bahkan popularitasnya bisa membuat sebuah budaya sendiri di kalangan anak muda pada zamannya.
Tidak semua seri Need for Speed berkutat pada balapan jalanan ilegal. Seiring waktu, beberapa entri justru mengajak pemain untuk beradu kecepatan dalam konteks yang legal dan terorganisir di sirkuit balap. Sebagai franchise besar, Need for Speed (atau disebut sebagai NFS) juga mengalami pasang surut. Seri ini tidak selalu berjaya. Mungkin di hari ini, NFS masih terus bergulat untuk mempertahankan nama baiknya di kancah game balap.
Sebagai sebuah nama besar game balap NFS memiliki sejarah panjang yang seru untuk diikuti. Nah, pada artikel ini, kami akan membahas secara singkat bagaimana kiprah serta naik turun dari Need for Speed. Mari simak, ya!
1994: Awal Mula Need for Speed
Need for Speed bukanlah nama baru, bahkan sudah tidak muda lagi. Seri balap satu ini menginjakkan kakiknya di ranah game balap pada tahun 1994. Seri pertama NFS merupakan hasil kerjasama Electronic Arts (atau sekarang dikenal sebagai EA) dengan Road & Track (sebuah majalah otomotif ternama).
Sebagai game yang dirilis untuk konsol 3DO, game bertajuk The Need for Speed ini memiliki visual 3D yang memukau di zamannya. Game balap satu ini begitu revolusioner dengan konsep balapan jalanannya. Selain itu, The Need for Speed mengambil premis yang melibatkan mobil-mobil sport mahal dan mobil Jepang yang eksotik. Karena ingin mengangkat konsep balapan jalanan, tak lengkap jika tidak ada kehadiran Polisi yang siap mengintai dan mengejar kita kapan saja.
Karena 3DO tidak begitu popular dibandingkan SEGA Mega Drive (Genesis) dan Super Nintendo, game ini kurang sukses secara komersial. Dua tahun setelahnya EA merilis kembali di konsol 32-bit yang jauh lebih laris, yakni PlayStation dan SEGA Saturn dengan menambahkan tiga track tambahan. Formula yang diracik oleh EA pada game perdananya ini menjadi cikal bakal seri-seri selanjutnya.
1997: Sekuel-nya yang Tidak Sebaik Prekuelnya
Kesuksesan seri pertama membawa EA menginspirasi EA untuk melanjutkan ke seri selanjutnya. Sama seperti game sebelumnya, Need for Speed II menyajikan beberapa mobil-mobil mewah dan eksotik. Agar bisa mengikuti zaman, di mana era LAN sedang ramai-ramainya, seri ini menyertakan fitur tersebut. Sayangnya, disertainya fitur LAN tidak membuat game ini mampu meneruskan kesuksesan seri awal NFS. Entah karena tidak adanya fitur pengejaran polisi, NFS II mendapatkan skor yang lebih rendah di beberapa media.
1998-2002: Dari Hot Pursuit hingga ke Konsol 128-bit
Empat tahun setelah debutnya, EA meluncurkan Need for Speed III: Hot Pursuit (1998), yang kembali menghadirkan mode “kejar-kejaran polisi” sebagai salah satu ciri khas franchise ini. Menariknya dalam seri ini, pemain dapat memilih untuk menjadi pembalap atau polisi. Dengan adanya mode ini, Hot Pursuit mampu mengembalikan bahkan menorehkan kesuksesan yang lebih besar dibanding seri pertamanya. Di samping itu, Need for Speed III: Hot Pursuit memiliki visual yang lebih realistis dengan memperlihatkan isi di dalam mobil.
Tidak berhenti di situ, EA meluncurkan Need for Speed: High Stakes (1999) dan Need for Speed: Porsche Unleashed (2000). High Stakes adalah seri NFS yang tidak lagi menyertakan nomor pada judul game. Namun, antara High Stakes dengan Hot Pursuit tak ada peningkatan yang berarti. Kemudian, pada di tahun 2000, EA bekerja sama dengan salah satu brand mobil ternama, Porsche dengan merilis NFS: Porsche Unleashed yang juga dikenal sebagai Porsche 2000. Secara mekanisme dan visual, lagi-lagi tidak ada perubahan yang signifikan. Hal ini disebabkan penggunaan engine yang sama dengan Hot Pursuit. Bagaimana dengan respons para gamers? Seri ini lagi-lagi tidak bisa mengikuti kesuksesan Hot Pursuit.
