Antusiasme Marvel’s Spider-Man 2 tampak terlihat ketika kami melihat sosok Venom pada trailer-nya. Mungkin tak hanya kami yang berspekulasi tentang bagaimana cerita, karakter dan siapa saja villain yang hadir selain Venom di sekuel game manusia laba-laba versi Insomniac ini. Ketika game ini rilis, ekspektasi pun terbayar. Banyak gamers yang puas akan presentasi cerita, evolusi gameplay, beserta grafis yang ditawarkan oleh Spider-Man 2.
Kami sendiri juga merasa konten yang disajikan oleh game pahlawan super garapan Insomniac ini lebih padat dibandingkan prekuelnya. Selain itu, tuturan cerita yang ditawarkan juga sangat menarik untuk diikuti. Meski game ini bukanlah game baru, kami akan memberikan apresiasi besar terhadap Spider-Man 2 ini, lantaran semua hal yang ditawarkan di game ini begitu apik. Lalu, apa saja aspek yang membuat game satu ini solid?
Reuni dengan Sahabat Lama, Harry Osborn
Kisi-kisi cerita sekuel Spider-Man sebenarnya sudah dapat kita lihat di pertengahan dan bagian akhir Spider-Man pertama. Peter Parker dan Mary Jane Watson (MJ) sudah lama tidak bertemu dengan sahabat mereka sewaktu duduk di bangku kuliah, Harry Osborn. Yang mereka tahu selama ini, Harry sedang pergi ke Eropa. Nyatanya, Harry masih berada di New York, di dalam penthouse keluarga Osborne. Tahu tubuhnya rapuh, sang ayah, Norman Osborn memasukan ke dalam tubuhnya semacam benda kental berwarna hitam yang ditengarai mampu membuat tubuh Harry normal seperti semula.

Di sisi lain, Peter baru saja mendapatkan pekerjaan baru sebagai guru Fisika di sebuah SMA, di mana Miles Morales mengenyam pendidikan di situ. Peter tak hanya menjadi tutor Miles dalam menjadi Spider-Man yang lebih matang, tetapi juga menjadi guru di sekolah Miles. Entah mengapa kesialan terus menimpa kehidupannya, di hari pertama ia mengajar, sebuah peristiwa yang menuntutnya untuk menjadi manusia laba-laba lagi terjadi lagi. Flint Marko, sosok yang dikenal sebagai Sandman, sedang mengamuk di tengah-tengah kota New York. Amukannya tersebut sampai terasa di sekolah tempat Peter mengajar. Penanda amukan Marko yang ditandai oleh pasir yang berterbangan, di rasakan oleh Miles. Sontak Miles bersama Peter bersiap sedia untuk kembali menjadi Spider-Man.

Ulah Flint Marko membuat sebagian kota New York tertutupi oleh pasir. Peter dan Miles pun harus mencari solusi agar Marko bisa menghentikan tindakan berbahayanya tersebut. Amukannya ternyata bukanlah tanpa sebab. Ia merasa gelisah akan ancaman sosok misterius pemburu makhluk dan hewan eksotis bernama Kraven. Karena Kraven, villain yang memiliki julukan Sandman ini merasa keselamatan dirinya dan anaknya terancam. Di sinilah Peter dan Miles harus menjaga kota New York yang akan dikoyak-koyak oleh Kraven. Sayangnya, keberhasilan menumbangkan Flint Marko, membuat Peter dipecat lantaran dianggap kabur di tengah jam pelajaran. Kekuatan besarnya seperti sebuah mujizat sekaligus kutukan baginya. Pekerjaan yang ia idam-idamkan lenyap dalam waktu sekejap.

