Stupid Never Dies Bukan Soulslike News

Veteran Resident Evil dan Devil May Cry Tegaskan Stupid Never Dies Bukan Game Soulslike

Share:

GPTRACK50 memastikan bahwa Stupid Never Dies, game action RPG bertema zombie yang tengah mereka kembangkan, tidak dirancang sebagai game soulslike. Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh produser Hiroyuki Kobayashi dan sutradara Eiichiro Sasaki dalam wawancara dengan Famitsu setelah sesi demo yang digelar di Los Angeles.

Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi sejumlah pemain yang menilai sistem progresi dan mekanik permainan Stupid Never Dies memiliki kemiripan dengan game-game soulslike. Namun, Kobayashi membantah anggapan tersebut dan menegaskan bahwa tim pengembang sejak awal tidak pernah berniat membawa proyek tersebut ke arah genre tersebut.

Kobayashi, yang sebelumnya dikenal lewat keterlibatannya dalam berbagai seri Resident Evil, Devil May Cry, dan Dino Crisis, mengatakan bahwa ia secara khusus memberikan arahan kepada tim pengembang agar tidak menjadikan Stupid Never Dies sebagai game soulslike.

Kami sejak awal tidak mengembangkan game ini sebagai sebuah soulslike.

Pernyataan itu sejalan dengan komentarnya dalam wawancara terdahulu bersama AUTOMATON. Saat itu, Kobayashi menjelaskan bahwa tujuan utama tim adalah menciptakan keseimbangan antara kemampuan teknis pemain dan pengambilan keputusan taktis, bukan menghadirkan tingkat kesulitan yang ekstrem dan menghukum pemain secara berlebihan.

Secara konsep, Stupid Never Dies merupakan action RPG dengan tempo cepat yang berfokus pada perkembangan karakter. Pemain akan mengendalikan Davy, seorang zombie muda dari kasta terbawah yang berusaha menghidupkan kembali Julia, gadis manusia yang membeku sekaligus sosok yang ia sukai.

Stupid Never Dies Gameplay

Sistem permainan utamanya mengajak pemain menjelajahi berbagai dungeon dalam batas waktu tertentu. Selama eksplorasi, pemain dapat mengalahkan musuh, mengumpulkan item unik, serta meningkatkan level karakter untuk memperkuat kemampuan Davy.

Salah satu fitur utama yang ditawarkan adalah Style Eat. Melalui mekanik ini, Davy dapat menyerap kemampuan musuh yang telah dikalahkan dengan memakan inti mereka. Sistem tersebut memungkinkan pemain membuka hingga sepuluh gaya bertarung monster yang berbeda, di luar gaya bertarung zombie bawaan milik Davy.

Stupid Never Dies Gameplay

Pilihan transformasi yang tersedia cukup beragam, mulai dari manusia serigala, vampir, harpy, manusia kadal, hingga berbagai jenis monster lainnya. Pemain dapat membawa dua gaya bertarung sekaligus dan beralih di antara keduanya secara langsung saat pertempuran berlangsung.

Meski demikian, pengembang menegaskan bahwa pemain tidak selalu bisa mendapatkan gaya bertarung yang diinginkan kapan saja. Unsur ketidakpastian tersebut menjadi salah satu aspek yang sengaja dipertahankan untuk menciptakan tantangan selama permainan.

Selain Style Eat, game ini juga menghadirkan sistem Overtech. Fitur tersebut memungkinkan pemain melakukan modifikasi biologis pada tubuh Davy menggunakan berbagai senjata dan implan. Menariknya, peningkatan yang diperoleh melalui Overtech tetap aktif terlepas dari bentuk monster yang sedang digunakan pemain.

Sistem lain yang turut diperkenalkan adalah Davy Burst. Saat pemain terus melancarkan serangan dalam pertarungan, sebuah indikator khusus akan terisi secara bertahap. Ketika diaktifkan, kemampuan tersebut dapat meningkatkan statistik Davy secara signifikan sekaligus memberikan lonjakan level dalam waktu singkat.

Terkait tingkat kesulitan, Kobayashi mengakui bahwa pemain yang sama sekali belum pernah memainkan video game kemungkinan akan menghadapi tantangan yang cukup berat. Namun, menurutnya, game ini telah dirancang agar tetap bisa diselesaikan oleh mayoritas pemain yang memiliki pengalaman bermain pada tingkat normal.

Ia memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menamatkan cerita utama berada di kisaran 20 hingga 30 jam permainan.

Sementara itu, Sasaki menjelaskan bahwa Stupid Never Dies memang memiliki mekanik reset pada beberapa aspek progresi ketika pemain mati atau berhasil menyelesaikan sebuah dungeon. Kendati demikian, tidak seluruh perkembangan karakter akan hilang karena sebagian kemampuan tetap tersimpan dan terus berkembang sepanjang permainan.

Menurut saya, bagian paling menarik dari game ini adalah perpaduan antara progresi yang bisa dikendalikan pemain dan progresi yang tidak bisa mereka kendalikan. Ketidakpastian itulah yang menciptakan tantangan, dan saya rasa kami berhasil menemukan keseimbangan yang tepat.

Kobayashi menambahkan bahwa pendekatan tersebut membuat pemain tidak bisa mengandalkan peningkatan level semata untuk memenangkan permainan. Di sisi lain, keterampilan bermain saja juga tidak cukup tanpa didukung perkembangan karakter yang memadai.

Saat ini, proses pengembangan Stupid Never Dies disebut telah mencapai sekitar 90 persen. Jika tidak ada perubahan jadwal, game tersebut akan meluncur pada musim gugur 2026 untuk platform PC melalui Steam dan PlayStation 5.