Clair Obscur: Expedition 33 berhasil membuktikan bahwa game turn-based RPG dengan gaya yang sempat populer pada era 1990-an hingga awal 2000-an bukanlah monopoli Jepang, meski genre ini kerap dilekatkan dengan label JRPG. Lebih dari itu, game garapan studio asal Prancis ini juga menepis anggapan bahwa genre tersebut berada di ambang kepunahan. Buktinya, Clair Obscur: Expedition 33 berhasil meraih penjualan tinggi di berbagai platform digital dan bahkan digadang-gadang menjadi kandidat kuat Game of the Year tahun ini.
Sandfall Interactive, sang pengembang, sukses menghidupkan kembali gaya klasik tersebut dengan pendekatan yang segar dan relevan bagi pasar game modern. Storytelling yang orisinal, mechanics yang inovatif, serta visual yang menawan menjadi kekuatan utama Clair Obscur: Expedition 33. Dalam artikel ini, kami akan membahas lebih dalam salah satu game RPG yang berhasil memikat perhatian kami. Jadi, pastikan kamu membaca sampai akhir!
Alur Cerita
Clair Obscur: Expedition 33 menceritakan tentang situasi di sebuah kota indah bergaya Belle Époque bernama Lumière, yang perlahan ditelan kehampaan. Kota ini terisolasi setelah bencana besar bernama Fracture, dan di tengahnya menjulang sebuah monolith hitam yang disertai angka hitung mundur yang terus menurun setiap tahun.

Angka itu bukan sekadar simbol, melainkan tanda, di mana setiap kali mencapai satu nilai tertentu, seluruh penduduk yang berusia sesuai dengan angka tersebut akan berubah menjadi debu, dalam peristiwa tahunan mengerikan bernama Gommage.
Untuk memutus rantai kematian yang tak berkesudahan ini, penduduk Lumière mengirim ekspedisi setiap tahun untuk memburu sosok misterius yang disebut Paintress, sang penyebab Gommage. Cerita dimulai pada hari Gommage ke-33.
Gustave, seorang lelaki berusia 32 tahun, harus merelakan kepergian tunangannya, Sophie, yang berusia 33 tahun dan lenyap bersama mereka yang seumuran. Dengan hanya tersisa satu tahun hidup, Gustave memutuskan bergabung dengan Expedition 33, yang merupakan perjalanan terakhir yang mungkin bisa mengubah nasib dunia.

Namun, perjalanan itu berubah menjadi mimpi buruk. Ekspedisi mereka berubah diserang oleh segerombolan monster ketika kapal yang membawa Gustave dan teman-temannya berlabuh di tepi pantai. Sebagian besar pasukan tewas, dan hanya segelintir yang selamat, yakni Gustave, Lune, Sciel, dan Maëlle, adik asuh Gustave yang tinggal di bawah pengawasan entitas misterius bernama Konservateur.
Lantas, bagaimana perjalanan Gustave dan teman-temannya dalam menjalankan ekspedisi berbahaya ini?
Karakter-Karakter Clair Obscur: Expedition 33
1. Gustave

Gustave merupakan seorang insinyur tangguh yang kehilangan lengan kiri, dan lalu menggantinya dengan lengan mekanis. Ia merancang pertahanan kota, sistem pertanian, sampai membuat Lumina Converter—perangkat penting yang membantu ekspedisi menghadapi Paintress. Dalam Expedition 33, Gustave mendedikasikan sisa hidupnya untuk memastikan anak-anak di kota Lumière memiliki masa depan.
2. Maëlle

Seorang gadis yatim piatu berusia 16 tahun, yang memiliki rasa ingin tahu tentang dunia luar. Sejak berusia 3 tahun ia kehilangan orangtua dan dibesarkan oleh Gustave sebagai adik angkatnya. Maëlle orang yang pemalu dan sulit percaya pada orang baru, tetapi sangat mengagumi Gustave. Meski begitu, Maëlle melihat ekspedisi sebagai kesempatan petualangan dan pembentukan takdirnya sendiri.
3. Lune

Ilmuwan dan penyihir cerdas dari keluarga peneliti ternama. Ia mewarisi sifat dari orangtuanya, yang rela mengorbankan segalanya untuk menyelesaikan karya orang tuanya tersebut. Di ekspedisi bersama Gustave dan lainnya, Lune ditugaskan untuk menentukan arah peta ekspedisi dan bertanggung jawab memastikan perjalanan mereka sukses mengungkap misteri Paintress. Lune adalah sosok yang mengingatkan Gustave untuk jangan berhenti dalam ekspedisi yang mereka jalani.
4. Sciel

