Kesuksesan Clair Obscur: Expedition 33 tampaknya tak hanya berhenti pada deretan penghargaan yang berhasil diraihnya. Game garapan Sandfall Interactive itu kini mulai meninggalkan jejak pengaruh, dengan munculnya sejumlah judul yang dinilai memiliki pendekatan serupa. Salah satu yang paling mencuri perhatian datang dari Tiongkok lewat Sword and Fairy 4: Remake.
Game yang dikembangkan oleh UP Software tersebut baru saja merilis trailer perdananya. Meski belum tersedia versi terjemahan resmi, cuplikan yang beredar sudah cukup memberi gambaran mengenai arah pengembangannya. Sword and Fairy 4: Remake menampilkan dunia fantasi khas budaya Tiongkok, lengkap dengan lanskap luas dan kota yang hidup. Namun, yang paling mencolok justru terlihat saat pertarungan dimulai.
Dalam beberapa potongan adegan, sistem combat game ini tampak sangat mengingatkan pada Clair Obscur. Mulai dari sudut kamera, ritme pertarungan, hingga presentasi visualnya, semuanya terasa familiar. Tak sedikit yang menilai gaya bertarungnya seperti mengambil inspirasi langsung dari game besutan Sandfall Interactive tersebut.
Trailer Sword and Fairy 4: Remake pertama kali diunggah melalui kanal YouTube Gematsu. Sementara itu, versi lain juga muncul di platform Bilibili dengan judul The Legend of Sword and Fairy 4, meski belum bisa dipastikan apakah itu merupakan terjemahan resmi atau sekadar adaptasi judul. Pada paruh awal video, penonton disuguhkan eksplorasi dunia dan nuansa mitologis, sebelum akhirnya fokus beralih ke sistem pertarungan yang menjadi sorotan utama.
Meski Clair Obscur sendiri bukanlah pencetus sistem turn-based, Sandfall berhasil memberikan sentuhan berbeda lewat mekanisme parry yang presisi, koreografi serangan yang dramatis, serta gaya visual yang kuat. Unsur-unsur inilah yang tampaknya coba diadaptasi oleh Sword and Fairy 4: Remake. Bahkan, dalam beberapa momen, game ini terlihat seolah menjadi ekspansi atau versi lain dari Clair Obscur.
Reaksi komunitas pun beragam. Ada yang menilai versi orisinal Sword and Fairy keluaran 2007 lebih dekat dengan gaya Suikoden, sementara versi remake-nya justru terasa seperti “E33 versi lain”. Komentar lain menyebut bahwa kemunculan game-game dengan pendekatan serupa menunjukkan betapa cepatnya pengaruh Clair Obscur menyebar.
Meski begitu, kecil kemungkinan tren ini akan melahirkan subgenre baru layaknya “Soulslike”. Sistem turn-based sudah lama menjadi bagian dari industri game, dan Clair Obscur hanya memberi sentuhan segar yang kemudian menginspirasi pengembang lain. Kini, tinggal menunggu apakah Sword and Fairy 4: Remake mampu menghadirkan identitas kuatnya sendiri, atau sekadar menjadi bayang-bayang dari kesuksesan yang datang lebih dulu.

