Squaresoft memang identik dengan game RPG, tetapi ada satu judul game bernama Ehrgeiz yang menunjukkan bahwa mereka sebenarnya adalah developer yang versatile. Sebenarnya di era 90-an, Squaresoft cukup eksploratif dalam merilis game, mulai dari shooter seperti Einhänder hingga Racing Lagoon yang menjadi perwakilan game balap. Namun, yang menarik dari Ehrgeiz adalah bagaimana Squaresoft mempresentasikan game fighting-nya ini.
Melihat bagaimana Ehrgeiz ditampilkan, kami mengasumsikan bahwa Tetsuya Nomura selaku orang yang berada di mayoritas proyek Final Fantasy, berambisi untuk membuat game fighting namun tetap ingin memberikan fan service di dalamnya. Lantas bagaimana kiprah game ini di waktu itu? Apakah game ini mendapatkan resepsi yang baik? Mari simak di sini.
Latar Belakang Penggarapan Ehrgeiz: God Bless the Ring
Dekade 1990-an menjadi masa penting bagi industri video game yang mulai menghadirkan teknologi yang lebih mutakhir dan signifikan. Pada periode ini, teknologi game mulai beralih dari grafis sprite dua dimensi menuju visual poligon tiga dimensi yang lebih realistis. Di tengah perubahan besar tersebut, dua perusahaan Jepang berada di puncak dominasinya, yakni Squaresoft yang meraih kesuksesan besar berkat Final Fantasy VII pada 1997, serta Bandai Namco Entertainment yang kala itu dikenal sebagai Namco, penguasa pasar game arkade lewat popularitas seri Tekken.
Game Ehrgeiz lahir dari kerja sama besar antara kedua perusahaan tersebut. Square, yang ingin memperluas bisnisnya di luar genre RPG, menjalin kesepakatan dengan Namco untuk mengembangkan game yang dirancang khusus bagi mesin arcade Namco System 12. Proyek ini menjadi kolaborasi perdana yang menggabungkan teknologi perangkat keras Namco dengan kreativitas tim Square. Ehrgeiz pertama kali diperkenalkan ke publik dalam acara industri AOU Show pada Februari 1998 di stan pameran Namco.
Proses pengembangan game ini kemudian dipercayakan kepada DreamFactory, studio yang sebelumnya juga terlibat dalam seri game fighting berjudul Tobal.

Sementara itu, sosok penting di balik proyek ini adalah Seiichi Ishii, yang merupakan seorang desainer game yang sebelumnya berperan besar dalam penggarapan Virtua Fighter milik Sega dan Tekken generasi pertama.

Pengalaman Ishii dalam merancang sistem battle 3D dipadukan dengan desain karakter dari Tetsuya Nomura, yang juga dikenal sebagai desainer karakter Final Fantasy VII mengawali titik awal adanya sebuah game fighting dari Squaresoft bernama Ehrgeiz.

Ide Awal Pengembangan dan Eksperimen Pra-Produksi
Pada tahap awal pengembangannya, Ehrgeiz memiliki konsep yang jauh berbeda dibanding versi final yang akhirnya dirilis ke publik. Berdasarkan analisis kode sumber, file beta, dan aset dari demo awal seperti Tokyo Game Show 1997 serta JAMMA 1997, proyek ini mengalami banyak perubahan konsep, penghapusan karakter, hingga penyesuaian hak kekayaan intelektual sebelum resmi dipasarkan.
Teori Tobal 3 dan Jejak Engine Lama
Salah satu teori paling kuat yang bertebaran menyebut bahwa Ehrgeiz awalnya dirancang sebagai penerus seri Tobal. Dugaan ini muncul karena game tersebut dirancang menggunakan pengembangan engine yang sama dengan Tobal 2. Selain itu, jejaknya ditemukan dalam data internal game yang masih menyimpan referensi angka “#99” dan “#100”, yang di dunia Tobal merujuk pada nomor turnamen dalam cerita game tersebut.