Tidak sukses dengan dua seri setelah Hot Pursuit, EA coba rehat sejenak dan tidak merilis game NFS di tahun 2001. Di tahun 2002 di mana konsol 128-bit sedang dalam masa jayanya, seri ini ingin ikut berada di dalamnya. Untungnya, game yang digarap oleh EA Black Box ini mampu memberikan suguhan yang bagus di PS2.
2003: Mengangkat Budaya Kustomisasi Mobil Melalui NFS Underground
Inilah seri yang menjadi pendongkrak popularitas NFS yang telah lama redup, yakni NFS Underground. Bagi kalian yang tumbuh di tahun 2003 dan mengikuti Need for Speed, pasti mengenal Underground. Ditambah lagi dengan naik daunnya film The Fast and The Furious yang dibintangi Vin Diesel, budaya kustomisasi mobil menjadi tren di kala itu.
Meski tidak membawa konsep kejar-kejaran dengan polisi, dengan fitur kustomisasi, Underground mampu menjadi salah satu seri game balap paling terkenal sepanjang sejarah. Ditambah lagi dengan balapan yang hanya di malam hari ditemani dengan musik-musik dari artis-artis ternama, Underground membantu artis-artis tersebut ikut populer. Kesuksesan dari Underground turut membawa beberapa developer mengikuti konsep serupa beberapa judul seperti Midnight Club dan Street Racing Syndicate ingin mencoba bermain di ranah balapan liar malam hari.
2004: Underground 2 yang Mampu Melanjutkan Kesuksesan
Salah satu hal yang sulit ketika pernah meraih kesuksesan adalah menjadi lebih sukses atau setidaknya mempertahankannya. Di awal kiprahnya, Need for Speed gagal untuk membuat sekuel yang sebaik seri debutnya. Namun, berbeda dengan Underground 2. Game ini mampu melanjutkan estafet keberhasilan dari seri sebelumnya. Game ini memperkenalkan konsep open world di sebuah seri game balap mobil, yang membuat pemainnya bisa mengeksplorasi lebih bebas.
2005-2008: Most Wanted dan Carbon – Puncak dari Popularitas
EA tampaknya ingin menggabungkan unsur yang pernah ada di seri orisinal dengan konsep Underground melalui sebuah seri berjudul Most Wanted. Alhasil, game ini mampu meraih kesuksesan. Most Wanted bisa dikatakan adalah sebuah game balap liar paket lengkap. Mulai dari eksplorasi map dengan bebas, kustomisasi mobil sesuka kita, hingga kejar-kejaran dengan polisi. Most Wanted juga memberikan alur cerita yang seru untuk diikuti, sehingga menambahkan kematangan sebuah game balap liar.
Kesuksesan Most Wanted diikuti oleh Need for Speed: Carbon (2006), yang melanjutkan narasi dari Most Wanted. Carbon ingin mengembalikan lagi tema balap di malam hari seperti seri Underground. Namun, yang membedakan adalah arenanya yang lebih berkelok-kelok karena berada di wilayah pegunungan. Memainkan Carbon mengingatkan kami dengan anime Initial D. Bahkan fitur drift di lintasang gunung terinspirasi dari budaya balap jalanan di Jepang. Seri Carbon mengenalkan sistem crew di mana kita bisa merekrut pembalap lain untuk membantu dalam balapan. Meski tidak sesukses Most Wanted, Carbon masih tetap menjadi salah satu yang enjoyable.
Lalu, EA merilis sebuah seri bernama ProStreet (2007) yang mencoba bereksperimen menjadi sebuah game balap yang lebih ‘legal’. Namun, meski seri ini mengambil arahan balapan di sirkuit, ProStreet memiliki cerita. Di sini kita akan memainkan seorang mantan pembalap jalanan yang hijrah ke area yang lebih resmi. Game ini menggabungkan format arcade dengan simulasi. Sayangnya, penerimaan kurang baik di mata banyak penggemar NFS.
Merasa konsep balapan legal kurang efektif, NFS kembali ke jalur ilegal dengan NFS Undercover (2008). Kembalinya ke konsep balapan jalanan ternyata tidak membuat Undercover disukai. Game ini juga diserbu komentar negatif tak hanya dari gamers, namun dari media juga.