Seorang mantan petani yang kemudian menjadi guru, berhati hangat dan ceria. Ia tidak gentar menghadapi maut karena telah lama menerima kekerasan dunia mereka. Sciel menyimpan luka yang dalam dengan senyum jahilnya.
5. Monoco

Makhluk Gestral (entitas buatan) berwajah ramah yang menjadikan pertarungan sebagai bentuk meditasi. Ia tidak terpengaruh kutukan Paintress, sehingga tidak ikut mengalami Gommage di Lumière. Kendati demikian, ajakan untuk bertarung membuatnya bergabung sebagai sekutu ekspedisi. Sebagai salah satu Gestral yang bisa berbahasa manusia, Monoco memiliki karakter unik. Ia bisa bisa nampak terpelajar, tetapi kebengisannya juga bisa keluar.
6. Esquié

Makhluk mitos lokal berwujud aneh (digambarkan seperti makhluk melata/burung mistis). Penduduk kota Lumière mengagumi legenda Esquié yang konon terbang ke angkasa dan menyelam jauh ke dasar laut. Dalam legenda tersebut Esquié juga dikenal sebagai sosok yang kuat. Namun pada kenyataannya Esquié adalah sosok yang pemalas dan misterius.
7. Renoir

Lelaki tua dan bijaksana yang menjadi komandan ekspedisi pendahulu. Ia sangat gigih dan obsesif untuk menyelamatkan keluarganya, serta rela melakukan apa saja demi tujuan itu. Renoir mengetahui bahwa rahasia kekekalannya datang dari hubungan dengan Paintress.
8. Verso

Sosok misterius yang mengawasi ekspedisi dari jauh. Ia menyusup membantu Gustave dan kawan-kawannya setelah mereka gugur. Verso memiliki motivasi yang tersembunyi, yakni ingin memilih melawan ibu tirinya.
9. Sophie

Sophie merupakan perempuan yang populer di Lumière. Ia pernah memiliki hubungan romantis dengan Gustave. Banyak orang yang menyetujui hubungan antara keduanya. Selain itu, bersama Sciel, Gustave dan Sophie pernah berada dalam proyek Aquafarm. Namun, karena kutukan Gommage, di usianya yang ke 33, Sophie harus lenyap dan meninggalkan Gustave dan orang yang ia cintai selama-lamanya.
Mechanics yang Inovatif
Cetak biru dari sebuah game turn-based RPG biasanya adalah sistem battle bergantian. Sang produser, François Meurisse, mengakui bahwa game RPG-nya ini secara gameplay mengambil inspirasi dari Final Fantasy VIII, Final Fantasy IX, dan Final Fantasy X. Namun, jika sebuah game turn-based hanya bertumpu pada mekanik dasarnya, ia akan sulit menonjol tanpa membawa nama besar atau cerita yang kuat untuk diikuti.
Sandfall Interactive ingin membuktikan bahwa turn-based mechanics bisa berpadu harmonis dengan elemen real-time khas game action. Selain itu, Meurisse, juga menyatakan bahwa adanya pengaruh Sekiro: Shadows Die Twice.

Jadi, dalam Clair Obscur: Expedition 33, kita tidak sekadar menyerang bergantian antara satu karakter dengan karakter lain, atau dengan musuh semata
Game ini menghadirkan elemen shooter di dalam sistem pertarungannya. Misalnya, karakter utama bernama Gustave dapat mengeluarkan pistol dan menembak titik lemah musuh untuk meningkatkan damage. Namun, inti dari mekanik Clair Obscur justru terletak pada tiga aksi penting, yakni parry, dodge, dan jump.

