Rencana akuisisi Electronic Arts (EA) oleh konsorsium yang dipimpin Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi kembali memunculkan sorotan besar. Jika kesepakatan itu rampung, PIF disebut-sebut akan menguasai lebih dari 93,4% saham perusahaan game raksasa asal Amerika Serikat tersebut.
Informasi ini pertama kali terungkap lewat dokumen yang diserahkan ke regulator anti-trust Brasil, seperti dilaporkan Wall Street Journal. Dalam dokumen itu, dua anggota konsorsium lainnya, Silver Lake dan Affinity Partners, masing-masing hanya memegang 5,5% dan 1,1% saham. Menariknya, PIF juga tercatat sebagai investor besar di dua perusahaan tersebut, sehingga total kepemilikan efektifnya atas EA hampir mendekati penuh.
Kabar akuisisi EA sebenarnya sudah beredar sejak akhir September. Konsorsium itu disebut sepakat menggelontorkan dana sekitar 55 miliar dolar AS untuk membawa EA menjadi perusahaan privat. Pengumuman resmi kemudian dirilis pada hari yang sama. Jika semua proses berjalan mulus, transaksi ini ditargetkan selesai pada kuartal pertama tahun fiskal EA 2027, atau sebelum 30 Juni 2026.
Meski begitu, kesepakatan ini masih menunggu lampu hijau dari regulator. Namun, ada dugaan bahwa prosesnya bisa berjalan lebih mulus karena Affinity Partners didirikan dan dikelola oleh Jared Kushner—menantu Presiden AS, Donald Trump. Faktor politik diyakini dapat memberi pengaruh pada proses perizinan.
Di sisi internal, CEO EA Andrew Wilson dipastikan tetap memimpin perusahaan. Dalam memo kepada karyawan, manajemen EA menegaskan bahwa perubahan kepemilikan tidak akan mengubah arah operasional mereka. “Misi, nilai, dan komitmen kami kepada para pemain dan penggemar tetap sama,” tulis Wilson. Ia juga menekankan bahwa EA akan tetap memegang kendali kreatif penuh atas game-game mereka.
Sementara itu, laporan New York Times pada November menyebut PIF sedang menghadapi tekanan keuangan karena sejumlah proyek yang mereka biayai mengalami masalah finansial. Meski demikian, kondisi tersebut tidak terkait dengan investasi PIF di industri game, mulai dari Scopely, Embracer Group, hingga kepemilikan besar mereka di Take-Two dan Nintendo.