Petunjuk lain juga muncul dari sisa data karakter lama. Melalui modifikasi kode tertentu, pemain game-nya dapat memunculkan animasi tersembunyi yang memperlihatkan gerakan identik dengan karakter Ill Goga dari Tobal 2. Bahkan karakter anjing bernama Django di versi final ternyata menggunakan basis data yang berasal langsung dari model anjing di Tobal 2. Alhasil, hal ini memperkuat dugaan bahwa fondasi awal Ehrgeiz memang berakar dari proyek Tobal.
Rencana Crossover dengan Tekken yang Dibatalkan
Keterlibatan Seiichi Ishii juga memunculkan spekulasi lain. Pada tahap awal, Ehrgeiz diduga sempat dirancang sebagai game crossover antara Tekken dan karakter milik Square. Analisis data versi arcade menemukan papan nama tersembunyi bertuliskan “Heihachi” dan “Devil”, yang merupakan dua karakter ikonis dari seri Tekken. Namun, tidak ditemukan model karakter atau aset visual lain yang mendukung keberadaan mereka.
Hal ini mengindikasikan bahwa ide tersebut dihentikan sejak tahap pra-produksi. Kemungkinan besar, Namco tidak ingin karakter utama Tekken digunakan dalam proyek yang secara visual dipimpin oleh Tetsuya Nomura. Ada pula kekhawatiran bahwa mencampurkan dunia Tekken dan Final Fantasy bisa mengaburkan identitas masing-masing franchise. Meski begitu, unsur penghormatan terhadap Tekken tetap hadir lewat karakter Godhand yang memiliki kemiripan konsep dengan keluarga Mishima.
Mode RPG dan Mechanics yang Berbeda dengan Game Fighting Pada Konvensional
Bagi yang tahu Ehrgeiz, game ini tampil sangat berbeda dibandingkan game fighting konvensional di eranya. Jika kebanyakan game fighting masih mengandalkan sistem pergerakan dua dimensi berbasis garis lurus atau juga dikenal sebagai side scrolling, Ehrgeiz justru memberikan kebebasan bergerak penuh dalam ruang tiga dimensi. Kita dapat berlari ke segala arah di dalam arena (free-roaming movement), sehingga konsep spacing dan zoning berubah total. Menghindari serangan tidak lagi hanya mengandalkan blocking, sidestep, atau lompatan, melainkan juga dengan berlari menjauh dari lawan untuk mencari posisi yang lebih aman.

Arenanya pun dibuat interaktif dan dinamis. Beberapa arena memiliki elevasi atau undakan berupa kotak atau dataran tinggi yang bisa dipanjat untuk, sehingga kita dapat memperoleh posisi tertentu. Selain itu, kita dapat memanfaatkan objek di sekitar arena sebagai senjata improvisasi. Pedang, kapak, tong peledak, hingga peti mati dapat diambil dan dilemparkan ke arah lawan, sehingga vibe combat lebih terasa ugal-ugalan.
Dari sisi kontrol, Ehrgeiz juga meninggalkan pendekatan khas game fighting Jepang yang identik dengan motion input rumit seperti gerakan quarter-circle ala Hadouken. Sebagai gantinya, game ini memakai sistem kontrol yang lebih sederhana dan fungsional melalui tombol High Attack, Low Attack, Guard, serta Special Action.
Walaupun kontrolnya tampak sederhana, sistem kombonya tetap memiliki kompleksitas yang cukup rumit. Ehrgeiz mewarisi beberapa pola desain dari Virtua Fighter, terutama melalui interupt mechanics dan just frame. Di sini, kita dapat membatalkan atau merangkai serangan tertentu apabila menekan tombol dengan timing yang tepat.
Salah satu fitur paling unik dalam versi PlayStation pertamanya adalah hadirnya mode Brand New Quest: The Forsaken Dungeon. Mode ini menjadi nilai jual utama karena menawarkan konsep game action RPG ala Brave Fencher Musash, di mana kita dapat menjelajahi dungeon bawah tanah, mencari loot, mengatur equipment, mengonsumsi makanan untuk meningkatkan status karakter, hingga melakukan investasi di pasar saham in-game.