Selang beberapa waktu, Peter harus membereskan rumah May Parker yang menjadi tanggung jawabnya sekarang. Dengan sang kekasih, Mary Jane Watson ia mulai menata rumah sekaligus hidupnya. Sewaktu membereskan rumahnya, suara ketukan terdengar dari pintu rumah tersebut. Dan, siapa orang yang mengetuk pintu tersebut? Yup, ia kawan lama Peter dan MJ, Harry Osborn. Akan tetapi, Peter dan MJ melihat sedikit perbedaan pada Harry. Tubuhnya tidak sesehat dulu dan ia menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Lantas, bagaimana kelanjutan kisah persahabatan mereka?
Dua Spider-Man dengan Porsi yang Seimbang
Menaruh dua Spider-Man di sekuelnya, Insomniac nampaknya ingin melanjutkan perjalanan Miles Morales pasca DLC game pertamanya tanpa ingin menyingkirkan keberadaan Peter Parker. Alhasil, kami merasa di sekuel Spider-Man ini, entah Peter maupun Miles keduanya memiliki porsi yang seimbang. Pada misi utama, kita akan mendapatkan misi dengan Miles sebagai karakter sentralnya. Begitu juga Peter. Sosok Peter di sini bukan hanya menjadi tokoh utama tetapi sosok kakak yang baik bagi Miles.

Yang membuatnya semakin menarik, adalah adanya character development dari Peter Parker, sang Spider-Man senior. Salah satu trailer yang rilis sebelum game ini diluncurkan menampilkan Spider-Man Peter Parker tampil dengan suit Symbiote. Suit ini bukan sekadar memberikan kekuatan tambahan nan superior bagi Peter, tetapi juga mengubah karakternya. Jika, kamu familiar dengan kisah Spider-Man original atau versi Sam Raimi, Peter Parker digambarkan menjadi sosok yang angkuh dan juga sangat agresif sewaktu Symbiote menjadikan ia inangnya.
Miles pun juga memiliki pengembangan karakter yang menarik. Kejadian ayahnya terbunuh sewaktu Norman Osborn melakukan kampanye Walikota New York, menumbuhkan dendam yang begitu kesumat akan Martin Li. Namun, perjalanan menuju akhir cerita, Miles mampu memaafkan demi melakukan sesuatu yang lebih besar.

Porsi antara Peter Parker dan Miles Morales yang seimbang membuat Marvel’s Spider-Man 2 game yang sangat apik dalam penulisan cerita. Selain itu, meski keduanya adalah Spider-Man, Miles dan Peter memiliki gaya combat dan vibes yang berbeda. Miles di sini lebih lincah dibandingkan Peter. Ditambah lagi, Spider-Man muda ini memiliki kekuatan listrik bernama bio-electric yang dapat membantu selama pertarungan.