Ketiganya memiliki fungsi yang serupa, tetapi tak sama, yakni menghindari musuh. Parry adalah cara menghindari musuh dengan melakukan pertahanan kemudian melakukan counter attack.
Counter attack ini memiliki damage yang besar, sehingga mampu menumbangkan musuh dengan satu serangan. Parry memang kuat, tetapi membutuhkan ketepatan timing yang presisi. Sementara itu, dodge berfungsi untuk menghindar dari serangan musuh, dan jump memiliki fungsi mirip dodge namun dilakukan oleh seluruh anggota party secara bersamaan.
Bagi kamu yang familer dengan Persona, combat menu yang dihadirkan Sandfall Interactive di game ini mungkin akan terasa akrab. Clair Obscur memiliki tampilan menu yang apik dan stylish, dengan sentuhan artistik yang terinspirasi dari seri Persona.
Meski dikategorikan sebagai turn-based RPG, Clair Obscur: Expedition 33 tidak ingin pemainnya sekadar menunggu giliran menyerang. Di sini, ritme sangatlah esensial. Serangan—terutama yang berasal dari menu Skills—memerlukan timing yang tepat untuk menghasilkan damage maksimal. Begitu juga dengan kemampuan penyembuhan; semakin tepat ritmenya, semakin tinggi jumlah HP yang dipulihkan.
Unsur ritme inilah yang membuat Clair Obscur terasa menantang, terutama pada tingkat kesulitan normal. Setiap musuh memiliki pola serangan dan ritme berbeda, sehingga kita harus memanfaatkan pendengaran dan penglihatan dengan cermat untuk menentukan momen parry atau dodge yang tepat.
Untuk menaklukkan musuh dengan lebih efisien, kita bisa menggunakan heavy skills yang menghasilkan damage besar. Namun, kemampuan-kemampuan tersebut tidak bisa digunakan sembarangan. Kita perlu mengatur penggunaan Action Points (AP), yang berfungsi layaknya Mana Points (MP) pada game RPG lain, yang menjadi sumber daya utama dalam setiap aksi di medan tempur.
Upgrade Karakter yang Lebih Mendetail
Selain aspek battle mechanics, sistem character upgrade di Clair Obscur: Expedition 33 juga menawarkan hal menarik. Berbeda dari RPG klasik ala Final Fantasy, game besutan studio asal Prancis ini mengusung konsep peningkatan karakter bergaya CRPG seperti Baldur’s Gate 3 dan sejenisnya, di mana kita bebas memilih aspek mana yang ingin ditingkatkan.

Setiap kali karakter naik level dan memperoleh EXP dari battle, mereka mendapatkan tiga poin atribut yang dapat dialokasikan ke lima stats inti: Vitality (menambah HP), Might (daya serang), Agility (frekuensi serangan), Defense (pengurangan damage), dan Luck (peluang serangan kritikal).

Hal yang sama juga berlaku untuk peningkatan skill melalui sistem skill tree. Meski begitu, penggemar JRPG tetap bisa beradaptasi dengan mudah dengan sistem upgrade yang ditawarkan. Misalnya, Lune sang penyihir menyimpan elemen “Stains” untuk memperkuat sihirnya, Maelle dapat berganti stance (gaya bertarung) yang berbeda, dan Sciel mengumpulkan efek “Foretell” lewat kartu sihir untuk serangan dahsyat.
Selain itu, salah satu aspek paling menonjol dari Clair Obscur: Expedition 33 adalah sistem Pictos dan Lumina yang menawarkan pendekatan kustomisasi karakter yang segar dan strategis. Setiap karakter dapat mengenakan hingga tiga Picto atau aksesori khusus yang tidak hanya meningkatkan statistik, tetapi juga memberikan efek tambahan dalam battle.
Uniknya, setelah sebuah Picto digunakan dalam empat batlle, ia akan membuka kemampuan pasif permanen yang disebut Lumina, yang kemudian bisa diwariskan ke karakter lain. Namun, pemakaian Lumina dibatasi oleh Lumina Points, yang menuntut kita untuk membuat keputusan cermat dalam menyusun build terbaik.
Game AA dengan Visual yang Sangat Cantik
Melihat graphics yang disajikan oleh Clair Obscur: Expedition 33 yang merupakan sebagai AA dengan tim yang jumlahnya bahkan jauh lebih kecil dari tim microtransaction Call of Duty, nampaknya tidak mungkin dipercaya.
Meski jika dilihat visualnya tidak sedetail game-game AAA seperti Assassins Creed Shadows atau Ghost of Yotei. Kendati demikian, visual yang dihadirkan oleh game RPG besutan studio asal Prancis ini sangatlah cantik, bahkan untuk studio berskala AA.

Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh situs resmi Unreal Engine, co-founder Sandfall Interactive, Tom Guillermin, menyebutkan bahwa dunia yang dibangun di game RPG satu ini terinspirasi dari style Art Deco.
Gaya Art Deco ini sebenarnya juga dapat dilihat pada beberapa game seperti Bioshock dan Dishonored. Namun, di Expedition 33, arahan artistiknya diracik sedemikian rupa yang menghadirkan style tersebut dengan dunia fantasi. Selain gaya tersebut, bangunan di game ini juga mengambil referensi dari arsitektur Paris bergaya Belle Époque.

