Pelatih Bigetron by Vitality, Christian “Chrisjo” Jonathan Pascoal, mengungkap sejumlah keputusan di balik keberhasilan timnya menjuarai Free Fire World Series Southeast Asia (FFWS SEA) 2026 Fall. Salah satu keputusan paling penting adalah melakukan perubahan roster sebelum akhirnya membawa Bigetron meraih gelar juara di Surabaya.
Dalam wawancara yang dibagikan Garena setelah Grand Finals FFWS SEA 2026 Fall, Chrisjo mengatakan keputusan melepas beberapa pemain sebelumnya merupakan pertimbangannya sendiri. Ia mengaku tetap merasa sedih karena harus mengakhiri perjalanan bersama pemain seperti Dhikz dan Joel.
Menurut Chrisjo, roster sebelumnya sebenarnya masih memiliki kemampuan untuk membawa Bigetron lolos ke Grand Finals dan turnamen global. Namun, ia merasa tim membutuhkan komposisi berbeda untuk mengejar target yang lebih besar, yakni menjadi juara.
Dengan roster sebelumnya, menurut penilaian saya, kami bisa lolos ke Grand Finals dan lolos ke turnamen global. Namun, saya membutuhkan pemain yang bisa membantu tim ini menjadi juara.
Ia kemudian melakukan evaluasi terhadap kebutuhan tim sebelum mendatangkan pemain baru. Salah satu perubahan yang dicari adalah hadirnya pemain dengan gaya bermain lebih agresif untuk melengkapi pendekatan Bigetron.
Fellow dan Tiuszz Bawa Fleksibilitas Baru
Chrisjo menjelaskan bahwa salah satu kebutuhan utama Bigetron adalah pemain yang berani mengambil ruang dan mampu mempercepat pengambilan keputusan ketika berada di garis depan.
Menurutnya, Dhikz memiliki gaya bermain yang lebih aman dengan fokus pada makro dan visi permainan. Pendekatan tersebut sebelumnya menjadi bagian dari kekuatan Bigetron, tetapi tim lain mulai memahami dan meniru cara bermain mereka.
Karena itu, kehadiran Fellow memberikan karakter yang berbeda.
Tidak usah terlalu lama berpikir. Apa yang terlihat di depan, tabrak dan tembak. Kami membutuhkan pemain yang bisa mempercepat keputusan.
Tiuszz juga memiliki pertimbangan tersendiri. Ia disebut sudah mempunyai hubungan permainan yang baik dengan Fellow sejak keduanya berada di Academy.
Fleksibilitas tersebut kemudian kembali terlihat dalam Grand Finals. Pada Game 11, Tiuszz dimainkan untuk mendukung permainan yang lebih dekat dengan Fellow. Namun, strategi tersebut tidak berjalan sesuai rencana setelah Bigetron tereliminasi lebih awal.
Tim kemudian melakukan evaluasi di belakang panggung. Pada Game 12, Kyongg kembali dimainkan untuk menggantikan Tiuszz dan membantu Bigetron menutup pertandingan dengan hasil kuat.
Bagi Chrisjo, pergantian tersebut tidak menunjukkan bahwa salah satu pemain secara mutlak lebih baik dari pemain lainnya. Setiap pemain memiliki fungsi berbeda yang dapat digunakan sesuai kebutuhan pertandingan.
Pendekatan tersebut juga dipengaruhi oleh pengalamannya mengenal olahraga konvensional. Chrisjo menyebut keluarganya memiliki latar belakang di bidang olahraga, sementara dirinya banyak mempelajari konsep pembagian fungsi pemain dari olahraga voli.
Ia melihat setiap pemain dalam voli memiliki peran berbeda dan pergantian pemain dilakukan berdasarkan kebutuhan permainan. Prinsip tersebut kemudian ia terapkan dalam Free Fire.
Ada pemain yang dibutuhkan untuk bertahan, ada yang masuk untuk menyerang, dan ada yang dibutuhkan dalam kondisi tertentu.
Perbedaan Strategi dengan Kojaa
Selain perubahan roster, Chrisjo juga berbicara mengenai dinamika dengan Kojaa yang menjadi salah satu sosok penting di dalam tim.
Chrisjo mengakui bahwa dirinya dan Kojaa cukup sering memiliki perbedaan pendapat mengenai strategi. Keduanya terkadang mempunyai rencana berbeda ketika menghadapi pertandingan.
Menurut Chrisjo, perbedaan tersebut tidak selalu harus dihindari. Yang lebih penting adalah memastikan seluruh tim memiliki keputusan yang sama ketika pertandingan dimulai.
Ia bahkan pernah memberikan kesempatan kepada Kojaa untuk menjalankan strateginya terlebih dahulu ketika Bigetron bermain di Vietnam. Namun, perubahan pendekatan yang dilakukan saat itu dianggap terlambat sehingga tidak memberikan waktu cukup bagi tim untuk berkembang.
Dari pengalaman tersebut, Chrisjo menilai kesepakatan strategi harus dicapai sebelum pertandingan. Ketika perbedaan pendapat muncul, baik dirinya maupun Kojaa harus bersedia mengalah pada situasi tertentu.
Ada saatnya dia mengalah, ada saatnya saya juga mengalah.
Dalam struktur tim, Chrisjo tetap menjadi pihak yang mengambil keputusan akhir ketika situasi pertandingan membutuhkan kepastian. Menurutnya, kapten dapat memberikan masukan, tetapi tidak semua keputusan bisa terus diserahkan kepada kapten.
Selain Kojaa, keberadaan analis Andre juga membantu Chrisjo dalam mempersiapkan tim. Andre bertugas membantu membaca pola permainan lawan dan memiliki pengalaman menangani Tiuszz serta Fellow sejak Academy.
Chrisjo mengatakan kehadiran analis membuatnya belajar untuk tidak mengerjakan seluruh pekerjaan seorang diri. Temuan dari Andre kemudian digunakan sebagai bahan bagi Chrisjo untuk menentukan keputusan dan strategi tim.
Untuk turnamen global mendatang, Bigetron masih akan mempertahankan roster yang digunakan saat ini. Namun, Chrisjo membuka kemungkinan adanya perubahan setelahnya.
Ia mengatakan keputusan tersebut nantinya akan bergantung pada sejumlah faktor, termasuk data latihan, perkembangan pemain Academy, kebutuhan meta, serta kemampuan pemain menjalankan beberapa role.
Bagi Chrisjo, perjalanan Bigetron menuju gelar FFWS SEA 2026 Fall bukan hanya tentang satu pertandingan atau satu pemain. Perubahan roster, pembagian peran, kemampuan beradaptasi, hingga penyatuan keputusan di dalam pertandingan menjadi bagian dari proses yang akhirnya membawa Bigetron meraih gelar juara di Surabaya.

