Xbox tengah meninjau ulang strategi eksklusivitasnya di tengah perubahan arah bisnis yang lebih luas. Hal ini terungkap dalam pernyataan resmi yang dibagikan CEO gaming Microsoft, Asha Sharma, bersama chief content officer Matt Booty kepada karyawan global.
Dalam dokumen tersebut, Xbox menetapkan fokus baru: jumlah pemain aktif harian (daily active players) sebagai indikator utama kesuksesan. Arah ini sekaligus menandai pergeseran strategi, dari sekadar penjualan konsol atau langganan menuju keterlibatan pemain secara berkelanjutan.
Perubahan lain yang cukup signifikan adalah rebranding divisi Microsoft Gaming kembali menjadi Xbox. Selain itu, perusahaan juga menyusun empat pilar utama untuk menjalankan strategi ke depan, yakni hardware, konten, pengalaman pengguna, dan layanan.
Di tengah perombakan ini, Xbox secara terbuka mengakui sedang mengevaluasi ulang pendekatan terhadap eksklusivitas, termasuk skema rilis (windowing) dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
Seiring perjalanan, kami akan mengevaluasi ulang pendekatan terhadap eksklusivitas, windowing, dan AI, serta membagikan perkembangan saat kami mengambil keputusan.
Langkah ini muncul di tengah respons beragam dari pemain, terutama setelah Microsoft membawa sejumlah game first-party ke PlayStation 5 dan Nintendo Switch 2. Sebagian pemain menilai keputusan tersebut mengurangi nilai eksklusif ekosistem Xbox.
Meski demikian, strategi multiplatform tersebut tidak sepenuhnya gagal. Forza Horizon 5, misalnya, dilaporkan mencatat penjualan lebih dari 5 juta kopi di PS5. Ke depan, Xbox disebut masih mempertimbangkan pendekatan eksklusivitas terbatas waktu untuk menjaga daya tarik konsolnya, seperti yang direncanakan untuk Forza Horizon 6.
Sepanjang 2025, Xbox merilis enam judul untuk PS5 dan berencana menambah jumlah tersebut tahun ini. Namun, pola distribusinya belum konsisten. Beberapa game seperti Indiana Jones dan Avowed hadir lebih lambat di PS5, sementara judul lain seperti The Outer Worlds 2 dan Fable langsung rilis di hari pertama.
Sementara itu, arah kebijakan terkait AI masih belum gamblang. Sharma sebelumnya menegaskan bahwa ia tidak akan memaksakan penggunaan AI generatif kepada developer.
Kami tidak akan membanjiri ekosistem dengan konten asal-asalan.
Dalam aspek hardware, Xbox menargetkan stabilisasi lini Xbox Series sebagai fondasi yang kuat, sekaligus menyiapkan Project Helix untuk meningkatkan performa lintas platform, baik konsol maupun PC. Perusahaan juga ingin memperluas ekosistem agar lebih fleksibel dan menjangkau lebih banyak pemain.
Di sisi konten, Xbox berencana memperkuat portofolio franchise, memperluas kolaborasi dengan pihak ketiga, serta meningkatkan investasi pada game live service. Ekspansi ke pasar berkembang, termasuk China, juga menjadi bagian dari agenda.
Untuk layanan, fokus diarahkan pada penguatan Game Pass agar lebih berkelanjutan secara bisnis. Xbox juga menargetkan peningkatan pengalaman cloud gaming serta membuka peluang akuisisi untuk mempercepat pertumbuhan.
Tak kalah penting, perusahaan berjanji akan membenahi pengalaman pengguna—mulai dari sistem pencarian, personalisasi, hingga fitur sosial—yang selama ini dinilai masih terfragmentasi.
Xbox sendiri mengakui masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah, termasuk keluhan pemain terkait harga layanan dan minimnya pembaruan fitur.
Pemain merasa frustrasi. Kehadiran kami di PC belum cukup kuat. Harga semakin sulit dijangkau. Pengalaman inti seperti pencarian, discovery, sosial, dan personalisasi masih terasa terpecah. Di saat yang sama, generasi pemain baru datang dengan ekspektasi berbeda. Mereka ingin lebih dari sekadar bermain, di mana mereka ingin menciptakan, berbagi, dan bersosialisasi dalam dunia yang mereka bentuk sendiri.
Menanggapi arah baru ini, editor The Game Business, Christopher Dring, menilai fokus pada pemain aktif harian dapat memperjelas posisi Xbox di industri.
Selama ini Xbox tampak memiliki banyak tujuan yang saling bertabrakan. Dengan fokus pada pemain aktif harian, arah bisnisnya menjadi lebih jelas, meski berpotensi mengarah pada dominasi live service dan multiplayer.
Ke depan, Xbox generasi berikutnya diposisikan sebagai ekosistem lintas perangkat yang menggabungkan konsol, PC, mobile, dan cloud. Konsol tetap menjadi fondasi, sementara teknologi cloud akan memperluas akses bermain di berbagai perangkat.
Di saat yang sama, perusahaan juga mulai menyesuaikan strategi harga. Awal pekan ini, Xbox menurunkan harga Game Pass tier tertinggi dan PC Game Pass. Di sisi lain, rencana menghadirkan seri Call of Duty terbaru ke layanan tersebut justru dibatalkan.
Dengan berbagai perubahan ini, Xbox tampaknya sedang mencari bentuk baru di tengah lanskap industri yang terus berubah—lalu, apakah langkah meninggalkan eksklusivitas penuh dan beralih ke strategi multiplatform benar-benar akan memperkuat posisi mereka di masa depan?

