Setelah hampir satu dekade berada dalam proses pengembangan, Metroid Prime 4: Beyond akhirnya meluncur untuk Nintendo Switch dan Nintendo Switch 2 pada Desember 2025. Namun di balik perilisannya, tersimpan keputusan besar yang sempat membayangi tim pengembang, yakni apakah game ini perlu di-reboot ulang untuk kedua kalinya, atau tetap berjalan dengan visi awal meski selera pemain sudah berubah.

Nintendo menegaskan bahwa opsi reboot ulang sama sekali tidak realistis. Hal itu terungkap dalam wawancara terbaru tim pengembang Metroid Prime 4 bersama Famitsu, yang terjemahannya dipublikasikan oleh Nintendo Everything. Dalam wawancara tersebut, tim membahas secara terbuka perjalanan panjang pengembangan game ini, di mana untuk pertama kalinya sejak proyeknya diumumkan pada 2017.
Secara umum, Metroid Prime 4: Beyond mendapat respons positif dari kritikus. Namun, sebagian pemain melontarkan kritik terhadap karakter pendukung serta area hub berlatar gurun yang dinilai terasa usang dan kurang relevan dengan tren game modern.
Menurut pengakuan tim pengembang, arah desain Beyond bermula dari keinginan untuk membawa elemen open-world ke dalam semesta Metroid. Dorongan tersebut tidak lepas dari pengaruh besar The Legend of Zelda: Breath of the Wild, yang kala itu memicu banyak permintaan pemain agar Metroid ikut mengadopsi konsep dunia terbuka.
“Di awal pengembangan, kami melihat banyak komentar di internet yang menginginkan Metroid versi open-world,” ujar tim pengembang kepada Famitsu.
Namun, mereka segera menyadari bahwa DNA utama Metroid, yakni eksplorasi area yang terbuka seiring didapatkannya kemampuan baru, tidak sepenuhnya sejalan dengan konsep open-world yang memberi kebebasan menjelajah sejak awal permainan.
Sebagai jalan tengah, tim memilih pendekatan berbeda. Alih-alih menghadirkan dunia terbuka penuh, mereka merancang area terbatas yang bisa dieksplorasi secara bebas dan berfungsi sebagai hub penghubung ke area-area lain. Area ini juga dirancang agar bisa dijelajahi menggunakan kendaraan, dengan tujuan memberi jeda dari ketegangan eksplorasi dan menjaga tempo permainan tetap seimbang.
Masalahnya, proses pengembangan Metroid Prime 4 berjalan jauh lebih lama dari perkiraan. Ketika game mendekati tahap akhir, tim menyadari bahwa persepsi pemain terhadap game open-world sudah tidak lagi sama seperti saat proyek ini dimulai.
Meski demikian, pilihan untuk mengulang pengembangan kembali dianggap mustahil. Pasalnya, proyek ini sudah pernah di-reset sekali, yakni ketika Nintendo memutuskan menarik pengembangan dari Bandai Namco dan menyerahkannya kepada Retro Studios pada 2019.
“Karena pengembangan sudah pernah dimulai ulang dari nol bersama Retro Studios, memundurkan proyek sekali lagi benar-benar di luar pilihan,” ujar tim. “Kami akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan visi awal.”
Keputusan itu juga berarti menahan diri dari mengikuti evolusi genre shooting game dan action game yang belakangan semakin cepat dan agresif. Tim pengembang mengaku sengaja tidak mengakomodasi perubahan tersebut, karena dianggap berpotensi merusak ritme khas sebuah adventure game.
“Jika kami mengikuti tren tersebut, akan sulit menjaga tempo petualangan. Karena itu, kami secara sadar memilih untuk tidak menyesuaikannya,” lanjut mereka. “Dalam arti tertentu, game ini memang cukup terlepas dari perubahan zaman.”
Menariknya, wawancara tersebut juga mengungkap bahwa Nintendo sudah menentukan fondasi cerita dan mekanik utama Metroid Prime 4 sebelum proyeknya dipindahkan ke Retro Studios. Salah satu konsep penting yang sudah dirancang sejak awal adalah penggunaan kemampuan psikis.
Ide tersebut berangkat dari eksperimen sederhana dalam prototipe, yakni kemampuan Samus untuk mengendalikan Charge Beam. Setelah diuji dan dinilai menambah kedalaman gameplay, tim mulai mempertanyakan dasar naratif dari kemampuan tersebut, hingga akhirnya mengaitkannya dengan kekuatan psikis.
Ketika pengembangan resmi dialihkan ke Retro Studios, Nintendo pun meminta studio tersebut untuk mengembangkan lebih jauh berbagai variasi kemampuan psikis sebagai elemen inti permainan.

