Xbox mengumumkan langkah restrukturisasi besar-besaran yang akan mengubah arah bisnis perusahaan. Selain melepas empat studio pengembang, perusahaan juga mengonfirmasi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 3.000 karyawan yang akan dilakukan secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang.
Empat studio yang dipastikan berpisah dari Xbox adalah Compulsion Games, Double Fine Productions, Ninja Theory, dan Undead Labs. Keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi reset yang tengah dijalankan perusahaan untuk memperbaiki kondisi bisnis yang dinilai tidak lagi sehat.
Kebijakan itu disampaikan langsung oleh CEO Xbox, Asha Sharma, melalui surat terbuka kepada seluruh karyawan. Dalam pesannya, Sharma menjelaskan bahwa perusahaan kini menghadapi tekanan finansial yang cukup berat setelah strategi ekspansi beberapa tahun terakhir tidak menghasilkan pertumbuhan sesuai target.
Bisnis kami saat ini tidak dalam kondisi yang sehat. Margin keuntungan kami tiga hingga sepuluh kali lebih rendah dibandingkan bisnis platform dan penerbit game lain yang sejenis. Kami memasuki generasi konsol saat ini dengan basis pengguna yang lebih kecil serta struktur biaya yang lebih tinggi.
Sharma menjelaskan bahwa Xbox sebelumnya bertaruh pada pertumbuhan melalui Game Pass, strategi multi-platform, dan perluasan portofolio konten. Meski berbagai langkah tersebut berhasil menciptakan nilai bagi perusahaan, laju pertumbuhannya tidak mampu mengimbangi peningkatan biaya operasional. Di saat yang sama, bisnis inti Xbox justru terus melemah.
Kami terus menambah tim, investasi, dan waktu dengan harapan hasilnya akan membaik. Kini industri juga menghadapi krisis perangkat keras paling berat dalam sejarahnya. Kami harus melakukan reset terhadap Xbox.
Dalam restrukturisasi ini, Compulsion Games dan Double Fine akan kembali menjadi studio independen. Keduanya tetap mempertahankan hak kepemilikan atas intellectual property (IP) beserta katalog game yang telah mereka miliki. Sebelumnya, Xbox mengakuisisi Compulsion Games pada 2018, sementara Double Fine bergabung setahun setelahnya.
Di sisi lain, Ninja Theory dan Undead Labs tidak akan kembali menjadi perusahaan independen. Sharma mengungkapkan bahwa kedua studio tersebut telah mencapai kesepakatan awal untuk bergabung dengan pemilik baru yang akan mendanai penyelesaian sekaligus pengembangan Senua dan State of Decay 3. Kedua proyek tersebut masih ditargetkan meluncur pada 2027.

Hingga saat ini, Xbox belum mengungkap siapa pihak yang akan mengambil alih Ninja Theory maupun Undead Labs. Sejumlah laporan sebelumnya bahkan menyebut Xbox telah berencana melepas Ninja Theory sebelum menampilkan Senua dalam ajang Xbox Games Showcase pada Juni lalu. Presentasi tersebut diduga dilakukan untuk menarik minat calon investor atau pembeli. Sementara itu, State of Decay 3 juga kembali muncul melalui trailer terbaru setelah pertama kali diumumkan pada 2020.
Nasib Arkane Studios juga masih belum menemui kepastian. Studio yang dikenal lewat seri Dishonored tersebut kini sedang menjalani proses konsultasi dengan Works Council di Prancis guna membahas berbagai opsi strategis. Arkane saat ini diketahui tengah mengembangkan Marvel’s Blade, proyek yang sebelumnya sempat dikabarkan terancam dibatalkan.
Selain restrukturisasi studio, Xbox juga mengonfirmasi gelombang PHK yang akan berdampak pada berbagai divisi di bawah naungan perusahaan, termasuk Activision, Bethesda/Zenimax, Blizzard, King, Mojang, hingga Xbox Game Studios.
Sebanyak sekitar 3.200 karyawan akan diberhentikan sepanjang tahun fiskal 2027. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.600 orang mulai terkena PHK pada hari pengumuman ini disampaikan.
Meski memangkas ribuan karyawan, Sharma memastikan seluruh proyek dan game Xbox yang telah diumumkan kepada publik tetap akan dilanjutkan. Tidak ada satu pun proyek yang dibatalkan sebagai dampak dari restrukturisasi tersebut.
Perubahan juga terjadi di jajaran eksekutif. Helen Chiang yang sebelumnya menjabat sebagai Corporate Vice President Microsoft sekaligus memimpin Mojang kini dipromosikan menjadi Chief Operating Officer (COO) Xbox. Ia menggantikan Dave McCarthy yang resmi pensiun setelah 17 tahun berkarier di Xbox.
Di saat yang sama, Mojang dan King kini akan berada langsung di bawah pengawasan Sharma. Xbox juga akan memangkas struktur birokrasi internal dengan membatasi lapisan manajemen menjadi maksimal lima tingkat, bahkan ditargetkan hanya tiga tingkat jika memungkinkan.
Di beberapa bagian perusahaan, sebuah pekerjaan harus melewati hingga 14 lapisan manajemen. Tim platform kami kini 40 persen lebih besar dibandingkan awal generasi ini, padahal jumlah pemain dan waktu bermain justru menurun. Kompleksitas itu memperlambat pengambilan keputusan, mengaburkan akuntabilitas, dan membuat kami semakin sulit memberikan pengalaman terbaik kepada pemain.
Melalui langkah ini, Sharma berharap Xbox dapat kembali mencatat pertumbuhan pada 2027 sekaligus mewujudkan ambisi menjadi salah satu perusahaan hiburan terbesar di dunia yang mampu menjangkau lebih dari satu miliar orang setiap hari.
Sejarah dipenuhi perusahaan yang mengira umur panjang menjamin keberlangsungan mereka. Kami tidak akan menjadi salah satunya.
Menurut Anda, apakah restrukturisasi besar-besaran ini menjadi langkah yang tepat untuk mengembalikan daya saing Xbox di industri game, atau justru menjadi sinyal bahwa perusahaan sedang menghadapi tantangan yang lebih besar?