Karakter Final Fantasy VII
Kehadiran karakter dari Final Fantasy VII seperti Cloud Strife, Tifa Lockhart, Sephiroth, Yuffie Kisaragi, Vincent Valentine, hingga Zack Fair di dalam Ehrgeiz bukanlah crossover semata. Di balik keputusan tersebut terdapat strategi bisnis internal yang sangat terencana dari Square dalam memanfaatkan popularitas besar Final Fantasy VII demi memperkuat posisi Ehrgeiz di pasar game fighting yang sangat kompetitif pada akhir 1990-an.
Pada masa pengembangannya, DreamFactory memang berstatus sebagai studio independen, tetapi proyek-proyek awal mereka memiliki hubungan erat dengan Square. Sebelumnya, studio ini sudah bekerja sama dengan Square melalui seri Tobal, dan pola kerja sama tersebut berlanjut ke Ehrgeiz. Square bertindak sebagai pihak yang mendanai sekaligus menerbitkan game untuk pasar konsol, sementara DreamFactory fokus pada pengembangan teknis dan desain gameplay. Hubungan ini membuat Square memiliki kontrol kreatif dan bisnis yang cukup besar terhadap arah proyek.
Untuk distribusi versi arcade, Square kemudian menggandeng Namco yang saat itu mendominasi dengan sangat kuat dalam industri mesin arcade Jepang. Ehrgeiz dirilis menggunakan papan arcade System 12 milik Namco, di mana sebuah teknologi yang juga digunakan oleh beberapa game fighting populer pada era tersebut. Kolaborasi ini penting karena Square sendiri tidak memiliki infrastruktur arcade sebesar Namco. Dengan dukungan Namco, Ehrgeiz mendapatkan akses ke jaringan arcade yang lebih luas dan peluang eksposur yang lebih besar di pusat hiburan Jepang.
Namun, tantangan terbesar tetap berada pada aspek pemasaran. Tahun 1998 merupakan periode yang sangat padat bagi genre fighting. Pasar didominasi oleh nama-nama besar seperti Tekken 3, Virtua Fighter 3, hingga Soulcalibur. Dalam situasi seperti itu, Ehrgeiz sebagai IP baru dengan gameplay eksperimental memiliki risiko besar untuk tenggelam di tengah arena pertarungan game fighting.
Square melihat peluang besar dari larisnya penjualan FFVII. Alih-alih memasarkan Ehrgeiz hanya sebagai game fighting baru, mereka memanfaatkan kekuatan IP Final Fantasy VII untuk menarik perhatian publik. Karakter-karakter populer seperti Cloud dan Tifa dimasukkan sebagai fighter tamu utama, sementara Sephiroth, Yuffie, Vincent, dan Zack hadir sebagai karakter tambahan yang bisa kita buka. Strategi ini pada dasarnya merupakan bentuk IP leverage atau penggunaan popularitas sebuah franchise besar untuk mendongkrak produk lain yang lebih berisiko secara komersial.
Tetap Hadirkan Karakter Orisinal
Meskipun kehadiran karakter dari Final Fantasy VII menjadi magnet utama pemasaran Ehrgeiz, DreamFactory ingin game-nya ini tetap hadirkan karakter orisinal. Karakter orisinalnya memiliki desain yang cukup eksentrik jika dibandingkan dengan karakter-karakter game fighting seperti Tekken, Virtua Fighter, atau SoulCalibur. Berikut daftar roster utama Ehrgeiz: God Bless the Ring:
1. Godhand atau Ken Mishima

Seorang lelaki bernama asli Ken Mishima ini merupakan mantan tentara bayaran dari organisasi misterius bernama Red Scorpion. Ia kemudian memutuskan hubungan dengan organisasi tersebut dan mendirikan Mishima Construction Co. dengan bantuan sebuah organisasi berpengaruh, serta mendapatkan lengan kanan baru yang dilengkapi senjata tersembunyi. Setelah mengetahui bahwa batu Ehrgeiz mungkin menjadi kunci rahasia keabadian, ia mengikuti Ehrgeiz Championship Tournament untuk merebut senjata tersebut.
2. Han Daehan

Han adalah bintang film laga muda sekaligus ahli Tae Kwon Do yang populer dan dikenal juga sebagai stuntman di setiap film-film yang ia bintangi. Namun, publik tidak mengetahui bahwa kaki kanannya merupakan kaki palsu. Setahun lalu, saat syuting di Timur Tengah, kakinya diselimuti asap hitam misterius hingga menghilang, meski Han masih dapat merasakan keberadaannya. Saat mencari penjelasan, Han menemukan bahwa fenomena serupa pernah terjadi setiap beberapa dekade di sekitar reruntuhan kuno. Penemuan tersebut kemudian membawanya semakin jauh ke dalam misteri yang menyelimuti wilayah tersebut.
3. Prince Doza

Doza memiliki motto, “Aku akan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalanku!” Sebagai petarung kickboxing yang tak terkalahkan, ia mulai bosan karena tidak lagi menemukan lawan sepadan. Situasi berubah setelah ia mengetahui turnamen Ehrgeiz, yang memperbolehkan penggunaan senjata dan kekuatan psikis. Meski tidak tertarik dengan rahasia di balik turnamen tersebut, Doza justru kembali bersemangat setelah menemukan lawan-lawan kuat yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
4. Wolf Girl Jo

Jo selamat dari kecelakaan pesawat di Amazon saat masih bayi dan kemudian dibesarkan oleh kawanan serigala. Berkat itu, ia memiliki kekuatan fisik hingga tiga kali lipat manusia normal. Setelah ibu serigalanya mati, Jo dikenal sebagai “gadis serigala pemakan manusia” sebelum akhirnya ditangkap dan dipenjara karena perilakunya yang agresif.
Mendengar rumor tentang Jo, Red Scorpion merekrutnya dan memberinya nama tersebut. Ia kemudian diperintahkan untuk mencari Ehrgeiz tanpa mengetahui alasan di balik misi tersebut.
5. Claire Andrews

