Meski kerap dianggap sebagai salah satu seri Final Fantasy yang “paling klasik”, Final Fantasy IX justru memiliki basis penggemar yang lebih kuat di luar Jepang. Hal ini diungkapkan langsung oleh komposer legendaris seri tersebut, Nobuo Uematsu, yang menyebut bahwa popularitas game itu di kalangan pemain internasional terasa lebih menonjol dibandingkan di negara asalnya.
Tahun lalu, game ini genap berusia 25 tahun. Dalam rangka perayaan tersebut, majalah Famitsu mewawancarai Uematsu untuk menelusuri kembali proses kreatifnya, termasuk relasi personal sang komposer dengan soundtrack FF9, yang ternyata menempati posisi istimewa dalam kariernya.
Menurut Uematsu, kesan kuat soal besarnya basis penggemar FF9 di luar Jepang kerap ia rasakan setiap kali bepergian ke luar negeri. Ia menyebut, dibandingkan penggemar di Jepang, pemain internasional lebih sering menempatkan FF9 sebagai judul favorit mereka. Meski begitu, Uematsu mengaku belum sepenuhnya yakin apa faktor utama yang membuat game ini begitu melekat di hati pemain Barat, apakah karena pendekatan fantasi abad pertengahannya, atau alasan lain.

Namun satu hal yang pasti, FF9 menyimpan banyak komposisi musik yang secara personal sangat disukai Uematsu. Ia bahkan menyiratkan bahwa kedekatan emosionalnya dengan lagu-lagu tersebut bisa jadi turut berkontribusi pada daya tarik game ini secara keseluruhan.
Menariknya, Uematsu juga mengungkap sisi perfeksionisnya sebagai komposer. Ia mengaku hampir tidak pernah benar-benar puas dengan karya yang ia buat. Begitu sebuah lagu selesai, ia justru enggan mendengarkannya kembali karena merasa canggung. Meski begitu, selama proses debugging, ia terpaksa terus memutar lagu-lagu tersebut hingga akhirnya merasa jenuh sendiri. Candaan itu justru memperlihatkan betapa kritisnya Uematsu terhadap karyanya.
Kendati demikian, untuk sejumlah lagu di FF9, ia mengakui masih bisa menikmati melodi dan progresi kord yang ia ciptakan. Biasanya, ia hanya menemukan “cacat-cacat kecil” yang mungkin tak disadari pendengar awam. Namun, pada akhirnya ia tetap bisa berdamai dengan hasil akhirnya, setidaknya dari sisi melodi.
Dari sekian banyak lagu, Roses of May, tema piano milik karakter General Beatrix, disebut Uematsu sebagai favorit pribadinya. Selain itu, ia juga menaruh kesan mendalam pada The Final Battle, musik pertarungan terakhir dalam game. Untuk lagu tersebut, Uematsu bahkan secara khusus meminta efek suara “arwah orang mati” dan mempercayakan eksekusinya kepada programmer synthesizer Keiji Kawamori, yang menurutnya berhasil menghadirkan hasil di luar ekspektasi hanya dalam semalam.
Pendekatan back-to-the-basics yang diusung FF9 rupanya menjadi pengalaman menyegarkan bagi Uematsu, terutama setelah sebelumnya menggarap beberapa seri Final Fantasy dengan nuansa sci-fi yang kuat. Kembalinya FF9 ke dunia fantasi abad pertengahan justru terasa lebih dekat dengan selera personal sang komposer.
Uematsu bahkan menyebut dirinya sebagai “otaku abad pertengahan”. Demi mendalami nuansa tersebut, ia dan istrinya sempat melakukan perjalanan ke Eropa untuk mengunjungi kastel-kastel tua sebagai bahan riset visual dan atmosfer. Meski perjalanan itu dipenuhi mahasiswa dan membuatnya kelelahan, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk arah musikal FF9.

