Perubahan mechanics yang semakin bertumpu pada action pada Final Fantasy XVI (FFXVI) awalnya membuat kami yang terbiasa dengan mechanics turn-based tradisional sempat merasa ragu. Format ini pun memicu perdebatan, terutama di kalangan fans seri andalan Square Enix satu ini.
Sebenarnya, kami juga cukup enjoy dengan gameplay Final Fantasy XV meski banyak pemangkasan dari aspek konten. Tetapi, dalam lubuk hati terkecil kami, Final Fantasy series adalah waralaba yang membuat kami menyukai JRPG. Rasanya, sedikit terkhianati karena Square Enix mengubah arahan gameplay dari seri terakhirnya ini.
Kami pun mencoba memahami keputusan tim developer seri ini dan sang produser, Naoki Yoshida, sewaktu menggarap game ini. Tren yang mengarah ke game Soulslike dan gaya game action lain mungkin yang membuat Yoshi P (nama panggung Naoki Yoshida) tidak ingin menjadikan FFXVI game yang mengikuti tradisinya. Tetapi, perubahan tersebut masih mengganjal bagi kami.

Final Fantasy VII Remake membuat kami sedikit lega, berkat party based combat-nya. Pergantian karakter di setiap pertempuran membuat hati kami gembira. Sayangnya, untuk FFXVI tidak menggunakan format yang serupa. Alih-alih adanya switch character di dalam combat, FFXVI hanya berfokus pada Clive Rosfield seorang, dengan bantuan karakter yang dijalankan oleh AI.
Namun, setelah kami memainkan beberapa jam, pandangan kami sedikit bergeser tentang instalasi ke 16 dari franchise kebanggaan Square Enix ini. Ternyata game ini game yang sangat menakjubkan. Ya, Square Enix selalu menimbulkan perasaan seperti ini pada kami. Awalnya ragu, ketika memainkannya kami merasa terhanyut ke dalam gamenya—hal yang kami rasakan juga ketika memainkan FFXIII dan FFXV.
Lantas, apa yang membuat rasa skeptis kami luntur terhadap FFXVI? Mari simak di sini!
Kisah Para ‘Dominant’ di Tengah-Tengah Konflik Antar Kerajaan
Di entri ke-enam belasnya ini, Square Enix tidak ingin mengambil latar fantasi modern atau futuristik lagi seperti dua seri sebelumnya—Final Fantasy XIII dan XV. Melalui arahan Naoki Yoshida, Final Fantasy XVI kembali mengambil latar kerajaan ala abad pertengahan. Selain itu, seri satu ini juga ingin cerita yang lebih dewasa. Ya, di FFXVI ini akan dibanjiri dengan adegan-adegan penuh darah yang di game sebelumnya takkan kamu temukan.

Narasi yang diangkat juga penuh dengan intrik politik dan pengkhianatan. Karakter utama, Clive Rosfield, adalah seorang putra adipati agung dari Rosaria. Berbeda dengan adiknya Joshua Rosfield yang sudah dari awal merupakan seorang Dominant yang merupakan individu-individu di Valisthea yang memiliki inang yang mampu memanggil wujud monster bernama Eikon.

Clive adalah seorang laki-laki yang ditempa oleh ayahnya dan orang kepercayaannya agar ia menjadi petarung hebat. Karena dilatih untuk menjadi mesin perang, Clive juga disumpah untuk menjadi “First Shield of Rosaria”, yang ditugaskan untuk melindungi adiknya tersebut. Sebagai seorang Dominant, Joshua mengandung kekuatan dari sesosok Eikon bernama Phoenix yang mewakili penyembuhan dan pelestarian. Dari kekuatannya ini, Joshua mampu menyembuhkan orang yang terluka. Ironisnya, kekuatan Phoenix yang mampu menyembuhkan orang ini, membuat inangnya, Joshua, nampak lemah dan sakit-sakitan.

