Pembatalan Prince of Persia: The Sands of Time kembali menambah daftar panjang proyek game besar yang kandas di tengah jalan. Bagi penggemarnya, kabar ini jelas mengecewakan. Namun, bagi yang terlibat langsung, dampaknya jauh lebih personal dan mendalam.
Salah satunya dirasakan oleh Eman Ayaz, pengisi suara yang terlibat dalam proyek tersebut. Dalam sebuah video pernyataan, Ayaz menyebut pembatalan Prince of Persia: The Sands of Time sebagai “momen paling menghancurkan dalam karier saya”.
Game ini sejatinya telah lama dinantikan. Ubisoft bahkan sempat menghapus label “Remake” dari judulnya pada 2024, seolah menandakan proyek tersebut memasuki fase akhir. Namun, alih-alih dirilis, proyek ini justru dihentikan sepenuhnya.
Ayaz mengungkapkan bahwa ia bergabung dengan proyek ini sekitar tiga tahun lalu melalui proses audisi yang panjang dan ketat. Tahapannya mencakup self-tape audition, panggilan tatap muka, hingga chemistry read yang mengharuskannya terbang ke luar kota.
“Saat saya mendapatkan peran itu, saya benar-benar menangis,” ujar Ayaz. “Saya mendedikasikan tiga tahun hidup saya untuk proyek ini, tumbuh bersama tim yang rasanya sudah seperti keluarga, dan menunggu hari ketika akhirnya game ini dirilis.”
Yang membuat situasi semakin pahit, Ayaz justru mengetahui kabar pembatalan tersebut bukan dari Ubisoft, melainkan dari saudaranya. Sang kakak menanyakan kebenaran kabar itu setelah membaca laporan mengenai restrukturisasi internal Ubisoft.
Padahal, menurut Ayaz, kondisi proyek sebelumnya terlihat normal. Ia masih terlibat dalam proses pemasaran dalam beberapa bulan terakhir, dan tim internal menargetkan perilisan The Sands of Time pada tahun ini. “Saya benar-benar syok,” katanya. Peran tersebut, menurutnya, adalah bentuk validasi atas kemampuannya sebagai aktor, sekaligus penampilan terbaik yang pernah ia berikan.
Dampak pembatalan ini tidak berhenti pada kekecewaan emosional. Secara profesional, Ayaz menghadapi konsekuensi yang nyata. Sebagai warga Kanada, ia sebelumnya berencana mengajukan visa kerja ke Amerika Serikat. Namun, tanpa rilis resmi dan portofolio yang bisa ditunjukkan, opsi tersebut kini tertutup.
Situasi ini makin berat mengingat minimnya peran untuk perempuan Muslim Asia Selatan di industri hiburan. Terikat NDA, Ayaz bahkan tidak bisa membicarakan detail proyek atau membagikan hasil kerjanya. “Rasanya seperti proyek ini tidak pernah ada,” ujarnya.
Padahal, peran utama dalam game besar sering kali menjadi batu loncatan penting dalam karier seorang aktor. Industri hiburan—termasuk game—masih sangat bergantung pada rekam jejak yang terlihat publik. Ketika tiga tahun kerja berakhir tanpa jejak, dampaknya bisa sangat merusak karier.
Ayaz juga mengkritik budaya risk aversion di industri hiburan. Menurutnya, ketakutan mengambil risiko justru mematikan kesempatan audiens untuk menikmati karya yang segar dan berani. “Sering kali, cerita-cerita dari kelompok yang terpinggirkan adalah yang pertama dipangkas karena dianggap tidak penting,” katanya.
Ia menambahkan bahwa industri hiburan pada akhirnya lebih berfokus pada stabilitas arus kas ketimbang nilai artistik. “Keputusan-keputusan itu memperlakukan kehidupan manusia sebagai kerusakan kolateral, dan seni sebagai konten yang bisa dibuang,” ujar Ayaz.
Dari sisi korporasi, Prince of Persia: The Sands of Time sebenarnya dipandang sebagai proyek yang berpotensi menjadi kemenangan besar bagi Ubisoft. Seorang pengguna Reddit yang mengaku sebagai pengembang game tersebut menyebut bahwa proyek ini memang sudah mendekati tahap rilis. Namun, menurutnya, “hampir siap” tidak selalu berarti layak dirilis.
Ia menilai bahwa dalam beberapa kasus, manajemen memilih menghentikan proyek demi menekan kerugian, ketimbang merilis produk yang tidak sepenuhnya mereka yakini, meskipun keputusan tersebut tampak menyakitkan dan sia-sia dari luar.
Meski begitu, bagi Ayaz, keberadaan The Sands of Time tidak bisa dihapus begitu saja. “Begitu banyak seniman berbakat mencurahkan waktu dan energi mereka untuk proyek ini,” katanya. “Pengalaman itu tidak menghilang. Ia tetap hidup, setidaknya di hati kami.”
Menurut Ayaz, proyek ini telah mengajarkannya tentang batas kemampuannya sendiri, tentang gairah, kebersamaan, dan makna berkarya. “Semua itu akan saya bawa terus,” ujarnya. “Itu yang akan menjadi api untuk membuat saya tetap melangkah.”