Untuk engine-nya, berdasarkan sebuah artikel dari Gamegpu, Clair Obscur: Expedition 33 menggunakan Unreal Engine 5 dengan pemanfaatan secara penuh teknologi Nanite dan Lumen. Jadi, teknologi ini mampu menghasilkan model geometri tinggi, dengan pengelolaan beban performa optimal, serta mampu memproduksi pencahayaan dinamis. Melihat visual yang dipamerkan di game RPG ini, Sandfall Interactive sangat memanfaatkan teknologi-teknologi yang ditawarkan oleh engine terakhir besutan Epic Games tersebut.
Detail-detail menarik juga dapat kita lihat pada karakternya. Saat HP mulai kritis, luka-luka nampak di tubuh mereka, darah menodai kulit, dan pakaian yang dikenakan tampak tercabik layaknya habis melalui pertempuran sengit.
Efek visual ini memberikan kesan bahwa setiap serangan benar-benar memiliki dampak fisik yang nyata. Begitu karakter disembuhkan, luka dan noda darah tersebut menghilang, seolah tubuh mereka dipulihkan sepenuhnya.
Simbolisme, Paradoks, dan Filosofi Eksistensialisme Ala Sartre
Setelah memainkan game ini kami melihat Clair Obscur: Expedition 33 bukan hanya ingin menempatkan mereka pada katalog game turn-based RPG yang terpengaruh dari game JRPG klasik, melainkan juga sebuah karya seni melalui medium video game. Karya ini dibangun atas ide paradoks di mana dari nama saja—Clair-Obscur yang jika diterjemahkan menjadi cahaya redup—menggambarkan sebuah kontradiksi. Kota Lumière yang berarti cahaya, meskipun indah, diselimuti melankolia dan kutukan monolith.

Menurut sebuah artikel dari Gamer’s Den game RPG satu ini juga sarat akan simbolisme visual. Monoltih dan lukisan angka yang digambar oleh Paintress menyiratkan simbol kematian tak terhindarkan dan takdir yang akan dihadapi setiap orang. Sementara Ekspedisi yang dilakukan oleh Gustave dan kawan-kawannya menyimbolkan pencarian makna akan absurditas hidup. Pemilihan referensi Belle Époque juga merepresentasikan kota yang meriah, namun retak.
Belle Époque sendiri merupakan sebuah periode dalam sejarah Prancis dan Eropa rentang tahun 1871 hingga 1914 yang dikarakterisasikan sebagai periode yang optimistis, damai, dan sejahtera secara ekonomi.
Era ini menunjukkan perkembangan teknologi, kebudayaan, dan kesenian yang sangat maju di Prancis. Namun, glamoritas itu hanya sekadar di permukaan, lantaran di dalamnya juga terpelihara kesenjangan sosial yang sangat tajam: mulai dari jutaan pekerja hidup di bawah garis kemiskinan, munculnya antisemitisme, dan hal buruk lainnya.
Selain visualnya yang artistik dan memiliki pengaruh Prancis yang kental, inspirasi dari karya sastra dan filosofi pesohor dari negara tersebut pun juga terasa. Sang produser, François Meurisse, secara blak-blakan menyatakan bahwa cerita Clair-Obscur: Expedition 33 dipengaruhi oleh novel fantasi yang ditulis oleh Alain Damasio yang berjudul La Horde du Contrevent.

Dari sisi filsafat, tema eksistensialisme ala Jean-Paul Sartre dan absurdisme Albert Camus kentara di sini. Filsafat Sartre menyatakan bahwa kehidupan tidak memiliki makna yang ditentukan, maka dari itu, manusia lah yang memaknainya sendiri melalui pilihan dan tindakannya mereka sendiri.
Sementara, Tema filsafat eksistensialisme dan absurdisme ini dapat dilihat dari penggambaran bagaimana para karakter mencari makna hidup, kebebasan memilih, dan pemberontakan terhadap takdir. Sedangkan, Camus (yang menjadi lawan debat abadi Sartre) menyatakan bahwa absurditas dalam hidup itu nyata, dan sebagai manusia, kita patut menolak pada nihilisme dan ideologi palsu.