Sosok Clive muda yang tidak menyimpan kekuatan Eikon ternyata beriringan dengan pandangan ibunya, Annabella, terhadapnya. Bagi Annabella, meski Clive memiliki kemampuan perang yang mumpuni di usianya, anak laki-laki pertamanya tersebut ia anggap sebagai individu yang ‘cacat’, lantaran tidak menurunkan kekuatan Phoenix di dalam tubuh Clive. Ia sangat membenci Clive karena ia menganggap sang Phoenix menolak Clive untuk masuk ke dalam tubuhnya.
Sementara di sisi lain, ayahnya menaruh kepercayaan yang tinggi kepada anak sulungnya tersebut. Joshua pun menganggap Clive sebagai kakak yang hebat, sekaligus teman yang baik. Namun, satu tragedi di Phoenix Gate mengubah segalanya menjadi kacau. Sosok elegan yang ditunjukkan oleh Annabella ternyata menutupi rencananya untuk mengkhianati Rosaria demi bergabung dengan kekaisaran Sanbreque.

Kekacauan di dalam benteng pun semakin tak terkendali. Prajurit-prajurit yang sebelumnya berpesta pora, kini dibantai oleh pasukan kekaisaran Sanbreque. Sang adipati agung Rosaria, Elwin Rosfield sudah tidak bisa membendung kekacauan yang didalangi oleh istrinya sendiri. Ia pun tewas di depan mata Joshua. Dengan wajah yang terciprat darah dari sang ayah, anak bungsu Elwin tersebut tak bisa menahan amarahnya dan mengubahkan menjadi sang Phoenix.

Sang Phoenix pun menjadi lepas kendali. Melihat, dari kejauhan Clive ingin menjemput dan menyelamatkan adiknya yang telah berubah menjadi Eikon legendaris tersebut. Di waktu yang bersamaan, tubuh Clive tak bisa bergerak. Ia melihat sosok yang dibalut dengan api. Tak lama kemudian, muncul sosok Eikon api kedua yang misterius yang berjibaku dengan Sang Phoenix. Kedua makhluk itu bertarung layaknya dua Kaiju.
Sang Eikon api kedua pun makin ganas dan lebih tak terkontrol. Joshua yang terperangkap dalam sosok Phoenix meminta tolong agar Clive menyelamatkan dirinya. Sayangnya semuanya terlambat. Eikon api kedua tetap menghantam dan menggigit sang Phoenix yang sudah tak berdaya. Joshua yang terperangkap dalam tubuh Phoenix meminta pertolongan pada kakaknya. Clive yang sempat terjatuh, perlahan menyadarkan diri dan melihat adiknya dicabik-cabik oleh Eikon api kedua. Ia ingin membantu, tetapi apa daya.

Setelah semuanya berakhir dan negara Rosaria hangus berkeping-keping, Clive ternyata masih hidup. Sang ibu dengan beberapa tentara Sanbreque menghampirinya. Alih-alih membiarkan Clive dihabisi oleh salah satu pasukannya, sang ibu yang berkhianat tersebut membawa anak sulungnya tersebut untuk dijadikan budak bernama Bearer.
Tiga Belas Tahun Kemudian
Selama tiga belas tahun, Clive menjadi seorang Bearer dan diberi tanda di bagian pipinya. Nama Clive telah ia tinggalkan, karena ia diberi nama panggilan “Wyvern”. Clive bersama beberapa rekan prajurit budak ditugaskan untuk membunuh Eikon bernama Shiva.

Di sini, Clive melihat sebuah kenyataan baru, bahwa sosok Dominant dari Shiva tampak seperti orang lama yang ia kenal, Jill. Ketika diperintahkan untuk membunuh Dominant dari Shiva tersebut, Clive membelot dan membawa sosok yang mirip dengan sahabatnya di masa kecilnya.
Full Action dan Full Excitement!
Tiga Esensi Combat Mechanics
Selepas Final Fantasy X, Square Enix terlihat ingin lebih mengeksplorasi gameplay dari serinya ini. Perubahan yang cukup signifikan dapat terlihat pada combat mechanics Final Fantasy XII. Bahkan, banyak yang menganggap bahwa FFXII ini permulaan Square Enix melakukan eksperimen untuk seri ternamanya ini.
Sementara, FFXIII yang meski mengangkat fitur ATB, seri ini ingin menawarkan konsep pergantian karakter di dalam party dengan implementasi yang berbeda. Lalu, di FFXV, game ini secara mechanics lebih berfokus dengan konsep yang lebih action.
Namun, dari ketiga entri di atas, masih ada satu kesamaan, yaitu format party masih esensial. Di Final Fantasy XVI, kita takkan lagi menemukan party yang bisa kita kontrol. Semua kontrol hanya berfokus pada Clive seorang. Mechanics yang didesain oleh Ryota Suzuki (Devil May Cry 5) telah mengubah gameplay secara radikal. Jika, kamu penggemar garis keras seri Final Fantasy klasik, kamu mungkin tidak suka dengan gameplay ini. Ya, gaya bertarung Clive sangat mirip dengan Dante, yang murni action dengan pace cepat, di mana menuntut refleks kita dalam menghindar, parry, dan mengeksekusi kombo.