Seorang gadis ajaib yang masuk universitas di usia 16 tahun dan menjadi mahasiswa arkeologi Koji Masuda. Meski mandiri, ia masih dianggap naif. Saat Koji memulai perjalanan, ia tiba-tiba menawarkan diri sebagai asistennya.
6. Sasuke

Sasuke merupakan seorang ninja yang bekerja sebagai agen Red Scorpion, tetapi amnesia membuatnya lupa nama dan identitas aslinya. Saat menjalankan misi untuk membunuh petualang bernama Koji Masuda, ia menemukan batu misterius pada pedang patah milik Masuda. Sasuke meyakini batu tersebut dapat mengembalikan ingatannya dan kemudian berusaha mendapatkan senjata legendaris Ehrgeiz.
7. Yoko Yoko atau Yoko Kishibojin

Yoko merupakan putri Koji Masuda, seorang arkeolog sekaligus penjelajah, dan ahli Jyujutsu aliran Kishibojin-ryu. Setelah orang tuanya bercerai ketika ia berusia 10 tahun, Yoko dibesarkan oleh ibunya dan terus mengasah kemampuan bela dirinya.
Bakat Yoko bahkan menarik perhatian ICPO (Interpol), yang kemudian merekrutnya ke dalam tim riset pertarungan jarak dekat. Ketika ayahnya tiba-tiba mengirim surat dan memintanya menjalankan tugas untuk memperoleh Ehrgeiz, Yoko juga mendapat misi dari ICPO untuk mengikuti turnamen tersebut sekaligus menyelidiki aktivitas mencurigakan di baliknya.
8. Lee Shuwen

Lee dikenal sebagai master Kempo mematikan yang mampu membunuh lawan hanya dengan satu serangan. Pendiri Hakkyoku Ken ini sebelumnya dikabarkan tewas akibat racun, tetapi dihidupkan kembali setelah menjadi subjek percobaan menggunakan ramuan legendaris yang ditemukan Red Scorpion di Mausoleum Kaisar Qin Pertama.
Alih-alih sekadar mengembalikan nyawanya, ramuan tersebut juga membuat tubuh Lee terus menua secara terbalik. Setelah hidup kembali di usia 70-an, ia menjadi sekitar 10 tahun lebih muda hanya dalam beberapa bulan. Demi menghentikan proses tersebut sebelum dirinya kembali ke kehampaan, Lee mencari kunci keabadian sekaligus mengungkap misteri reruntuhan kuno legendaris.
9. Koji Masuda

Koji Kishibojin merupakan ayah Yoko sekaligus juara Turnamen Ehrgeiz selama tiga kali berturut-turut. Ia juga seorang arkeolog yang mencari kebenaran di balik senjata kuno dan batu yang dipercaya berkaitan dengan misteri keabadian.
Dalam side quest Forsaken Dungeon, Koji bersama muridnya, Clair Andrews, menyelidiki reruntuhan kuno di Jerman yang diyakini menyimpan petunjuk tentang senjata tersebut. Keduanya kemudian menjelajahi Forsaken Dungeon dan menghadapi berbagai penjaga materia, termasuk T-Rex, Ultros, dan Minotaur.
Setelah Koji diserang hingga tak sadarkan diri, Clair melanjutkan pencarian seorang diri. Ia berhasil mengalahkan naga merah dan hitam, tetapi tewas akibat ledakan api. Koji kemudian kembali ke dungeon dan menghadapi Phoenix, penjaga terakhir, untuk mendapatkan Phoenix Down yang digunakannya untuk menghidupkan Clair. Jika Clair menjadi karakter utama, peristiwa tersebut berlangsung sebaliknya dan Koji yang dihidupkan kembali.
Tanpa diketahui Koji, pencarian mereka sebenarnya telah berakhir di tangan Yoko. Setelah mengalahkan Red Scorpion dan menghentikan aktivitas mencurigakan dalam Turnamen Ehrgeiz, Yoko mendapatkan Pedang Ehrgeiz. Batu yang selama ini dicari Koji dan Clair ternyata telah tertanam di dalam pedang tersebut.
10. Django

Django merupakan karakter yang dapat dibuka di Ehrgeiz sekaligus lawan kedua terakhir dalam game. Gaya serangannya terinspirasi dari sejumlah karakter Tobal 2, sementara warna alternatifnya menyerupai Red XIII dari Final Fantasy VII. Beberapa nama serangannya juga mengacu pada karakter dari game tersebut.
Django digambarkan sebagai makhluk mistis yang menunggu di balik reruntuhan sambil mencari kekuatan misterius. Sosoknya masih diselimuti teka-teki.
Itu dia pembahasan terkait game Ehrgeiz: God Bless the Ring. Selain game ini, kami juga membahas game retro lain untuk kamu yang ingin bernostalgia. Jadi, ikuti terus artikel dan update dari Gameformia di website dan media sosial kami.