Menurut artikel dari Gamer’s Den yang berjudul Into the Depths of Clair-Obscur: Expedition 33 (dalam bahasa Prancis Dans les profondeurs de Clair Obscur: Expedition 33), penggambaran pemberontakan tersebut mengingatkan pada tokoh Camus dalam bukunya The Plague (La Peste dalam bahasa Prancis). Untuk penggambaran Sartre, dalam Clair-Obscur terasa unsur di mana manusia harus bertindak dari apapun kenyataan yang mereka hadapi, meski menyeramkan.
Musik yang Sangat Indah
Sebagai studio dengan skala yang tidak besar, kami melihat bahwa Sandfall Studio memiliki standar yang sangat tinggi ketika menggarap Clair Obscur: Expedition 33. Bahkan, mereka dapat meruntuhkan kepongahan studio-studio besar yang selama ini bermain aman, seperti Daud/David mengalahkan Jalut/Goliath.
Selain aspek visualnya yang sangat cantik, sound design, musik, dan juga voice acting-nya juga top notch. Kami tidak berlebihan di sini. Musik yang menemani perjalanan ekspedisi Gustave, Lune, Maëlle, dan lainnya terdengar sangat indah. Untuk studio yang ringkas secara ukuran, background musik Clair Obscur: Expedition 33 hadir dengan musik orkestra yang megah.
Scoring musik orkestra ini dibuat komposisinya oleh seorang komposer bernama Lorien Testard. Sebelum dikenal akan komposisi di game ini, ia adalah guru musik. Bahkan, ia belum berpengalaman dalam menggarap musik untuk sebuah game.
Tetapi, kepiawaian dalam membuat komposisi dan mensinkronisasi visual dalam game dapat dibuktikan. Kami pun merasa atmosfer antara cerita dan musik sangatlah bersinergi. Contohnya adalah ketika Gustave kehilangan Sophie, tunangannya yang sangat ia cintai, musiknya begitu emosional.
Selain skoring, kualitas voice acting-nya juga jempolan. Charlie Cox (Gustave), Jennifer English (Maëlle), Kristy Rider (Lune), Ben Starr (Verso) dan lainnya mampu menjadi karakter yang mereka perankan secara utuh. Ditambah lagi, Jennifer English juga sudah berpengalaman menjadi aktor di Baldur’s Gate 3 sebagai Shadowheart dan Ben Starr di Final Fantasy XVI yang juga diacungi jempol kualitas aktingnya.
Namun, di balik kemegahan itu, ada satu hal minor yang cukup janggal. Pertama adalah bug seperti suara bebatuan yang repetitif dan juga suara berlari yang buat sebagian terasa aneh. Kendati demikian, menurut kami hal tersebut bisa tertutupi oleh kualitas musik dan juga dubbing-nya.
Kesimpulan
Clair Obscur: Expedition 33 menjadi secercah harapan bagi penggemar turn-based RPG berkualitas yang dapat disandingkan dengan game AAA. Kami tahu Square Enix beberapa kali melakukan HD Remaster beberapa IP lamanya. Ditambah Dragon Quest VII Remake tengah digarap. Namun, selama ini, yang dihadapan kita hanyalah IP lama yang digarap kembali, entah remaster atau remake.
Game RPG garapan Sandfall Interactive ini mampu menunjukkan bahwa game RPG turn-based masih diminati dan studio berskala kecil bisa menghasilkan segala aspek yang diinginkan penggemar genre ini, mulai dari visual 3D modern yang indah, narasi yang dibangun begitu apik, sound design yang menyatu, voice acting yang hidup, dan juga musik yang begitu megah.
Kami, sebagai penggemar game dengan genre seperti ini, tentu sangat senang dengan kedatangan sebuah game yang benar-benar baru dengan kualitas yang kami rindukan. Tak salah jika ada yang menyematkan Clair Obscur: Expedition 33 menjadi calon GOTY (Game of the Year). Kudos to Sandfall Interactive!
Selain Clair Obscur: Expedition 33, Gameformia juga menyajikan review game lain, mulai dari game AAA, hingga game indie. Jadi, terus ikuti Gameformia di website dan juga media sosial kami!

![[Review] Clair Obscur: Expedition 33 – Sentuhan Prancis di RPG turn-based Clair Obscur: Expedition 33 Review](https://gameformia.com/wp-content/uploads/2025/11/Clair-Obscur-Expedition-33-Review-1536x864.jpg)