Namun, FFXVI tidak hanya berhenti di situ saja. Ada tiga elemen penting dalam combat mechanics FFXVI begitu menarik, di antaranya: combo dan magic, kemampuan Eikon (di sini Clive mampu menggunakan kemampuan Phoenix, Garuda, dan juga Titan). Kemampuan setiap Eikon juga dapat kita kustomisasi agar bisa saling dikombinasikan.

Selain serangan biasa dan Eikon, sosok anjing yang mendampingi Clive, Torgal, di sini juga cukup Signifikan. Torgal dapat membantu meningkatkan damage seranganmu dan juga melakukan heal ketika dalam pertarungan. Kamu juga bisa menyuruh Torgal untuk melakukan dua jenis serangan untuk melengkapi kombo: Sic dan Ravage.

Meneruskan Sistem Stagger melalui Will Gauge
Sejak FFXIII, sistem Stagger menjadi sebuah ‘kewajiban’ dari setiap entri FF setelahnya. Bagi kami, sistem ini semacam sebuah hadiah berupa serangan bertubi-tubi tanpa ampun dari beberapa serangan biasa yang hanya menghasilkan damage kecil. Di FFXVI, sistem ini dihadirkan dengan Will Gauge, di mana kamu harus menguras bar ini hingga mencapai Staggered.

Yang menarik dari seri keenam belas Final Fantasy ini, terdapat dua jenis Stagger: Partial Stagger (bar 50%) dan Full Stagger (bar 0%). Ketika Will Gauge terkuras setengah, musuh akan tersentak dan terdiam sesaat. Meski sesaat, kelumpuhan musuh pada tahap Partial Stagger sangat berarti, tetapi sedikit tricky. Di momen krusial ini, kita bisa menggunakan salah satu ability dari Garuda, Deadly Embrace, agar memperpanjang durasi mereka.
Serangan Sinematik dan Pertarungan Eikon
Meski Final Fantasy XVI ini mengusung combat system full-action, game satu ini memiliki jumlah cutscene yang sangat banyak. Bahkan menurut kami pun, cutscene di sini bukanlah elemen pendukung. Cutscene dengan gameplay adalah satu kesatuan yang padu yang sulit dipisahkan. Dengan demikian, di Final Fantasy XVI kita bisa menemukan beberapa cutscene yang menjadi bagian pertarungan. Contohnya adalah di awal permainan ketika Clive melawan Dragoon dari kerajaan Sanbreque.

Ada kalanya ada cutscene, di mana Clive harus menghindar dan menyerang sosok Dragoon tersebut dengan apa yang disebut sebagai Cinematic Strikes atau Cinematic Dodge melalui Quick Time Events (QTE).
Selain itu, karena Eikon atau summon adalah fokus penting dalam cerita FFXVI, pertarungan antar Eikon ini juga tampak sinematik. Pertarungan Eikon ini hadir dengan berbagai gaya. Yang pertama adalah pertarungan Ifrit dengan Phoenix ala Rail Shooter di udara yang mengingatkan kami pada Panzer Dragoon. Lalu, ketika Ifrit melawan Titan yang terlihat seperti pertandingan gulat.
Kualitas Scoring dan Aktor yang Tak Perlu Diragukan Lagi
Dalam Final Fantasy XVI, Square Enix menyediakan opsi penggunaan aktor Jepang dan juga Inggris. Ketika memainkan game ini, kami lebih memilih opsi aktor berbahasa Inggris, karena kami lebih terbiasa mendengar karakter berbahasa Inggris di Final Fantasy dibandingkan Jepang. Untuk opsi berbahasa Inggris, Clive diperankan oleh Ben Starr.

