Pragmata Sekuel di Tangan Capcom News

Sutradara Pragmata Ingin Sekuel, tetapi Keputusan Akhir Ada di Tangan Capcom

Share:

Kesuksesan Pragmata sebagai IP baru tampaknya membuka peluang bagi Capcom untuk melanjutkan franchise tersebut di masa depan. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai pengembangan sekuelnya.

Dalam wawancara bersama GamesRadar, sutradara Pragmata, Yonghee Cho, mengaku tertarik untuk melihat game tersebut berlanjut ke seri berikutnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keputusan mengenai masa depan Pragmata tidak berada sepenuhnya di tangannya.

Tentu saja saya ingin melihat adanya sekuel. Namun saya bukan satu-satunya orang yang mengambil keputusan, jadi sayangnya saya tidak bisa berkomentar lebih jauh dari itu.

Cho juga menekankan bahwa pernyataan tersebut merupakan pendapat pribadinya dan bukan sikap resmi perusahaan. Menanggapi komentar itu, produser Pragmata, Naoto Oyama, mengingatkan agar pernyataan tersebut tidak ditafsirkan di luar konteks.

Jangan mengambil pernyataan itu di luar konteks.

Penjualan Pragmata Tembus Jutaan Kopi

Tahun 2026 menjadi periode yang sangat positif bagi Capcom. Setelah merilis Resident Evil Requiem, Monster Hunter Stories 3, dan Pragmata, perusahaan tersebut juga masih bersiap meluncurkan Onimusha: Way of the Sword pada akhir tahun.

Di antara jajaran game tersebut, Pragmata menjadi satu-satunya IP baru yang diperkenalkan Capcom. Hal ini membuat pencapaiannya mendapat perhatian khusus, terutama karena game tersebut berhasil mencatat penjualan yang kuat dalam waktu singkat.

Pragmata Cutscene

Menurut data yang disampaikan Capcom, Pragmata terjual lebih dari satu juta kopi hanya dalam dua hari setelah peluncuran. Angka itu kemudian meningkat menjadi dua juta kopi dalam beberapa minggu berikutnya.

Game tersebut juga dikenal sebagai proyek eksperimental yang dikembangkan oleh tim pengembang muda di Capcom. Hingga kini, manajemen perusahaan belum memberikan komentar resmi terkait kemungkinan hadirnya sekuel.

Outfit Storage

Kesuksesan Pragmata Dinilai Bisa Jadi Sinyal Perubahan Industri

Keberhasilan Pragmata tidak hanya menarik perhatian karena angka penjualannya, tetapi juga karena model pengembangannya. Sejumlah pengamat menilai game ini menunjukkan bahwa proyek dengan skala lebih kecil masih mampu bersaing di tengah dominasi game beranggaran besar.

Jurnalis Polygon, Ari Notis, sebelumnya berpendapat bahwa kesuksesan Pragmata dapat menjadi sinyal bagi industri game untuk kembali mempertimbangkan proyek yang lebih terukur dari sisi biaya dan waktu pengembangan.

Game terbesar tahun 2025 adalah RPG pemain tunggal berbasis giliran tentang sekelompok orang Prancis berusia 30-an yang membunuh dewa. Dan Pragmata berhasil terjual satu juta kopi hanya dalam satu akhir pekan. Semoga industri game memperhatikan hal ini.

Jika tren tersebut berlanjut, Pragmata bisa menjadi salah satu contoh bahwa game dengan skala pengembangan yang lebih efisien tetap mampu meraih kesuksesan komersial sekaligus mendapat perhatian luas dari pemain.