Rockstar Games, pengembang seri Grand Theft Auto, dikabarkan mengabulkan permintaan seorang penggemar dengan penyakit terminal untuk menjajal Grand Theft Auto 6 sebelum game tersebut resmi dirilis.
Cerita ini pertama kali mencuat lewat unggahan LinkedIn milik Anthony Armstrong, seorang developer Ubisoft Toronto, pada Desember lalu. Armstrong mengungkapkan bahwa salah satu anggota keluarganya telah berjuang melawan kanker selama bertahun-tahun dan baru saja menerima vonis medis yang pahit: harapan hidupnya diperkirakan hanya tersisa enam hingga dua belas bulan.
Dalam unggahan tersebut, Armstrong menjelaskan bahwa anggota keluarganya adalah penggemar berat seri GTA. Dengan jadwal rilis GTA 6 yang masih menunggu waktu, ia khawatir sang anggota keluarga tak sempat memainkan game yang telah lama dinantikan itu. Armstrong pun mencoba menghubungi pihak Rockstar, berharap ada jalan keluar yang manusiawi di tengah ketatnya kerahasiaan industri game.
Dalam surat permohonan yang ia sampaikan, Armstrong menulis:
“Kepada rekan-rekan di Rockstar Games dan Rockstar Toronto, atau siapa pun yang mungkin dapat membantu. Salah satu anggota keluarga saya telah berjuang melawan kanker selama bertahun-tahun dan baru-baru ini menerima kabar terburuk yang bisa dibayangkan. Dokter menyatakan ia hanya memiliki waktu hidup sekitar enam hingga dua belas bulan.
Saya menghubungi Anda karena ia adalah penggemar berat Grand Theft Auto. Dengan kondisi terbaru ini, besar kemungkinan ia tidak akan cukup lama bertahan untuk menyaksikan perilisan GTA 6. Dalam skenario terbaik sekalipun, ia mungkin akan meninggalkan kami di bulan yang sama dengan peluncuran game tersebut.
Saat ini ia tinggal tidak jauh dari studio Rockstar di Oakville. Harapan saya, salah satu dari Anda mungkin dapat mengatur kesempatan playtest eksklusif, agar ia dapat merasakan game ini setidaknya sekali sebelum berpulang.
Saya sepenuhnya memahami pentingnya kerahasiaan pada tahap pengembangan ini. Jika diperlukan, kami siap menandatangani Non-Disclosure Agreement (NDA).”
Beberapa pekan setelah unggahan tersebut dipublikasikan, Armstrong menambahkan pembaruan. Ia menyebut CEO Take-Two Interactive, perusahaan induk Rockstar Games, telah menghubunginya dan diskusi lanjutan dengan tim Rockstar tengah menunggu waktu. Tak lama kemudian, muncul pembaruan terakhir dengan nada penuh syukur. Armstrong mengaku telah berbicara langsung dengan pihak terkait dan menerima “kabar baik”, meski tak dapat mengungkapkan detail lebih lanjut.
Tak lama berselang, unggahan LinkedIn tersebut dihapus. Meski demikian, salinan unggahan masih sempat tersimpan di cache Google dan beredar luas dalam bentuk tangkapan layar di media sosial. Penghapusan ini memicu spekulasi bahwa terdapat pertimbangan hukum atau kesepakatan tertentu, mengingat unggahan tersebut nyaris mengonfirmasi adanya akses awal ke GTA 6.
Jika dugaan tersebut benar, ini bukan kali pertama Rockstar Games menunjukkan empati kepada penggemarnya. Pada 2018, perusahaan ini pernah mengizinkan seorang gamer dengan penyakit terminal untuk memainkan Red Dead Redemption 2 beberapa minggu sebelum peluncuran resminya. Studio lain, seperti Bethesda Game Studios, juga pernah mengabadikan penggemar mereka dalam game seperti Fallout 4 dan Starfield.
Kisah ini pun menuai beragam respons. Sebagian pihak melihatnya sebagai contoh sisi manusiawi industri game yang kerap dipandang dingin dan korporatis. Namun, ada pula yang menilai langkah tersebut sebagai bagian dari strategi public relations di tengah sorotan negatif yang belakangan mengarah ke Rockstar.
Terlepas dari perdebatan tersebut, cerita ini kembali menegaskan satu hal: bagi banyak orang, game bukan sekadar produk hiburan, melainkan pengalaman personal yang sarat makna, bahkan di saat-saat terakhir kehidupan.