Menurut kami, Ben Starr sangat mampu menghidupi karakter Clive, entah versi muda, versi 28 tahun, atau versi 33 tahun. Starr mampu mengadaptasi Clive sesuai usia dan latar belakangnya: Clive 15 tahun yang optimis dan Clive dewasa yang lebih gelap dan penuh trauma. Tak hanya Clive saja yang terkesan hidup, karakter-karakter lain juga sangat apik diperankan oleh para aktor di FFXV.
Latar belakang kerajaan semakin nyata berkat aktor-aktor dengan aksen British. Menariknya, di sini kita dipertemukan oleh keberagaman aksen di dalamnya. Karakter Cidolfus Telamon atau Cid hadir dengan aksen yang mirip dengan aksen Yorkshire. Lalu, karakter Gav yang santai semakin representatif dengan aksen seperti aksen Geordie.
Skor musik di FFXVI tidak perlu diragukan lagi. Meski tidak ditangani oleh Nobuo Uematsu seperti seri-seri pendahulunya, scoring musik yang digarap oleh Masayoshi Soken tetap terdengar megah. Soken mampu membangun dinamika alur lagu dengan sangat apik. Integrasi antara adegan dengan musik latar begitu padu dan bisa membangun emosi dengan sangat baik.
Tak hanya itu saja, bagian battle juga bisa mengangkat atmosfer dan adrenalin. Yang menarik bagi kami, salah satu lagu battle mode terdengar seperti lagu battle Final Fantasy VIII. Soken juga mampu memadukan instrumen orkestra dengan elemen musik synth-pop.
Bukan Luminous Engine atau Unreal Engine
Sang Produser, Naoki Yoshida atau kerap disapa Yoshi-P, menyatakan bahwa FFXVI ini tidak menggunakan engine di game-game Final Fantasy lain—Final Fantasy XV menggunakan Luminous Engine dan Final Fantasy VII Remake Trilogy menggunakan Unreal Engine. Engine yang digunakan dalam membangun karakter dan dunia FFXVI ini dirancang oleh tim internalnya yang bernama Creative Business Unit III.

Engine ini dirancang dengan tujuan spesifik untuk mengoptimalkan kemampuan PlayStation 5 mengingat game ini awalnya adalah eksklusif konsol Sony tersebut. Secara kualitas visual, FFXVI sangat kami acungi jempol. Tak hanya urusan fidelitas grafis saja, setiap karakter di FFXVI mampu merepresentasikan emosinya dengan sangat baik dari ekspresi mikro setiap karakternya.
Kami juga melihat sinkronisasi antara suara dan mulut yang begitu presisi untuk versi Inggrisnya. Visual FFXVI mampu menunjukkan detail yang tinggi ketika kami melihat pori-pori kulit pada karakter-karakternya. Di samping itu, kami juga melihat tak ada perbedaan kualitas visual antara cutscene sinematik dan juga gameplay. Dengan demikian, kelebihannya adalah semuanya terlihat mulus dan seamless.
Sementara untuk pencahayaan, meski FFXVI tidak sepenuhnya mengejar Ray-Tracing, pendekatan pencahayaan hybrid yang diimplementasikan di game ini sudah cukup mencakup semuanya. Pencahayaan lingkungan bersifat statis atau baked, tetapi tetap sesuai porsinya.

Selain fidelitasnya, aspek visual yang menonjol pada FFXVI adalah bagian particle effects ketika menggunakan magic dan pertarungan Eikon. Pencahayaan dari partikel api, es, atau petir mampu menerangi sekitarnya, sehingga tampak begitu dinamis dan cantik. Yang menarik, teknik yang dilakukan tim Creative Business Unit III bisa menghasilkan efek-efek tersebut tanpa harus membuat frame-rate turun secara drastis.
Sayangnya, ketika mata kami mengarah ke karakter NPC, kami melihat adanya ketimpangan. Animasi Clive yang begitu hidup tampak ‘kebanting’ dengan NPC yang terkesan kaku. Tetapi, bagi kami hal ini tidak begitu berpengaruh ketika kami masuk ke dalam dunia Valisthea yang megah.