2009-2013: Eksperimen dan Penyempurnaan
Tak kapok dengan konsep balapan resmi, pada tahun 2009, EA merilis Need for Speed: Shift, yang merupakan sebuah upaya untuk mengadopsi simulasi balap yang lebih realistis, mirip dengan Gran Turismo dan Forza Motorsport. Shift dikembangkan oleh Slightly Mad Studios dan mengutamakan balap di sirkuit, berbeda dari gaya arcade jalanan yang menjadi ciri khas Need for Speed. Seri ini, dapat menjawab atas kegagalan ProStreet yang pernah diterima oleh NFS.
Walaupun mendapatkan ulasan yang positif, sebagian penggemar merasa bahwa pendekatan ini terlalu jauh dari identitas asli franchise Need for Speed.
Tak terlena dengan respons positif seri Shift, EA ingin menghadirkan game NFS yang kembali akarnya melalui Need for Speed: Hot Pursuit (2010), yang menghadirkan pengalaman klasik kejar-kejaran polisi dengan sentuhan grafis modern dan fitur sosial Autolog yang memungkinkan pemain membandingkan skor dengan teman-temannya.
Lalu di tahun yang sama dengan Hot Pursuit reboot, NFS World hadir untuk ikut meramaikan pasar MMO. Game ini cukup diminati oleh banyak gamers. Namun, di tahun 2015 EA Black Box menutup server NFS World. Setahun setelah Hot Pursuit reboot, Slightly Mad Studios merilis Shift 2: Unleashed yang masih berada di ranah balapan sirkuit resmi. Shift 2 tetap bisa membawa nama baik seri pertamanya. Ketika Shift 2 mampu dicintai penggemarnya, EA Black Box malah merilis game NFS dengan konsep yang baru bernama Need for Speed: The Run yang memiliki alur cerita layaknya film. Sialnya, The Run tak mampu mengambil hati para penggemar NFS.
Tahun 2012, EA meminta game reboot Most Wanted dikerjakan oleh Criterion Games yang juga merupakan developer seri Burnout. Meski lebih sering membuat game dengan full action, studio satu ini ternyata cukup berhasil membangkitkan kembali NFS Most Wanted. Kendati demikian, meski game ini diterima baik, banyak yang cukup kecewa karena nuansa Most Wanted orisinal kurang terasa.
Criterion kembali dipercaya EA untuk bertanggung jawab menggarap game NFS selanjutnya. Di tahun 2013, studio yang berlokasi di Inggris ini menggarap NFS Rivals yang mengangkat dua sudut pandang, yakni menjadi polisi atau pembalap.
2015-2020: Need for Speed Modern dan Kembalinya Kejayaan dengan Heat
Memasuki era konsol generasi baru, EA mencoba mengembalikan formula lama dengan pendekatan baru. Need for Speed (2015) hadir dengan sistem kustomisasi yang lebih detail dan konsep open world, meskipun dirilis dengan beberapa kekurangan seperti koneksi daring wajib yang sempat menjadi kritik. Namun, Need for Speed: Payback (2017) kembali mencoba pendekatan ala film action, dengan penekanan pada narasi dan elemen RPG.
Pada 2019, EA kembali merilis Need for Speed: Heat, yang memadukan elemen terbaik dari generasi sebelumnya. Game ini kembali mengangkat konsep open-world di kota fiksi Palm City, di mana kita dapat berpartisipasi dalam balapan legal di siang hari dan balapan ilegal di malam hari. Kombinasi keduanya membuat Heat game NFS terakhir yang dicintai oleh penikmat NFS.
Ke Mana Arah Need for Speed Selanjutnya?
Dengan hadirnya konsol PlayStation 5 dan Xbox Series X, Need for Speed kini menghadapi tantangan besar di era konsol generasi. Untuk seri konsol generasi terbaru ini, EA meminta kembali Criterion untuk menggarap game NFS. Alhasil, hadirlah NFS Unbound. Unbound mengangkat konsep arcade seperti beberapa seri NFS dengan kustomisasi penuh dan art style yang unik. Eksperimen secara visual di NFS Unbound ternyata membuat game ini cukup diterima.
Kesimpulan
Sejak tahun 2022, belum ada lagi informasi terkait game terbaru Need for Speed. Bila ada, apakah seri ini mampu bersaing, entah itu dengan format simulasi atau arcade? Kita tunggu saja nanti kabar dari EA.
Jika kamu adalah penggemar Need for Speed atau ingin tetap update dengan perkembangan terbaru seputar dunia game, jangan ragu untuk bergabung dan mengikuti kami di Gameformia! melalui media sosial kami: YouTube, Instagram, dan Facebook. Di sana, kamu akan mendapatkan ulasan, rekomendasi, dan berita terkini seputar dunia game.