Sementara Peter hadir dengan Advanced Suit 2.0 yang disertai dengan Spider-Arms. Kemampuan ini sangat powerful untuk menghajar musuh dalam jumlah banyak. Ditambah lagi, Peter dilengkapi dengan gadget yang juga sangat membantu melumpuhkan segala jenis musuh. Perbedaan gaya ini memiliki pengaruh bagi kita sebagai pemain. Ketika menggunakan Peter, kita akan merasakan combat yang lebih ‘berat’ dan langsung, tetapi dengan damage yang cukup signifikan. Sedangkan jika menggunakan Miles, kita akan melihat lebih beragam animasi karena ketangkasan dan kelincahannya. Ada satu lagi fitur menarik yang ditawarkan oleh Spider-Man 2, yakni Web Wings yang membantu menjelajahi kota New York dengan lebih cepat.
Disertai dengan Fitur Parry
Tampaknya, fitur parry akan menjadi unsur penting di game beberapa tahun belakangan dan juga ke depan. Insomniac di sini tidak hanya sekadar ikut tren game kebanyakan yang dilengkapi dengan sistem ini, melainkan juga bisa menerapkan sistem ini dengan sempurna. Sistem parry di sini akan menambahkan intensitas bertarung dengan musuh, terutama yang ukurannya besar.
Peter dan Miles memiliki aplikasi sistem ini dengan perbedaan yang cukup mencolok. Apalagi di Spider-Man 2, Peter memiliki 3 suit utama: Advanced Suit 2.0, Symbiote/Black Suit, dan Anti-Venom Suit. Jika Advanced Suit 2.0 memanfaatkan Spider-Arms, Symbiote dan Anti-Venom suit memiliki serangan ber-damage tinggi dari kekuatan organik dua jenis suit tersebut. Sistem parry pada Miles akan memanfaatkan secara penuh kekuatan Bio-Electric-nya. Musuh akan mundur akibat listri yang dikeluarkan dari tubuh Miles. Kendari berbeda dalam penerapannya, sistem parry ini sangat memudahkan kita untuk memberikan combo hit yang lebih banyak ke musuh ketika musuh kehilangan fokus seketika.
Misi Mary Jane yang Tak Kalah Seru
MJ kembali beraksi dalam beberapa skenario di game ini. Tentu saja, masih sama dengan sebelumnya, yakni misi menyelinap ala game stealth. MJ tetap dilengkapi dengan Stun Gun sebagai senjata utamanya, tetapi yang ini adalah versi upgrade agar bisa melumpuhkan para symbiote yang menguasai tubuh manusia di kota New York. Dalam beberapa kesempatan, MJ juga bisa menyerang musuh di hadapannya secara langsung.
Menjadi Venom: Sebentar tapi Fun
Di Spider-Man 2 ini, kita diberi kesempatan untuk bermain sebagai Venom. Meski hanya sebentar, bagian ini begitu fun bagi kami. Dengan tubuhnya yang besar dan kecepatan yang seperti kilat, Venom akan sangat sulit dikalahkan dengan para musuh. Venom hadir dengan mechanics brute force yang tak kenal ampun. Kelelahan berstrategi ketika bermain sebagai Peter dan Miles cukup bisa menyegarkan otak kita kembali ketika kita bermain sebagai Venom.
Lebih Cantik, Lebih Hidup, dan Lebih Luas
Melihat bagaimana visual yang dipresentasikan oleh Spider-Man 2, kami bisa menyimpulkan bahwa versi Remastered kemarin masih belum bisa memanfaatkan tenaga yang ditawarkan oleh konsol generasi sekarang. Meski kami memainkan versi PC-nya, banyak konfigurasi yang lebih detail yang disajikan pada Spider-Man. Mulai dari ekspresi yang lebih hidup, rambut, pori-pori kulit yang lebih detail, dan material kostum kedua Spider-Man ini dapat terlihat lebih detail.

Detail lain yang membuatnya makin menarik adalah efek kerusakan ketika health points dalam kondisi kritis. Selain ditandai dengan layar yang memerah, efek rusak pada kostum Spider-Man juga mengingatkan kita untuk melakukan recovery kesehatan para Spider-Man ini. Efek kotor penuh debu pada kostum setelah bertarung dengan gerombolan pasukan anak buah Sandman membuatnya semakin realistis.
Kota New York dalam sekuel game Spider-Man garapan Insomniac ini terasa jauh lebih luas. Kini, kita bisa menyeberangi jembatan yang menghubungkan Manhattan dengan wilayah baru seperti Brooklyn dan Queens. Dalam Spider-Man 2, New York juga tampil semakin hidup berkat lalu lintas dan kepadatan penduduk yang lebih realistis. Ditambah lagi, teknologi ray tracing turut mempercantik visual game ini dengan pilihan konfigurasinya.
Simpulan
Sebagai sekuel game superhero yang menjadi tonggak baru game dengan genre ini, Spider-Man 2 mampu melampaui apa yang prekuel pertamanya berikan. Perluasan map, konten ekstra, dan juga penulisan cerita yang baik membuat Spider-Man 2 layak dipertimbangakan, tidak hanya dalam ranah game superhero, tetapi juga game action-adventure. Dibalik segala kelebihannya, Spider-Man 2 masih meninggalkan beberapa hal yang menurut kami sebenarnya tidak begitu spesial, terutama pada segi side mission. Side Mission di sini terasa seperti pengulangan pendahulunya. Tidak ada pembaharuan yang terlihat berarti di sekuelnya ini.
Selain game satu ini, kami juga sajikan review lain yang tak kalah menarik. Maka, jangan lupa untuk terus ikuti Gameformia di media sosial dan website kami!

