Reboot Fable yang tengah dikembangkan Playground Games membawa perubahan besar pada fondasi seri legendaris ini. Salah satu keputusan paling kontroversial adalah dihilangkannya sistem perubahan fisik karakter berdasarkan moralitas, di mana fitur yang selama ini menjadi identitas kuat Fable di mata fans-nya.
Dalam game Fable terdahulu, pilihan moral pemain berdampak langsung pada penampilan karakter. Tindakan kejam bisa memunculkan tanduk iblis, sementara perbuatan baik menghadirkan aura malaikat yang dilengkapi dengan halo di kepala. Namun, di Fable versi terbaru, mechanics tersebut tak lagi digunakan. Artinya, pemain tidak akan “ditandai” secara visual sebagai sosok baik atau jahat.
Keputusan ini memicu perdebatan di kalangan komunitas. Sebagian pemain menganggap absennya sistem moralitas visual sebagai kehilangan besar, sementara yang lain melihatnya sebagai langkah evolusioner yang lebih relevan dengan pendekatan naratif modern.
General Manager sekaligus pendiri Playground Games, Ralph Fulton, menjelaskan kepada IGN bahwa perubahan ini berangkat dari filosofi desain yang berbeda. Menurutnya, Fable terbaru tidak lagi memandang moralitas sebagai sesuatu yang hitam-putih. “Di game ini, tidak ada kebaikan dan kejahatan yang benar-benar objektif,” ujar Fulton.
Alih-alih sistem moralitas tunggal, Fable reboot memperkenalkan sistem reputasi. Setiap wilayah atau pemukiman di Albion akan menilai pemain secara berbeda, tergantung tindakan yang dilakukan. Fulton menilai pendekatan ini tak akan berjalan jika karakter pemain langsung “terbaca” sebagai penjahat atau pahlawan dari penampilannya. “Kalau kamu datang dengan tanduk dan trisula, reputasimu akan langsung mendahului dirimu,” katanya.
Dalam wawancara terpisah dengan GamesRadar+, Fulton menambahkan bahwa timnya ingin menghadirkan sistem moralitas yang lebih mencerminkan dunia nyata. Moral, menurutnya, selalu penuh area abu-abu dan sangat bergantung pada sudut pandang masing-masing individu.
Namun, tidak semua pemain sepakat dengan pendekatan tersebut. Di subreddit utama Fable, sejumlah penggemar melontarkan kritik keras. Seorang pengguna menulis bahwa tindakan ekstrem seperti membantai desa dan menyakiti warga sipil seharusnya tetap diberi label “jahat” secara jelas.
Penggemar lain menyoroti aspek historis seri ini. Sistem perubahan karakter, menurut mereka, bukan sekadar mechanics tambahan, melainkan inti dari pengalaman Fable. Bahkan, konsep tersebut pernah dijadikan visual utama di box art game-game lamanya. Menghapusnya dinilai menghilangkan pembeda utama Fable dari RPG Barat berlatar abad pertengahan lainnya.
Meski begitu, ada pula suara yang menyambut positif perubahan ini. Beberapa penggemar menilai sistem reputasi berbasis wilayah sebagai pengembangan yang lebih dalam dan kompleks dibandingkan sekadar parameter “baik” atau “jahat”. Persepsi yang berbeda di tiap kota dianggap mampu memperkaya narasi dan memberi konsekuensi yang lebih kontekstual terhadap tindakan pemain.