Arahan Artistik yang Kebarat-Baratan Tetap dengan Sentuhan Jepang
Pergantian arahan konsep gameplay juga tampaknya memengaruhi bagaimana game ini secara keseluruhan, entah hal ini saling berkaitan atau tidak. Ya, Final Fantasy yang kami kenal—terutama yang hadir dengan visual 3D—memiliki desain karakter yang sangat ‘Jepang’. Estetika karakter pada game pendahulunya yang selalu tampil dengan outfit yang ramai aksesoris juga mulai ditinggalkan.
Jika menelisik latar belakang penggarapan, menariknya, sang produser, Yoshi P, menginstruksikan tim inti Final Fantasy XVI menonton empat musim pertama Game of Throne agar memahami bagaimana intrik politik dan moralitas yang abu-abu. Tone-nya juga jauh lebih dewasa dan diberi rating Mature.
Desain outfit Clive juga lebih disesuaikan dengan latar dunianya. Karakter-karakter di dalam game ini hadir dengan pakaian baju zirah dan pakaian berbahan kulit. Meski secara tampilan Clive disesuaikan dengan latar abad pertengahan, kami tetap melihat ada sentuhan ala Jepang-nya. Terutama ‘rambut polem’ yang menjadi ciri khas kebanyakan karakter Final Fantasy dan juga bagaimana desain pakaian yang dikenakan setiap karakter.
Para Dominant
1. Clive Rosfield – Ifrit

Ia adalah protagonis utama dalam entri keenam belas Final Fantasy ini. Clive adalah putra tertua dari Archduke atau adipati agung negara Rosaria. Ia memiliki seorang adik yang menjadi inang dari Eikon berkekuatan api bernama Phoenix. Meski ia merupakan anak pertama, ia tidak mewarisi kekuatan api dari Phoenix yang juga dimiliki oleh ibunya. Joshua Rosfield atau sang adiklah yang mewarisi kekuatan tersebut. Alhasil, sang ibu lebih memerhatikan Joshua dibanding anak pertamanya.
Dari sinilah Clive berjanji untuk menjadi Shield of Rosaria pertama. Namun, hanya karena Clive tidak mewarisi kekuatan dari Phoenix, ternyata di dalam tubuhnya bercokol kekuatan api dari Eikon lain, yakni Ifrit. Berbeda dengan Phoenix yang menyembuhkan, Ifrit sebaliknya, memiliki sifat destruktif.
2. Joshua Rosfield – Phoenix

Adik Clive sekaligus pemegang dari kekuatan sang Phoenix. Karena mewarisi kekuatan ini, ia mampu menyembuhkan luka dari serdadu-serdadu yang telah sekarat. Karena menjadi pewaris Phoenix, ia diperlakukan lebih spesial dibandingkan kakaknya. Namun, suatu insiden membuat Rosaria menjadi kacau balau dan menewaskan sang ayah dari kedua kakak beradik ini. Tewasnya Elwin Rosfield membuat kekuatan Phoenix di dalam tubuh Joshua semakin tak terkendali.
Dari sinilah muncul Eikon api lain bernama Ifrit. Kedua Eikon tersebut bertarung satu sama lain. Ifrit ternyata sangat buas dan mencabik-cabik tubuh Phoenix. Dari situlah Joshua dianggap tewas oleh sang kakak. Di balik itu, Joshua masih hidup. Tanpa sepengetahuan Clive, Joshua memimpin organisasi rahasia bernama The Undying.
3. Jill Warrick – Shiva

Jill merupakan teman masa kecil Clive sewaktu masih bersama-sama di Rosaria. Elwin menganggap Jill seperti anak peremupannya sendiri dan saudara perempuan Clive dan Joshua. Ketika beranjak dewasa, Clive menemukan Jill dalam keadaan menjadi tawanan setelah ia berubah wujud menjadi sosok Shiva, sang Eikon dengan elemen es. Meski Clive dan Jill mengemban dua elemen yang kontradiktif, hubungan romansa mereka berdua sulit terelakkan.
4. Benedikta Harman – Garuda

Benedikta merupakan seorang pimpinan mata-mata dari Waloed. Ia lahir dari keluarga yang sangat miskin. Karena keadaan ekonomi, keluarga Benedikta menjual dirinya ke sebuah keluarga kaya raya untuk menjadi pelayan ketika usianya 16 tahun. Setahun sebelumnya, tuannya hampir membunuhnya atas tuduhan pencurian. Namun, insiden tersebut membuatnya berubah menjadi sesosok Eikon dengan elemen angin, Garuda dan pergi melarikan diri. Dari pelariannya tersebut ia ditolong dan menjadi kawan dari Cidolfus Telamon atau Cid.
5. Cidolfus Telamon – Ramuh

Cid adalah seorang yang memimpin pergerakan pembebasan para Bearers dan Dominant dari perbudakan. Ia lahir di tanah seberang laut selatan Valisthea. Di awal pertemuan dengan Clive, Cid adalah sosok mitra sekaligus mentor baginya. Ia juga ternyata seorang Dominant yang memangku kekuatan petir dari Eikon bernama Ramuh. Cid sangat berpengalaman dalam pertempuran dan memiliki sifat pemimpin serta bijaksana.
6. Dion Lesage – Bahamut

Dion Lesage adalah putra sulung Sylvestre Lesage, Kaisar Kekaisaran Suci Sanbreque, yang lahir dari hubungan dengan seorang selir pada Tahun 850 Kerajaan karena istri resminya tidak dapat memiliki anak. Setelah Dion lahir, selir tersebut dipaksa menyerahkan bayinya untuk dibesarkan sebagai putra sah, lalu dibunuh meski telah berjanji merahasiakan identitasnya. Pada usia satu tahun, Dion bangkit sebagai Dominant dari Eikon bernama Bahamut, sementara nasib istri pertama Sylvestre tidak pernah diketahui secara pasti.
7. Hugo Kupka – Titan

Hugo menjabat sebagai penasihat ekonomi Republik Dhalmekian dan merupakan Dominant dari Titan, Eikon Penjaga Bumi. Ia juga dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Valisthea serta memimpin pasukan pribadinya yang dikenal sebagai Manusia Batu. Ia juga menjalin hubungan dengan Benedikta Harman, yang bekerja untuk kerajaan sekutu republik tersebut, Waloed.
8. Barnabas Tharmr – Odin

Barnabas Tharmr adalah sosok antagonis di dalam Final Fantasy XVI. Sebagai Raja Waloed sekaligus Dominant dari Eikon bernama Odin, ia membawa kekacauan ke Valisthea dan berupaya mempertemukan Clive Rosfield dengan para Dominant lain di wilayah tersebut demi mewujudkan rencana jahat yang mengancam seluruh umat manusia.
Kesimpulan
Meski meninggalkan tradisi lamanya, ternyata Final Fantasy XVI bukan game yang tidak layak untuk dimainkan. Bahkan, bagi kami FFXVI mampu melampaui ekspektasi kami. Sekali lagi, kami adalah penggemar turn-based RPG. Namun, seperti pada Final Fantasy XV, kami mencoba untuk lebih terbuka untuk segala perubahan yang pada franchise favorit kami ini. Hasilnya pun kami tetap menikmati dan tidak ada kekecewaan yang berarti (kecuali konten yang cukup singkat untuk ukuran Final Fantasy).
Perubahan signifikan yang dilakukan Square Enix pada entri ini ternyata bukan keputusan yang salah. Dengan menggandeng desainer Devil May Cry, menurut kami Final Fantasy XVI adalah seri yang segar. Kendati demikian, bagi kami trilogi Final Fantasy VII Remake masih sangat ideal secara mechanics jika ingin ada perubahan yang lebih modern.
Skor: 9/10

![[Review] Final Fantasy XVI – Tinggalkan Tradisi, Lampaui Ekspektasi Final Fantasy XVI Review](https://gameformia.com/wp-content/uploads/2026/02/Final-Fantasy-XVI-Review-1536x864.webp)